Love Never Lies (Part 1)

Standar

Love Never Lies

-

-

Main Cast :

Seo JooHyun

Luhan

Chanyeol

Baekhyun

Other Cast:

Suho

Kangta

Jessica

Tiffany

-

-

Ost. That One Person, You (Jessica SNSD)

Untitled-2

Jika banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan di dunia ini,

mencintaimu adalah satu diantaranya yang benar…

Di sebuah pantai nampak seorang yeoja sedang berjalan-jalan menelusuri pantai seorang diri. Sesekali ia sengaja membiarkan kakinya tersapu ombak, dan membiarkan angin menyibakkan rambut hitam panjangnya.

Drrtt…drtt…

Terdengar bunyi panggilan dari handphone yeoja tersebut. Sekilas ia lihat layar handphonenya, tertera nama Chanyeol disana. Untuk beberapa detik yeoja tersebut nampak ragu mengangkatnya, namun pada akhirnya ia memutuskan menerima panggilan tersebut.

“Hallo…” jawab yeoja tersebut sembari berjalan menjauhi pantai.

“YA!! SEO JOOHYUN!! Thanks God akhirnya kamu mau mengangkat teleponku. Tidak tahukah kamu, aku dan Baeki cemas selama 3 hari ini? Kamu menghilang tanpa kabar.” Cerocos suara berat Chanyeol, disusul dengan kisruh-kisruh suara namja satunya lagi.

“Seohyun mengangkat teleponnya? Sedang dimana dia sekarang? Ppali sinikan hp’nya.” Bisik-bisik suara namja satunya lagi.

“Baeki juga ada disampingmu?” tanya Seohyun.

“Iya ada di sampingku. Jebal Seohyun beritahu kami, kau ada dimana sekarang? Kamu baik-baik saja?” jawab Chanyeol dengan nada cemas.

Lalu Seohyun melepaskan handphone dari telinganya, ia rentangkan handphonenya ke arah depan. Besamaan dengan itu Chanyeol bisa mendengar suara deburan ombak di pantai.

“Kau dengar Yeol? Aku ada disini sejak tiga hari yang lalu.” Ujar Seohyun kembali menempelkan handphone ke telinganya.

“Pantai? Jeongmal? Kau ada di pantai sekarang?” Tanya Chanyeol tak yakin.

“Hah pantai? Pantai mana? Bersama siapa dia disana? Tanyakan ya CHANYEOL!!” teriak suara Baekhyun mampu terdengar juga oleh Seohyun.

“Ampun deh, kamu cerewet sekali sih Baek! Ini aku juga sedang bertanya dengan Seohyun, sabaran kek dan jangan teriak-teriak gitu!” Protes Chanyeol terhadap makhluk cerewet dan lebih pendek yang ada di depannya itu.

“Haahaha, kalian masih saja bertengkar, katanya mencemaskan aku? Kojimal…” celetuk Seohyun.

“Biasa, belatung ini berisik sekali. Seo, jebal beritahu dengan pasti kamu ada di pantai mana? Biar aku dan Baekhyun menjemputmu.”

“Arasho…” Pada akhirnya Seohyun memberitahukan tempat persenyembunyiannya selama 3 hari ini kepada Chanyeol dan Baekhyun.

“Nde…aku dan Baekhyun berangkat sekarang, kau tunggu kami! Jangan kemana-mana!”

“Eh, tunggu Yeol…” Potong Seohyun. Namun nampaknya Seohyun ragu untuk meneruskan kalimatnya.

“Ya? Kenapa?” tanya Chanyeol yang heran karena tiba-tiba Seohyun terdiam di seberang telepon sana.

“Ah, tidak jadi…kalian hati-hatilah. Aku tidak akan lari lagi.”

Lalu telepon tertutup.

Seohyun diam memandang laut di depannya. Cahaya matahari menimpa pasir sehingga tampak seperti kumparan berlian yang berkelip-kelip.

“Aku, tadi ingin menanyakan apakah orang itu juga mencariku? Apakah dia juga mencemaskan aku seperti Chanyeol dan Baeki mencemaskanku? Ah…babo…bodoh sekali jika aku berharap dia masih peduli denganku setelah kejadian di malam itu.” Seohyun berbicara dalam hati. Masih teringat jelas kejadian paling menyedihkan dalam hidupnya di malam itu. Kejadian yang membawanya ke pantai ini, kejadian yang membuatnya berlari. Melarikan diri.

Flashback On…

Namanya Seo Joo Hyun, biasa disapa Seohyun. Ia adalah siswi tingkat akhir yang memiliki kecerdasan biasa-biasa saja, penampilan fisik yang biasa-biasa saja dengan rambut kecokelatan yang selalu diikat ekor kuda dan bando rusa favoritnya. Kemampuan olahraga yang biasa-biasa saja, pokoknya Seohyun adalah pribadi yang biasa-biasa saja. Kelebihannya hanya satu jika bisa dibilang, ia adalah pribadi yang supel, ramah, periang, dan ringan tangan. Ia bersekolah dengan dua sahabat masa kecilnya, yakni Park Chanyeol dan Byun Baekhyun. Meskipun tidak pernah satu kelas, atau jurusan, mereka bertiga selalu bersama baik berangkat sekolah, istirahat, pulang sekolah atau kegiatan ekstrakurikuler. Sejak dulu Chanyeol dan Baekhyun sudah sangat menyukai Seohyun, dua namja yang berbeda selera dan karakter itu sama-sama sepakat bahwa Seohyun adalah gadis yang menarik perhatian. Rasa suka mereka tidak pernah diungkapkan, baik Chanyeol maupun Baekhyun juga tidak saling tahu bahwa mereka mencintai satu yeoja yang sama.

Di Sekolah yang cukup elit di kawasan Seoul, Seohyun terbilang lemah prestasi. Bahkan ia tidak memiliki satu pun jenis kegiatan ekstrakurikuler yang bisa diikuti. Dulu sih pada tahun pertama ia mencoba mengikuti modern dance, namun ia mengundurkan diri karena tidak merasa memiliki bakat. Lalu ia berpindah eskul teater, lagi-lagi di kelompok teater Seohyun hanya menjadi pembantu umum alias seksi sibuk yang membantu anggota lainnya. Pada akhirnya ia memutuskan masuk tim Basket pria yang diikuti Chanyeol, bukan menjadi pemain melainkan menjadi ketua tim penyorak! Dan Seohyun merasa puas dan bangga akan predikatnya tersebut karena ia selalu bisa menyemangati sahabatnya jika sedang bertanding. Lalu demi menjaga keadilan dan pencegahan kecemburuan sosial, Seohyun pun mendirikan fansklub band sekolah yang dimana Baekhyun menjadi vokalisnya.

“Kau tidak ingin masuk eskul apa kek gitu, Seo? Bukankah di akhir semester ada penilaian terhadap kegiatan di luar kelas juga ya?” tanya Baekhyun pada suatu ketika mereka bertiga sedang asik beristirahat di taman Sekolah.

“Heh pabo, Seohyun itu kan sudah sangat sibuk di klub basketku dan klub bandmu kan? Buat apalagi dia ikut eskul. Ya gak Seo?” jawab Chanyeol.

“Nde…aku rasa sudah cukup menjadi orang yang paling aktif mendukung si kapten tim basket dengan si vokalis band sekolah kita ini!” jawab Seohyun renyah sembari menepuk-nepuk pundak Chanyeol dan Baekhyun.

“Gomawo, Seohyunnie…berkat dukunganmu yang selalu ada, aku berhasil menjuarai beberapa turnamen di beberapa musim.” Ujar Chanyeol dengan senyum tulus kepada Seohyun.

“Iya, aku pun begitu. Uri Seohyun selalu ada buat kita, bahkan pada waktu suaraku hilang karena radang tenggorokan kau merawatku hingga pulih. Sincha neomu gomawo…” Timpal Baekhyun.

“Kalian pikir selama ini aku bekerja dengan gratis? Heh?” ucap Seohyun semabari memasang mimik wajah serius.

“Hahahha, kamu mau minta kami mentraktirmu kan?” tawa Chanyeol.

“Beressss!!! Hari ini sehabis sekolah kita akan makan-makan, semua akan ditanggung Tuan Park Chanyeol!” teriak Baekhyun yang langsung dapat sambutan keplakan dari Chanyeol.

Lalu mereka bertiga tertawa seru. Tanpa mereka sadari, ada seorang namja yang sedari tadi terdiam memerhatikan maupun mendengar obrolan mereka bertiga. Wajah namja itu tanpa ekspresi dan nampak dingin. Namun rupanya, Chanyeol menyadari ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka.

“Ssstt…lihat dia. Sepertinya ia menguping obrolan kita.” Bisik Chanyeol.

“Hah? Siapa?” jawab Baekhyun sembari mengikuti arah mata Chanyeol yang tengah menatap namja di kejauhan itu. Namja itu rupanya tahu bahwa mereka menyadari keadaannya, dengan cepat ia beranjak meninggalkan taman.

“Oh, murid baru itu ya? Bukankah dia sekelas denganmu, Seo?” tanya Baekhyun.

Seohyun pun lama memandang namja yang sudah menghilang itu. Dia memang mengenali sosok yang dimaksud oleh Chanyeol dan Baekhyun.

“Iya, dia teman sekelasku. Namanya Luhan, ia murid pindahan dari China…”

“Aneh sekali cara dia menatap kita tadi.”

“Tidak usah dicemaskan, dia memang tipe orang yang dingin. Meski sekelas aku pun belum pernah bertegur sapa dengannya.”

“Oh…” Ujar Baekhyun dan Chanyeol berbarengan.

Di ruang guru terlihat Luhan sedang berbincang-bincang dengan wali kelasnya yaitu Suho Songsaenim.

“Tidak bisa begitu Luhan-ssi, kamu harus setidaknya memiliki satu macam kegiatan untuk mendapatkan penilaian.” Ujar Suho songsaenim kepada Luhan.

“Tetapi pak, saya sama sekali tidak tertarik mengikuti kegiatan yang ada di sekolah sini.” Jawab Luhan dengan tegas.

Seohyun yang tidak sengaja lewat depan kantor guru mendengar percakapan antara wali kelasnya dengan Luhan.

“Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus memiliki kegiatan eskul minimal sebulan untuk menjadi riwayat kegiatan kamu di sekolah ini. Ini penting dan sudah menjadi peraturan sekolah. Mengerti?”

“Baik Pak, saya mengerti…”

“Nanti kelasmu ada pelajaran olahraga kan? Bapak akan mencoba jenis olahraga apa yang kamu minati. Kita akan mulai dari keolahragaan karena kamu laki-laki.”

“Iya pak”, lagi-lagi Luhan menjawab dengan tidak semangat.

Seohyun pun melihat Luhan keluar dari ruangan guru, ada denyut-denyut yang ia rasakan di hatinya tiap kali ia melihat Luhan. Itu sudah Seohyun sadari sejak Luhan pertama kali memperkenalkan dirinya di depan kelas pada saat ia pertama kali bersekolah di Seoul High School.

Seohyun belum pernah sekalipun tertarik ataupun jatuh cinta dengan seorang cowok. Baru pertamakalinya ini ia merasakan perasaan berdebar ketika ia melihat Luhan, sosok cowok dingin yang bahkan barangkali tidak pernah menyadari Seohyun ada. Seohyun sudah memastikan ini perasaan jatuh cinta ketika ia bertanya dengan Eonni-nya, Taeyeon. Bahwa benar adanya, ketika kita merasakan aliran darah seolah tidak berjalan dengan semestinya, sehingga membuat debaran yang hebat di dada, lalu tanpa disadari kita tersenyum sendiri membayangkannya, maka sudah pasti 100% itu adalah tanda-tanda jatuh cinta.

-

-

Pelajaran olahraga dimulai di lapangan utama sekolah.

Seohyun sedang asik duduk memandang Luhan yang sedang men-drible bola basket. Rupanya Luhan sangat menguasai olahraga bola basket. Bahkan Suho sosaengnim sampai berdecak kagum dengan kelihaian Luhan.

Tiba- tiba saja, BUKKK!!!

Bola basket melayang begitu saja mengenai kepala Seohyun yang sedang terbengong-bengong melihat Luhan. Sampai ia tidak sadar bahwa dari sisi yang lainnya, beberapa siswa juga sedang bermain basket.

“Kamu gak apa-apa?” Tanya Luhan yang melihat kejadian Seohyun terkena lemparan bola, dan langsung menghampirinya.

Seohyun kaget bukan main karena Luhan menghampiri dirinya dan menanyakan keadaannya.

“Ah, gwenchanayo…” jawab Seohyun sembari mengusap-usap kepalanya.

“Benar??” tanya Luhan lagi yang dijawab anggukan oleh Seohyun.

“YA!! Sehun-ssi jika kamu belum bisa bermain bola, jangan kepalaku yang dijadikan sasaran. Huhu…” teriak Seohyun kepada temannya yang mengakibatkan kepalanya berciuman dengan bola basket (?).

“Hehehe, mianhe Seohyun-aah…” balas Sehun yang rupanya tidak merasa bersalah dan malah cengengesan.

“Memar?” lirih Luhan.

“Ayo ikut!” Luhan menarik tangan Seohyun untuk mengikutinya.

“heh?”  Seohyun hanya menurut ketika tangannya ditarik oleh Luhan menuju ke arah ruangan kesehatan.

“Duduk sini dulu.” Sesampainya mereka di UKS, Luhan langsung pergi lalu tak berapa lama kembali dengan membawa sekantong plastik es batu.

“Kamu mau ngapain?” tanya Seohyun.

“Sini biar aku kompres memarmu di kepala dengan es batu ini, Miss SeoJooHyun.”

Lalu Luhan mulai mengompres kepala Seohyun yang tadi kena sasaran bola basket yang dilempar Sehun.

“Hanya memar sedikit saja, kenapa harus mengompresku segala?”

“Aku tidak tahan melihat orang terluka kesakitan…” jawab Luhan seadanya.

Dan entah kenapa, hati Seohyun mulai berdebar lagi mendengar jawaban itu. Terlebih posisi mereka sekarang amatlah dekat, Seohyun bisa rasakan kelembutan tangan Luhan menyentuh pucuk kepalanya.

Mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Seohyun meraba hatinya. Dan aku gembira hari ini karena mengetahui satu hal : dia tahu namaku.

Beberapa hari setelah kejadian di UKS tersebut, Seohyun dan Luhan tidak pernah berbincang lagi. Luhan memang tipe murid yang pendiam dan memiliki dunianya sendiri. Namun, pada suatu hari semua berubah ketika keputusan Suho songsaenim memasukkan Luhan ke tim basket sekolah dan juga klub musik sekolah. Ini dikarenakan ternyata setelah di test uji bakat, Luhan membuat guru-guru terutama guru Ekstrakurikuler terkesan dengan  bakatnya yang sangat baik di bidang keolahragaan dan kesenian. Ia bisa bermain sepak bola, bola basket, juga bisa bermain alat musik gitar sembari bernyanyi.

Melihat bakat Luhan yang mumpuni, tentu saja para guru memintanya untuk ikut bergabung karena berguna untuk kepentingan prestasi sekolah. Luhan yang awalnya tidak terlalu mengambil minat pada akhirnya menyerah dengan keputusan para guru. Tentu saja dengan masuknya Luhan ke tim basket membuatnya menjadi terkenal di kalangan siswa, terutawa siswa cewek.

Tiap saat Luhan sedang latihan basket di lapangan, para siswi-siswi itu setia menungguinya di pinggir lapangan dengan sesekali meneriakkan “Luhan Oppa”. Seohyun menyadari perkembangan baik Luhan, ia melihat Luhan tidak sekaku dulu saat awal-awal menjadi murid baru. Meski masih terkesan dingin, namun Luhan sudah mulai terbiasa rileks mempertontonkan wajahnya di depan banyak siswa. Seohyun pun makin hari semakin memiliki perasaan dengan namja itu, apalagi kini Luhan satu tim dengan Chanyeol, yang membuat Seohyun makin bersemangat menjadi supporter.

Di lapangan basket,

“Kyaaa!!! Luhan Oppa, lambaikan tanganmu jebaaaall.” Teriak salah satu siswi bernama Jessica yang termasuk dalam jajaran yeoja famous di Sekolah Seohyun. Ia bersahabat karib dengan Tiffany yang sama famousnya. Jessica diketahui baru saja putus dengan Kris, si ketua Osis dan sekarang nampak sedang tergila-gila dengan Luhan. Berbeda dengan Luhan, Tiffany sejak dulu menyukai Chanyeol.

“Luhan Oppa, mengapa kamu sangat dingin? Tidakkah kau tahu sikapmu bisa membuat seorang gadis bunuh diri?” Ucap Jessica.

“Aissh Sica, kau lebay sekali sih.” Balas Tiffany namun diacuhkan oleh Jessica.

“LUHAN OPPA!!!!” Jessica makin menjadi-jadi, teriakkanya sontak menjadi perhatian yang ada di lapangan itu. Termasuk Seohyun yang sedang teriak-teriak juga menyemangati Chanyeol.

“Ya Jessica-ssi suaramu seperti suara dolphin!” ketus Seohyun. Jessica malah memasang wajah jutek andalannya kepada Seohyun.

“Mianhe, Seohyun-ssi, Jessica sedang marah karena namja bernomor punggung sebelas (Luhan) itu tidak juga membalas perhatiannya. Oiya, bagaimana apakah salamku untuk sahabatmu Chanyeol sudah disampaikan?” tanya Tiffany.

“Sudah,” jawab Seohyun singkat. Seohyun memang malas sekali berurusan dengan dua yeoja super freak itu.

“Jeongmal? Aaah, lalu?” Tiffany antusias sekali dengan jawaban lanjutan Seohyun. Di sisi lain, Jessica mendengus kesal.

“Tidak ada lalu, Tiffany-ssi…”

“Mmm, maksudku apa tanggapan Chanyeol?”

“Dia hanya diam saja tidak mempunyai tanggapan.”

“Argghh, kau pasti berbohong.” Ketus Tiffany sembari berlalu.

Lalu tiba-tiba saja suasana bergemuruh oleh pekikkan para siswi. Diakibatkan Luhan yang membalas senyuman mereka, dan sedetik melambaikan tangannya.

“Aish, dia sepertinya menikmati sekali diidolakan seperti itu,” batin Seohyun.

“PARK CHANYEOL, HWAITING !!” Seohyun kembali berteriak mendukung Chanyeol, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedang menatapnya tajam. Tajam namun lembut menatap Seohyun yang sedang berdiri di atas tribun sana…

-

-

Seohyun, Chanyeol, dan Baekhyun sedang berkumpul…

“Aku benar-benar benci murid baru itu!” teriak Chanyeol begitu kesalnya, ia hempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu kediaman Seo.

“Jadi tentang rumor itu benar?” tanya Baekhyun.

“Bukan lagi hanya menjadi rumor, Baek..”

“Rumor apa yang kalian maksud?” kali ini Seohyun datang dari arah dapur sembari membawakan minuman.

“Kau benar tidak tahu?” tanya balik Baekhyun.

“Nde, apa maksudnya?”

“Chanyeol, dia terancam harus melepas jabatannya sebagai kapten tim inti.” Jelas Baekhyun dibarengi helaan nafas Chanyeol.

“Sincha??”

“Iya, pelatih bilang performaku menurun. Minggu depan kompetisi dimulai, dan tim membutuhkan sosok kapten yang mampu membawa mereka menjuarai kompetisi musim ini.” Ujar Chanyeol lemas.

“Lalu? Luhan menjadi kandidatnya?”

“Iya, besok sore aku akan sparing dengannya untuk menentukkan yang terbaik dari kami.”

“Tenang Yeol, kamu pasti akan tetap menjadi kapten!” Hibur Baekhyun.

“Aku benar-benar membencinya, bukan hanya karena dia sainganku. Tetapi sikapnya yang angkuh dan tidak mau berbaur itu huh!”

Seohyun hanya diam saja, ia melihat Chanyeol sahabatnya itu benar-benar tidak suka terhadap Luhan. Padahal Seohyun tahu benar, Chanyeol adalah sosok yang riang dan berteman baik dengan siapa saja. Jarang sekali Chanyeol membenci orang, dan kali ini sahabatnya itu membenci orang yang ia sukai diam-diam.

-

-

Chanyeol pada akhirnya kalah dalam sparing dengan Luhan, dengan begitu Luhan kini resmi menjadi kapten tim basket, seiring dengan itu semakin naiklah pamornya sebagai predikat “kapten tim basket”.

-

-

Di kelas Musik,

Pada jam kesenian yang diajar oleh Kangta Songsaenim kali ini adalah tes ketepatan nada dalam sebuah lagu. Setiap siswa di test untuk bernyanyi dengan nada yang tepat secara bergiliran.

“Ah, Seohyun kamu tidak mengalami perkembangan dalam titik nada, belajar lagi yang rajin di rumah.” Komentar Kangta hanya mendapat reaksi senyum gak jelas dari Seohyun. Seohyun memang sangat benci pelajaran musik, walaupun ia sangat hobi mendengarkan musik.

Ketika Seohyun kembali ke tempat duduknya, sekilas ia melihat Luhan. Dan ternyata Luhan pun sedang melihat ke arahnya sambil tertawa kecil. Rupanya Luhan lucu ketika memerhatikan Seohyun bernyayi dan dimarahi oleh Kangta.

Ketika pada giliran Luhan menyanyi, semua siswa yang ada di kelas itu sangat terkesima. Suara Luhan sangat bagus, nadanya pun selalu tepat tanpa ada yang meleset.

“Suaramu khas, dan teknik vokalmu seperti sudah terlatih. Apakah kamu pernah mengikuti les vokal Luhan?” Ujar Kangta mengomentari Luhan.

“Aniya, saya tidak pernah mengikuti les vokal. Hanya saja, ibu saya guru piano dulu sewaktu kecil saya suka diajarkan mengenai tangga nada.” Jawab Luhan.

“Baiklah, saya terkesan denganmu.”

“Kamshamida…”.

Seohyun di bangkunya juga sama dengan siswa yang lain, sangat terkesima dengan bakat Luhan. Seseorang yang nyaris sempurna, tampan, jago olahraga, dan bisa bernyanyi.

DRRTT…DRRTT…

Terdengar bunyi beep beep dari ponsel Seohyun, pesan singkat dari Chanyeol.

Sahabatmu sakit, suaranya hilang lagi. Hari ini dia tidak datang ke sekolah.

Seohyun mengehela nafas panjang, tak habis pikir mengapa seorang vokalis band seperti Baekhyun seringkali sakit kehilangan suara.

“Ah sincha, benar-benar merepotkan…” bisik Seohyun sembari membalas pesan Chanyeol.

Arasho, nanti sepulang sekolah aku ke rumahnya.

-

-

 

“Baeki, kan sudah seringkali aku ingatkan untuk mengurangi kebiasaanmu memakan makanan pedas-pedas dan minum yang dingin-dingin. Dan tolonglah berhenti dari hobimu yang suka mengunyah es batu. Sekarang kau sakit radang tenggorokan lagi, padahal besok lusa ada jadwal manggung di pembukaan kompetisi Basket se-Seoul.” Cerocos Seohyun kepada Baekhyun yang tidak bisa membalas ocehan Seohyun dikarenakan suaranya hilang sejak kemarin sore.

“aaaa…a…aa…” Baekhyun nampak ingin berbicara namun sulit, tak ada satupun kata bisa keluar dari kerongkongannya.

“Nih, tulis di kertas ini kau mau bicara apa.” Ucap Seohyun sembari memberikan Baekhyun kertas dan pena.

Mianhe merepotkanmu, Seo

“Iya tidak apa-apa, aku buatkan air jeruk nipis dulu ya yang hangat untuk menghangatkan tenggorokanmu.” Ucap Seohyun dan Baekhyun mengangguk.

Seohyun, gomawo. Bisakah kau disini sampai sore?

“Iya aku disini sampai nanti Chanyeol menjemputku. Tadi dia tidak bisa ikut karena ada latihan basket.”

Kamu sangat baik. Bisakah aku memiliki kekasih sepertimu? Tulis Baekhyun. Hatinya sebenarnya ingin berkata, bisakah aku menyukaimu dan menyanyangimu bukan sebagai sahabat? Namun Baekhyun teramat takut jika Seohyun malah akan marah dan memutuskan pertemanan mereka yang sudah lama begitu saja.

“Hehehe, kamu bisa bahkan memiliki seseorang yang 100x lebih baik dari diriku, Baekkiii…” canda Seohyun.

Yang aku mau bukan yang 100x itu, tetapi yang sepertimu tidak kurang tidak lebih. Bisa?

Seohyun terdiam membaca tulisan Baekhyun, ada kecanggungan ketika mereka berdua seperti ini dan tiba-tiba Baekhyun membicarakan hal yang aneh.

“Tidak akan ada orang yang mirip atau serupa denganku karena aku satu-satunya di dunia hehee…”

Baekhyun baru akan menulisi lagi, namun terdengar suara motor Chanyeol datang. Ia urungkan niatnya bertanya kepada Seohyun bahwa dirinya menginkan Seohyun, bukan sebagai sahabat melainkan sebagai kekasih.

-

-

Pada hari pembukaan kompetisi basket antar sekolah, Seol High School ditunjuk menjadi tuan rumah dan sekaligus menjadi penyelenggara ceremonial pembukaan. Band Victory, yang digawangi Baekhyun seharusnya menjadi bintang yang akan mengisi hiburan. Namun, gawatnya suara Baekhyun sang vokalis belum juga kembali. Kepanikkan menyelimuti suasana di ruang latihan band. Seohyun juga ikutan panik karena jika mereka batal tampil maka akan mengecewakan pihak sekolah yang kurang baik sebagai penyelenggara.

Di tengah-tengah kepanikkan, muncul Kangta Songsaenim di ruangan itu.

“Kalian tidak usah cemas, kalian akan tetap tampil sore ini.” Ucapnya

“Bagaimana bisa Pak, suara Baekhyun belum stabil. Sementara acara mulai 2jam lagi.” Ujar Kyungsoo sang drumer.

“Aku memiliki seseorang untuk dijadikan pengganti Baekhyun sementara.” Ucap Kangta sembari tersenyum.

“Benarkaaaah? Siapa orangnya?” tanya Seohyun.

“Luhan-ssi, silahkan masuk!” ujar Kangta memersilahkan seseorang yang tadi menunggu di luar untuk masuk.

“Hah Luhan? Kenapa bisa dia?” Lirih Seohyun heran.

Luhan masuk lalu tersenyum kepada semua yang ada di ruangan itu, pandangannya lebih lama jatuh di mata Seohyun.

“Aku akan berusaha, mohon bantuannya!” ucap Luhan pasti.

TBC

Jangan lupa kasih kritik dan saran ^^

Nb: My first SEOHAN FF

About these ads

Satu tanggapan »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s