Over Her Dead Body (Twoshoot-End)

Standar

OVER HER DEAD BODY (Twoshoot-END)

 

Main cast:

Seohyun

Yuri

Minho

Sulli

Baca dulu: part 1

Happy reading! Jangan lupa komen sebagai wujud apresiasi, come on guys mulai detik ini bersikap lah menghargai sesuatu karya orang lain, terlebih karya itu kalian nikmati!


^^v

Part 2-End

Arwah Yuri nampak terbang bebas di atas tubuh Seohyun yang sedang berbaring di tempat tidur, asik membaca buku diary milik Yuri yang sebelumnya dikasih oleh Sulli. Seohyun diminta oleh Sulli untuk membaca diary milik Yuri untuk membantu proses penyembuhan –hampir gilanya- Minho. Dengan membaca diary milikYuri, Seohyun jadi lebih mengerti karakter Minho seperti apa.

“Seenaknya membaca diary orang, huh!” dengus Yuri kesal melihat diary yang notabenenya adalah catatan pribadinya kini tengah asik dibaca Seohyun. Amarahnya memuncak ketika Seohyun tengah membaca bagian dimana ia dan Minho sedang melakukan adegan percintaan di mobil tempo lalu sehabis pemotretan prewedding.

“Hahahaha, kocak! Si Yuri ini agresif sekali, sedangkan Minho-ssi menolaknya, kekeke~” komentar Seohyun dengan ekspresi yang menurut Yuri mengejeknya. Didekatkannya wajahnya ke wajah Seohyun sehingga wajah mereka kini hadap-hadapan, dan…

“AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH!!!” Teriak Seohyun ketika Yuri memperlihatkan wujudnya sebagai arwah di atas Seohyun.

“Cih, pake sok kaget segala! Sudah biasa kan melihat hantu?!” sindir Yuri dengan wajah jutek ke Seohyun. Sedangkan Seohyun langsung terlonjak kaget dan bangun dari pembaringannya, tubuhnya otomatis menjauh dari Yuri.

“Meng…apa…kk..kau…disi..ni?” tanya Seohyun dengan takut-takut. Bagaimana tidak takut, seorang arwah perempuan cantik kini sedang bertamu di kamarnya.

“Sini balikan diaryku!” pinta Yuri

“Waeyo, ini bukan milikmu lagi. Dan sekarang kau pergi darisini! Ini bukan duniamu lagi!” ucap Seohyun dengan mimik masih ketakutan, tapi sudah tidak gemetaran lagi.

“Aissh, dasar penipu! Balikan sini!!!!” Yuri nampak kesal dan langsung menghampiri Seohyun dan mengambil diary dari genggaman tangan Seohyun, namun tangannya mencelos begitu saja menembus tangan Seohyun. Seohyun sempat bergidik ngeri ketika tangan dingin Yuri sempat dirasakannya.

Usaha merebut diary yang dilakukan Yuri sia-sia, pada akhirnya ia pergi dari hadapan Seohyun, menghilang begitu saja.

“Arwah selalu sama saja! Tak bisa menerima kenyataan dirinya telah mati…” gumam Seohyun sendiri. Ia memastikan arwah Yuri telah pergi dari rumahnya, kemudian ia meneruskan membaca diary tersebut.

###

“Minho-ssi, karena tahu kau akan datang siang ini, tadi pagi aku buru-buru membuat pancake strawberry. Silahkan dicoba…” ucap Seohyun dengan ramah. Ia memang sengaja memasak pancake setelah ia membaca salah satu tulisan Yuri di diary tentang apa-apa saja kesukaan Minho.

“dasar tukang contek!” geram Yuri melihat Seohyun menyuguhkan sepiring pancake hangat.

“Pancake strawberry?” tanya Minho. Ia merasa Seohyun sungguh perhatian kepadanya dengan menghidangkan makanan saat ia datang konsultasi, terlebih lagi ini makanan paling disukainya.

“Iya, aku tadi bingung ingin menyuguhkanmu apa. Dan entah kenapa aku ingin membuat ini untukmu. Ayo dimakan, Minho-ssi kalau tidak aku akan kecewa.” Kata Seohyun seraya mengambil satu pancake dan memberinya ke Minho. Minho pun tak bisa menolak suguhan dari Seohyun, apalagi ia memang sudah jarang sekali memakan pancake karena satu-satunya yang biasa membuatkan untuknya telah tiada.

“Gamsahamnida, Seohyun-ssi…” seru Minho.

“Oh iya, hari ini Sulli tidak menemanimu?” tanya  Seohyun

“Tidak, dia sedang ada midtest.”

“Oh Sulli-ssi masih kuliah juga?”

“Iya, selain membantuku di perusahaan, ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa.” Ada perasaan bersalah di hati Minho bila ia mengingat akan adiknya itu. Sebenarnya, Sulli belum ada kewajiban bekerja di perusahaan mereka tiap hari, karena ia memang masih Kuliah. Namun, semenjak absen panjangnya Minho pasca kematian Yuri, mau tidak mau Sulli jadi bekerja fulltime di kantor, dan itu membuat Sulli sedikit menelantarkan perkuliahannya.

Sesudah menyantap beberapa pancake, Minho mulai diterapi Seohyun. Yuri yang sedari tadi menyaksikan mereka berdua hanya merengut cemburu karena Minho jadi semakin akrab dengan Seohyun.

“Seohyun-ssi aku pamit dulu…” ucap Minho di depan pintu rumah Seohyun.

“Ah dee…gamsahamida untu kooperatif dalam terapi hari ini, Minho-ssi” senyum Seohyun.

“Anio, aku yang seharusnya berterimakasih, kau sudah membuatkanku pancake hehe…” ucap Minho dengan senyuman manis. Seohyun langsung melemah melihat secercah senyuman namja di hadapannya itu. Benar-benar membuat degupan jantung Seohyun berdetak lebih cepat. Mungkinkah ia jatuh cinta dengan pasiennya sendiri?

“cih, kau terpesona dengan senyuman namjaku? Centil!!!” ketus Yuri yang semakin panas melihat kelakuan dua manusia itu.

Minho pun melangkah ke luar, namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena ia ingin mengutarakan gagasan di kepalanya yang sedari tadi ingin ia sampaikan pada Seohyun yang juga telah melangkah masuk ke rumah.

“Seohyun-ssi…” panggil Minho kepada Seohyun yang telah berbalik menghadap Minho kembali.

“Nee..ada apa lagi Minho-ssi?”

“Eh…err..er…anu Seohyun-ssi, weekend besok bisakah kau menemaniku ke laut?” ucap Minho terbata-bata.

“eh? Laut?”

“Ya, aku ingin sekali melihat laut, mungkin bisa menjernihkan kepalaku. Bisa tidak kita terapi di alam terbuka?”

Seohyun terperangah dengan ajakan Minho, mungkinkah ini ajakan kencan, Seohyun sesaat terdiam.

“Dee…ide yang baik Minho-ssi” akhirnya Seohyun menerima ajakan Minho.

“Baiklah, aku akan menjemputmu weekend depan. Annyeong…”

“Annyeong…” Seohyun senyum-senyum sendiri, ia tidak menyangka pasiennya itu bisa mengajaknya ke laut. Disampingnya berdiri Yuri dengan wajah merana, jelas ia cemburu melihat mantan pacarnya itu mengajak perempuan lain jalan-jalan ke laut.

“Minho…cepat sekali kau membuka kembali hatimu…” batin Yuri, ia ingin sekali menangis mengeluarkan airmata, tapi ia tak bisa. Merasakan kesedihan sebagai arwah sungguh menyakitkan, karena tidak bisa meluapkannya. Akhirnya dengan gontai Yuri mengikuti Seohyun masuk rumah.

Di rumah Minho,

“Oppa..mau kemana?” tanya Sulli yang baru keluar kamar sudah melihat Minho berpakaian rapih seperti ingin pergi.

“Ke laut.” Jawab Minho singkat.

“Ke laut? Ngapain? Aku ikut ya!” seru Sulli.

“Menjernihkan pikiran! Gak usah ikut ah, aku kesana sama Seohyun-ssi. Jaga rumah ya, dagh!”

“Seohyun eonni?” tanya Sulli heran. Namun, Minho tidak menggubris pertanyaan adiknya, dan langsung pergi dengan mobil sedan hitamnya.

Di rumah Seohyun,

“Aku tidak bisa melihat My Minho kencan dengan cenayang aneh ini! Bagaimana ya? Bagaimana cara menggagalkan rencana mereka ke laut? Aisshhh, kenapa semenjak jadi arwah diriku jadi paboya begini?” Yuri mengetuk-ngetuk keningnya sendiri, terus bolak balik, mondar mandir di kamar Seohyun. Sedangkan Seohyun sedang mandi sembari bersiul-siul riang karena akan pergi jalan-jalan dengan Minho, namja yang belakangan ini mengusik pikirannya.

“Aha!” celetuk Yuri tiba-tiba, senyum mengembang dari mulutnya, pertanda ia sudah memiliki ide cemerlang.

Selesai mandi Seohyun menuju lemari pakaiannya, namun lemari pakaiannya tiba-tiba terkunci dan tak bisa dibuka. Susah payah Seohyun menarik-narik engsel lemarinya namun pintunya tak terbuka juga.

“Perasaan aku gak ngunci lemari ini deh…” pikir Seohyun. Seohyun berusaha mencari kunci lemari tersebut, tapi dimana pun kunci itu tak juga ditemukan. Setengah jam berlalu dengan pencarian kunci dan pendobrakan lemari, namun kunci tak jua ditemukan pun lemari juga tidak terbuka-buka, padahal lima menit lagi Minho akan datang menjemputnya.

“Aissh!!! Pasti ini ulah arwah sinting itu!” gerutu Seohyun yang duduk kelelahan masih dengan handuk mandi membelit tubuhnya. Ia memang berhasil menebak siapa dalang dari kerusuhan yang terjadi di rumahnya belakangan ini. Tiga hari yang lalu Iphone-nya hilang tiba-tiba dan ditemukan sehari kemudian di mesin cuci dalam timbunan baju-baju kotor. Dan ternyata ada 25 panggilan tak terjawab dari Minho yang ingin menanyakan kepastian rencana mereka ke laut. Lalu, dua hari kemudian pembersih mukanya juga hilang tiba-tiba dari meja riasnya. Alhasil wajah Seohyun sedikit berminyak dan kurang oke. Dan sekarang pintu lemarinya terkunci sendiri, dan hanya ada satu sepasang pakaian dengan model ‘gak banget’ buat main ke laut yang entah kenapa terongok manis di kasur Seohyun.

“HUFFFTTTT…”Seohyun mendengus kesal

“Hahahahaha,,,” kikik Yuri geli melihat kesusahan Seohyun.

“Masa harus pakai baju ini?” gumam Seohyun membolak-balik pakaian berwarna hitam yang superduper seksi dengan potongan dada rendah, pendek di atas dengkul 10cm, punggungnya bolong sampai pinggang. Ditambah ada bling-bling di selingkaran pinggangnya. (Intinya nih baju pesta ^^)

“Minho pasti akan langsung illfeel melihatku pakai beginian, huh. Arwah kurang ajaaaar!!!” teriak Seohyun depresi ditambah dari luar terdengar lengkingan bunyi klakson yang dipastikan dari mobil Minho.

“Andweeee-Andweee…” Seohyun mencak-mencak sendiri, Yuri yang kini terpikal-pikal memperliatkan wujudnya di depan Seohyun.

“Hhahaa…” Yuri menjulurkan lidahnya meledek Seohyun.

“Balikkan kunci lemari ini, hantu jelek!!!” maki Seohyun dengan geram kepada Yuri.

“Tidak mau…weeekkkk!  tak akan kubiarkan rencana jalan-jalanmu dengan tunanganku berjalan lancar!” balas Yuri lalu WHUSS, tiba-tiba ia lenyap.

“YA! Tunggu jangan lenyap begitu saja, kau harus membuka lemari ini!!!” Seohyun teriak-teriak sendiri dengan udara kosong. Tapi, Yuri tidak menampakkan wujudnya lagi. Karena ia sudah berpindah ke dalam mobil Minho.

Sms

From: Minho

To: Seohyun

Aku sudah sampai depan rumahmu, kau sudah siap?

 

Seohyun langsung belingsatan, panik, dan kalang kabut karena Minho telah datang menjemputnya, sedangkan dirinya masih HANDUKKAN!

Dengan terpaksa Seohyun mengambil pakaian yang ‘gak banget’ itu, lalu memakainya. Setidaknya masih ada yang dipakai daripada pakai handuk (?)

Dengan rasa tidak percayadiri Seohyun menemui Minho di luar. Ekspresi pertama Minho melihatnya adalah: melolot. Tapi, karena masih canggung Minho enggan berkomentar mengenai baju Seohyun, walaupun dalam hatinya ia heran kok mau ke pantai pakai baju begituan.

Sesampainya di laut…

Sepanjang perjalanan, semua namja nampak membelalak melihat kemolekan tubuh Seohyun dengan balutan mini-nya. Minho menyadari hal itu, dan menjadi risih karena yeoja yang sedang berjalan dengannya menjadi objek pandangan namja-namja bermata keranjang.

“Pakai ini!” Minho melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di bahu Seohyun. Seohyun merasa canggung karena sikap gentle Minho.

“Gamsahamida…” ucap Seohyun pelan.

“Lain kali jika berpergian ke laut jangan pakai baju mini begini, angin laut bisa masuk ke tubuhmu dan membuatmu sakit…” ujar Minho yang berhasil membuat Yuri merengut mendengarnya. Yuri sedih bukan main mendengar hal senada yang biasanya ia dengar dari Minho saat memarahi dirinya jika sedang berpakaian seksi.

“Ah ne, sekali lagi gamsahamida Minho-ssi…”

“Kok Minho bukannya illfeel, malah memberikannya jaket? Huh, rencanaku malah menguntungkan cenayang aneh itu!” batin Yuri kesal.

Seohyun dan Minho duduk di atas karang yang kokoh. Minho mulai bercerita bagaimana perasaannya sekarang.

“Kau harus bangkit, Minho-ssi…kau tidak mau kan mantan tunanganmu itu terjebak dalam dua dunia karena kau masih belum merelakannya.” Ucap Seohyun dengan lembut.

“Ya, aku juga sudah bertekad akan mulai membuka lembaran hidup baru. Aku masih bertanggung jawab kepada Sulli.” Minho berkata sambil menatap jauh ke ujung laut sana. Seohyun diam-diam memandanginya, ada perasaan salut terhadap namja itu. Minho yang sedari tadi diperhatikan lamat-lamat mulai merasa, ia menoleh pelan ke Seohyun. Di dada keduanya ada getaran semacam kedutan yang hangat.

“Kau menyukai laut? Tanya Minho memecah kehingan di antara mereka.

“Ne..sangat menyukainya karena laut bisa membuat mata kita memandang tanpa batas.” Jawab Seohyun.  DEG! Minho tersentak mendengar jawaban Seohyun, karena jawaban itu persis sama dengan jawaban Yuri ketika ia bertanya hal yang sama.

“Benar…aku juga sangat menyukainya.”

Mereka berdua pun berjalan beriringan dengan sudah tidak canggung, bermain air, membangun istana pasir, membeli ice cream. Sedang Yuri, hanya mengikuti mereka dengan tangan dilipat di depan dada, serta wajah yang manyun.

Tak terasa senja sudah menjemput, Seohyun dan Minho beranjak pulang sambil menikmati sunset.

“Aku suka terapi yang seperti ini, hehe…” ucap Minho yang sudah membiasakan tertawa.

“Jjinja? Mari kapan-kapan kita ke sini lagi, Minho-ssi…” balas Seohyun tersenyum.

“Eh, tolong panggil aku oppa, bagaimana pun umurmu lebih muda.” Ujar Minho ragu-ragu.

“ne..oppa…” seru Seohyun yang membuat Minho jadi salah tingkah sendiri mendengar dirinya dipanggil oppa.

“Ayuk kita pulang, Seohyunnie…” ajak Minho.

“Oppa? Dua hari bertemu kau sudah memintanya memanggil oppa? ANDWEEEEEEEEEEE!!!!” Teriak Yuri frustasi.

Sehabis perjalanan ke pantai, Seohyun dan Minho semakin tambah akrab. Mereka lebih sering bertemu walau bukan jadwal terapi. Seperti spend time dengan makan siang bareng, menjemput Seohyun sehabis aero dance, salon, pergi ke taman reksreasi, dsb. Kedekatan Seohyun dengan Minho membuat seohyun kini semakin sering juga dijahili Yuri, dan ia tahu jika ia tengah dicemburui oleh Yuri.

Pernah suatu hari di klub renangnya Seohyun, Yuri melakukan aksi konyolnya. Seohyun sangat mencintai kesehatan, ia mengikuti banyak klub olahraga dan perawatan tubuh. Seperti renang, berkuda, aero dance, yoga, dll. Pada suatu hari sehabis ia berenang, ia berencana makan malam dengan Minho. Ketika sedang mandi bersih di kamar mandi, tiba-tiba saja lampu kamar mandinya padam. Seohyun panik karena ia tengah berkeramas dengan busa sabun banyak menempel di tubuh dan kepalanya. Kepanikan makin menjadi-jadi ketika ia meraba-raba gantungan pintu yang seharusnya ada tas berisi pakaian gantinya, namun tidak ada. Busa sabun terlanjur memenuhi matanya sedangkan keadaan gelap gulita, air kerannya tidak menyala. Pikirannya pun langsung tertuju pada arwah konyol yang selalu mengikutinya. Dengan nekat Seohyun keluar kamar mandi dengan telanjang dan masih berbusa. Namun ternyata ketika ia keluar, lampu di ruangan itu tidak padam sontak semua orang yang ada disana heboh melihat ketelanjangan Seohyun dengan mimik bodoh. Yuri terpikal-pikal menyaksikan misinya sukses membuat Seohyun jadi bahan ejekan dan tertawaan orang-orang.

Kalau sudah begitu, maka Seohyun pun melakukan aksi balas dendam pada Yuri. Ia membuat Yuri cemburu dengan semakin akrab kepada Minho. Dan pada akhirnya, setelah dua bulan lamanya Seohyun jalan bareng dengan Minho, di suatu pagi Minho datang ke rumahnya dan menyatakan perasaannya kepada Seohyun. Karena Seohyun pun memiliki perasaan yang sama, maka pernyataan cinta Minho diterimanya dengan segenap hati. Tinggalah Yuri meraung-raung seorang diri melihat mantan tunangannya sudah mulai melupakannya.

Yuri pov

Huhu…hu…hu…malaikat pabo itu mengapa belum menjemputku! Sekarang Minho sudah melupakanku, jadi buat apa aku disini? Minho mengapa harus dengan cenayang itu? Huhu..huhu…

Betapa menyedihkannya menjadi arwah. Tak ada yang bisa melihatku, padahal aku bisa melihat mereka. Tak ada yang bisa mendengar suaraku, padahal aku mendengar suara mereka semua. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada Minho, dan meminta maaf padanya, tapi…hiiks hikkss…

KREKK…Ku mendengar suara pintu berdenyit. Siapakah yang malam-malam begini datang? Dan aku terkejut melihat Minho dan cenayang itu masuk rumah dengan tangan saling menggengggam satu sama lain.

“Anio anio, bukannya cenayang itu sudah tidur sejak malam tadi? Aisshh sudah sore? aku bersedih selama itukah? Paboyaa!”

Aku melihat apa yang Minho dan cenayang itu lakukan. Hah?!

Mereka tengah berciuman di ruang depan, ciuman bibir…

Aku tidak bisa diam begitu saja melihatnya, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

“Saranghae Seohyunnie…”  ucap My Minho dengan sungguh-sungguh pada wanita itu.

“Nado saranghae oppa…” balas cenayang itu keenakan merasakan kehangatan My Minho. Huhu, seharusnya aku yang kini tengah dipeluk Minho, merasakan bibir Minho…aku rindu!!! Cemburu!!!

Aku memilih menyaksikan langit malam di atas atap ketimbang menyaksikan apa yang dilakukan Minho dengan cenayang itu. Entah kenapa hatiku sakit sekali, melihat mereka berciuman. Bukankah aku sudah mati? Jantungku pun sudah tak berdetak, lalu mengapa juga aku masih diberi perasaan sakit menusuk seperti ini?

Tuhan…mohon jangan siksa diriku di dunia yang bukan duniaku lagi…

Yuri pov end.

“Apa? Oppa jadian dengan Seohyun eonni?” tanya Sulli kaget ketika Minho cerita kepadanya bahwa ia tengah menjalani hubungan yang sudah lebih dari seorang psikiater dan pasiennya.

“Waeyo mengapa kau shock sebegitunya?”

“Anio kau jangan jadian dengannya!” protes Sulli. Sulli tidak habis pikir mengapa oppanya bisa-bisanya jadian dengan psikiaternya sendiri. Memang yang membuat mereka bertemu adalah Sulli, dan memang pula ia yang menginginkan oppanya segera pulih. Namun, bukan berarti mereka harus jadian segala. Sulli tentu menentang hubungan itu karena Sulli tidak rela oppa satu-satunya itu jadian dengan seorang cenayang!

“Waeyo? Mengapa kau melarangku jadian dengannya?, sudah anak kecil diam saja ya, hehe…” Minho bertanya sambil memencet hidung Sulli lalu berlalu.

‘Oppa, kau tidak tahu ya Seohyun eonni itu seorang cenayang dan bukan psikiater? Memang sih belakangan ini pantas saja kau berubah, jadi lebih ‘manusia’, kembali ceria, dan mau bercanda denganku lagi. Dan kau begitu karena Seohyun eonni, tapi…TETAP SAJA AKU TIDAK AKAN RELA PUNYA KAKAK IPAR CENAYANG!’ Sulli berkata sendiri dalam hati.

Beberapa hari kemudian Sulli berencana mendatangi Seohyun untuk memintanya agar menjauhi Minho.

Rumah Seohyun,

“Eonni, sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah membuat Minho oppa pulih. Ini imbalanmu.” Ucap Sulli seraya menyerahkan selembar kertas cek.

Seohyun terbelalak melihat nominal yang tertera di cek sana. Angka yang fantastis untuk ukuran tarif normalnya.

“Ini berlebihan Sulli, aku tidak bisa menerimanya.” Ucap Seohyun kembali menyerahkan cek kepada Sulli.

“Annio eonni, ini semua buatmu karena aku ingin meminta tolong satu hal lagi. Tolong menjauh dari Minho oppa! Dia akan terluka karena kau menipunya dengan menjadi psikiater dan berpura-pura menolongnya.”

“Eh? Kau meminta aku menjauh dari oppamu?”

“Ne..aku minta dengan sangat hormat putuslah dengan Minho oppa! Kalau tidak aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu menyesal!” Ujar Sulli sambil beranjak  pergi meninggalkan Seohyun yang terbengong-bengong sendirian.

Di rumah Kediaman Choi

“Oppa, aku tidak suka kalau kau berpacaran dengan Seohyun eonni!!” ucap Sulli ketika sedang makan malam bersama Minho.

“Waeyo? Bukankah kau suka padanya?” balas Minho.

“Tapi, tidak untuk menjadi pacarmu, Oppa! Seohyun eonni itu penipu!” Sulli mempertegas ketidaksukaannya dengan ekspresi muka yang seolah-olah memandang rendah Seohyun.

“Kau berbicara apa sih Sulli-ah?” tanya Minho yang tidak mengerti mengapa adiknya sebegitu tidak suka dirinya berpacaran dengan Seohyun.

“Asal oppa tahu ya! Seohyun itu bukanlah seorang psikiater! Melainkan seorang CENAYANG! Dia tahu segala hal dengan pasti mengenai oppa dan Yuri eonni dari buku diary milik Yuri eonni. Memang sih salahku yang memberikan diary itu padanya…tapi, aku melakukan itu agar oppa segera pulih.” Jelas Sulli panjang lebar. Minho tentu saja terkaget-kaget mendengarnya.

“Jadi, selama ini…kau menipu oppamu sendiri? Dan ternyata Seohyun bukanlah seorang psikiater?” tanya Minho dengan nada tidak percaya.

“Ne…mianhe oppa…” Jawab Sulli tertunduk.

“Kojimal!!!” seru Minho sembari masuk ke kamarnya dengan marah.

“Mianhe oppa, jeongmal mianhe…” gumam Sulli lirih.

“Kamu memang benar-benar keterlaluan Sulli-ah…” ucap Yuri yang ada di sana dan langsung beranjak mengikuti Minho masuk kamar.

Di kamar Minho sedang terlihat bersedih. Hatinya mungkin hancur mendengar apa yang tadi Sulli ucapkan mengenai Seohyun. Tiga bulan terakhir ini Minho telah membuka kembali hatinya untuk yeoja tersebut. Perasaan sedih ditinggal kekasihnya bisa terobati karena kehadiran Seohyun dengan sejuta sikap manisnya. Seohyun memasak makanan kesukaannya, membelikannya kemeja sesuai dengan seleranya, membuatkan jus apel kesukaannya, mencium keningnya, dan hal-hal lainnya. Namun, ternyata hal-hal tersebut adalah kepura-puraan Seohyun yang ditirunya dari buku diary Yuri.

Minho masih duduk menepi di jendela kamarnya, memandang langit malam. Ia berbicara seorang diri.

“Yuri-ah, apakah ini karmaku karena menggantikanmu dengannya begitu cepat di hatiku?”

Yuri duduk di sebelahnya, memandang mantan kekasihnya dengan raut wajah sedih. Dan tanpa ia sadari, ia bisa mengeluarkan airmata.

“Yuri-ah…aku telah menemukan seorang yeoja yang bisa mengisi ruang hatiku sepeninggalmu. Memang tidak ada seorang pun yang mampu menggantikanmu di relung hatiku, tetapi aku mencintainya kini…Aku sudah percaya pada Seohyun dan aku tidak menyangka ia tega menipuku. Haruskah aku tidak mencintai lagi? Haruskah aku menutup hatiku selamanya? Atau apa aku harus menyusulmu, Yuri-ah?”

“YURIIIIII-AH, JAWAB AKUUUU!! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN???” Pekik Minho dengan pilunya.

Yuri benar-benar tidak tahan melihat Minho merasa terpukul seperti ini. Ingin sekali menjawab pertanyaannya, namun jangankan menjawab, untuk menyentuhnya saja ia tidak bisa.

“Mianhe, mianhe Minho…” ucap Yuri dengan airmata yang terus mengalir.

Keesokan hari dan seterusnya Minho berubah kembali menjadi manusia yang tidak bersemangat seperti saat dulu ditinggal Yuri. Ia banyak melamun, tidak makan setidaknya tidak bersama Sulli, masuk kerja hanya seingatnya. Seohyun beberapa kali mencoba menghubunginya, namun Minho enggan bertemu dan berbicara padanya. Seohyun pikir, Minho memang sudah tahu tentang kebohongannya.

Di cafe Kantor Choi…

“Sulli-ah, bagaimana kabar Minho oppa? Aku ingin bertemu dan berbicara padanya. Setidaknya aku ingin meminta maaf.” Ucap Seohyun kepada Sulli.

“Dia baik-baik saja, kau tidak usah memikirkannya lagi. Dan jangan memintaku lagi untuk bertemu hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting!” ketus Sulli seraya ingin beranjak dari kursinya.

“Tunggu, Sulli-ah! Nampaknya kau salah paham denganku. Aku memang seorang cenayang dan itu terdengar tidak normal, namun apakah aku tidak berhak mencintai seorang yang normal? Mencintai oppamu?” lirih Seohyun.

“Hah? Kau mencintai oppaku? Bukankah kau hanya berpura-pura mendekatinya agar dia pulih?” tanya Sulli tak yakin.

“Awalnya aku memang hanya mengikuti perintahmu. Akan tetapi…seseorang telah membuatku benar-benar jatuh cinta padanya.” Jawab Seohyun sambil melamun membayangkan apa yang terjadi pada dirinya selama tiga bulan ini.

“Aku pikir selama ini kau tidak serius mencintai oppaku…lalu siapa seseorang yang kau maksud?” seru Sulli kembali duduk di kursinya.

Seohyun menatap Sulli.

“Kau yakin akan percaya dengan cerita yang akan aku ucapkan nanti?” tanya Seohyun. Sulli hanya mengangguk. Sesaat Seohyun menghela nafas sebelum bercerita.

“Semua karena arwah sinting itu…” mulai Seohyun.

“Tunggu! Siapa yang kau maksud dengan ‘arwah sinting’ itu? Sela Sulli.

Seohyun menatap Sulli dengan tajam karena ceritanya sudah disela terlebih dahulu.

“Arwah Yuri, tunangan Minho dulu.” Sulli nampak terkejut. Namun, Seohyun memilih melanjutkan ceritanya.

“Ya, karena arwah itu aku menjadi jatuh cinta sungguhan dengan oppamu. Melihatnya berusaha memisahkan aku dengan Minho dengan segala cara kekonyolannya membuat aku tersadar bahwa ia benar-benar takut Minho akan diambil olehku.” Sulli makin mengerutkan keningnya.

“Seohyun eonni, kau bicara apa sih?!” Sulli akhirnya menyerah untuk hanya diam mendengar cerita Seohyun yang baginya mustahil.

“Oh jjinja Sulli-ah kau cerewet sekali! Selama ini arwah Yuri masih berkeliaran di sekitar Minho oppa dan disekitarku!

“hah? Jeongmal???!” pekik Sulli merinding.

“Terserah kalau kau tidak mau percaya. Yang jelas aku sudah berkali-kali dihantui olehnya. Ia mengerjaiku berkali-kali, aku rasa ia sangatlah cemburu kepadaku. Akan tetapi, aku sangat berterimakasih pada arwah sinting itu…berkatnya aku tersadar akan cinta. Selama ini aku tidak percaya akan cinta dan tidak pernah merasakannya. Setelah melihat Minho dan Yuri aku menjadi percaya bahwa kekuatan cinta itu memang ada. Aku yang dicemburui oleh Yuri, menjadi merasa seharusnya akulah yang cemburu…aku cemburu melihat kekuatan cintanya pada Minho, padahal seharusnya ia sudah pergi ke akhirat, Namun ia masih menjadi arwah penasaran. Dan saat itu aku berpkir, mungkin ia masih menjadi arwah karena belum bisa menyelesaikan urusannya di dunia karena sebegitu cintanya ia pada Minho. Arwah saja bisa begitu tulus mencintai, sedangkan aku yang manusia?” Seohyun menitikkan airmatanya. Di seberang sana Yuri mendengarnya dengan terkesima. Ia nampak tergugu dengan pengakuan Seohyun.

“Sulli-ah, semenjak itu aku benar-benar menyukai oppamu…dan aku mencintainya. Aku benar-benar menyesal telah menipunya. Tapi, izinkan aku bertemu dengannya terakhir kali untuk meminta maaf…” Seohyun menangis tersedu-sedu. Sulli nampak tidak tega melihatnya.

“Ternyata cenayang ini memiliki hati yang baik dan ia benar-benar mencintai Minho-ku. Aku menyesal telah iseng kepadanya…” ucap Yuri menyesal.

“Minho oppa sedang menenangkan dirinya di laut, kau bisa menyusulnya…” ucap Sulli lembut. Dan tanpa aba-aba lagi Seohyun segera bangkit dari duduknya dan segera menyusul Minho.

“Kejarlah cintamu, mulai sekarang aku rela melepas Minho untukmu. Dan tentu saja aku akan membantu mempersatukan kalian!” ucap Yuri sembari tersenyum.

Sesampainya di laut, tempat Seohyun dan Minho biasa pergi…

Seohyun pov

MINHOOOO…MINHOOOO…

Sudah satu jam aku mencari Minho di pantai ini, namun Minho belum juga aku temukan. Aku harus bertemunya, sekarang atau tidak selamanya. Aku harus memberitahukan perasaanku yang sesungguhnya.

Di kejauhan sana, kulihat ada seorang namja sedang duduk di tepi pantai seorang diri. Ketika ku mendekat, namja itu benar Minho. Dengan perlahan aku duduk disebelahnya.

“Jahat! Kesini tidak mengajakku…” ucapku. Minho nampak terkejut akan kehadiranku.

“Seohyun, kenapa kau ada disini?”

“Ingin bertemu denganmu, ada yang perlu kita bicarakan…”

“Huh. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita.” Jawab Minho ketus. Aku sedih melihat keacuhannya padaku.

“Mianhe…jeongmal mianhe, oppa. Telah membohongimu selama ini akan profesiku.”

“Aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu. Sekarang kau pergi saja darisini!” Minho menatapku tajam.

“Kau mengusirku? Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkanku…”

“Baiklah kalau kau tidak mau pergi, aku yang akan pergi!” Minho langsung berdiri dan melangkahkan kakinya pergi. Aku mencegatnya dengan menahan lengannya. Sesaat ia menatapku dengan tatapan mata sendunya, lalu menepis peganganku.

“Saranghae, oppa…” isakku.

“Kojimal! Sudahlah tidak usah lagi berpura-pura di depanku! Aku juga tidak pernah sungguh-sungguh mencintaimu, kau hanyalah sekedar pelarianku!”

Ucapan Minho benar-benar menusuk hatiku.

“Kau yang bohong! Kau pun mencintaiku kan? Buktinya kau menjadi kembali rapuh seperti ini!” ucapku dengan nada meninggi.

“Huh!!” Minho berlari pergi menjauhiku.

“Oppa!!! Mianhe…saranghaeeeee…” teriakanku mungkin tenggelam dalam suara debur ombak, tapi aku yakin Minho oppa mendengarnya.

Seohyun pov end.

Beberapa hari kemudian…

Rumah Choi

“Oppa, mianhe…sekarang aku tidak akan  lagi melarangmu berpacaran dengan Seohyun eonni.” Ucap Sulli.

“cukup mengucapkan namanya di depanku! Aku tidak mau lagi mendengar segala hal tentangnya lagi!” ketus Minho.

“Tapi oppa…Seohyun eonni hari ini…” Minho nampak sudah pergi dan tak menghiraukan ucapan Sulli.

“Oppa, hari ini Seohyun eonni pergi ke Jepang dan selamanya akan tinggal disana…” lirih Sulli.

Rumah Seohyun

Nampak Seohyun sedang berkemas-kemas. Ia sedang terpaku dengan pigura gambarnya dan Minho yang sedang di pantai. Tes…tes…satu persatu airmata jatuh di pigura itu. Hatinya terenyuh menerima kisah cinta pertamanya harus berakhir tragis seperti ini.

Seohyun memang sudah memutuskan untuk mengakhiri profesinya sebagai cenayang dan akan memulai hidup baru di Jepang. Meski berat meninggalkan Seoul dan cinta pertamanya, tetapi ia harus.

“Cenayang bodoh, kau harus mengejar cintamu. Aissh, begini saja kau menyerah dan kabur ke Jepang! Bagaimana nanti kau patah hati lagi, apa kau akan kabur ke Afrika? Huh.” Omel Yuri yang sedari tadi mondar-mandir di kamar Seohyun.

“eottokhe?”

Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide di kepala Yuri.

Di kantor Choi…

“huh apa ini? Tiket ke Jepang? Atas nama Nn. Seo Joo Hyun?” Minho heran melihat sebuah tiket pesawat penerbangan ada di meja kantornya. Lalu ia terdiam sesaat, dan mengingat sepenggal ucapan adiknya tadi pagi.

“Hah! Seohyun akan ke Jepang?” kagetnya lalu melihat tiket lagi pukul berapa pesawat itu akan landas.

“Pukul 14.00? aissh sekarang sudah pukul 13.35” Minho sesaat terdiam ragu, lalu ia pun memutuskan berlari, menuju bandara Incheon.

Di rumah Seohyun…

“Aduh dimana sih tiketnya? Perasaan aku menaruhnya di dalam dompet. Aisshhh, mengapa harus hilang di saat genting begini sih? Sudah pukul segini lagi!!!” Seohyun terlihat frustasi mencari tiketnya yang hilang.

Yuri nampak tertawa-tawa melihatnya. Oh, rupanya Yuri lah yang mencuri tiket Seohyun dan membawanya ke kantor Minho.

“Apa jangan-jangan ini pekerjaan arwah iseng itu? Ah annio-annio, buat apa juga dia menyembunyikan tiketku? Bukankah seharusnya ia senang aku pergi dari kehidupan mantan tunangannya itu?”

“Tidak, dugaanmu tepat. Aku memang yang mengambilnya hihi, tapi kali ini niatku membantumu rujuk kembali dengan Minho hihi..”

Seohyun masih mencari-cari tiketnya yang hilang. Sementara Minho tergesa-gesa mencari Seohyun di airport.

beberapa jam kemudian…

“Girls bring the boys out…” bunyi HP Seohyun berbunyi.

Minho oppa calling…

Seohyun tidak mengangkat HP-nya dikarenakan ia sedang tertidur, nampaknya ia kecapekan mencari-cari tiket Jepangnya yang menghilang.

Sementara di airport, Minho nampak merana karena mengira Seohyun sudah terbang dengan pesawatnya ke Jepang.

“Ya! Paboya! Kenapa cenayang ini malah tertidur? Nampaknya misiku berhasil menggagalkan kau pergi. Tetapi, kalian malah tidak bertemu. Dan sekarang Minho pasti mengira kau telah benar-benar pergi.” Ucap Yuri kesal sendiri.

Seohyun pun terbangun, dan terkaget karena hari sudah malam.

“Ya ampun, aku jadi tidak pergi ke Jepang hari ini…hah? 5 panggilan tak terjawab Minho oppa?”

Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara Minho  memanggil-manggil nama Seohyun.

“Seohyunnie…” ucap Minho ketika Seohyun membukakan pintu untuknya.

“Oppa, ada apa malam-malam begini kesini?”

“Kau mengapa tidak jadi ke Jepang?”

“Tiketku mendadak hilang…”

“Lalu mengapa teleponku tidak dijawab”

“Aku ketiduran.”

“Aish, syukurlah.” Seru Minho dan langsung memeluk Seohyun erat. Seohyun benar-benar keheranan dengan apa yang terjadi, tetapi pelukan Minho membuatnya merasa bahagia.

“Jangan pergi, Seohyun…aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai lagi.” Lirih Minho masih memeluk Seohyun.

“Oppa…”

Lalu mereka berciuman lama. Saling melepaskan kerinduan.

“Tadi ada yang mengirimkanku sms isinya mengatakan kau tidak jadi ke Jepang dan ada di rumah, makanya aku menyusulmu kesini.” Ucap Minho sesaat setelah mereka berciuman.

“Siapa ya? Aneh…siapa juga yang mengirimkan tiketku ke kantormu?” tanya Seohyun keheranan.

“Tidak penting siapa itu. Yang terpenting, aku tidak jadi kehilanganmu. Mianhe Seohyun atas kejadian di pantai. Aku kasar padamu…tapi, kau benar saat bilang aku rapuh karenamu.”

“oppa, saranghaeyo…” Seohyun mengecup kening Minho lembut.

Dan bibir mereka kembali bertautan…

Di tempat lain,

“Syukurlah mereka kembali bersatu…Gomawo ya sudah meminjamkanku pulsa untuk sms Minho.” Kata Yuri kepada seorang disampingnya.

“Huh jadi sekarang sudah rela nih aku jemput? Misimu sudah berhasil, dan saatnya aku membawamu ke dunia akhirat sana.” Ucap seorang yang disamping Yuri, yang ternyata adalah malaikat Leeteuk.

“Hhaha…jadi, selama ini misiku adalah menyatukan cinta mereka?” Yuri tertawa sendiri.

“Emang iya! Jadi, selama ini kau menyangkanya apa hah?” sambung si malaikat itu sambil mengecek sisa pulsa di Hp-nya.

“Hhhh…sudahlah, yang terpenting aku sekarang rela Minho bersama perempuan itu. Kajja, bawa aku pergi!”

“Baiklah, ayo genggam tanganku. Jangan dilepaskan ya!” seru Leeteuk.

‘Minho-ah, selamat tinggal…aku selalu mencintaimu, ku harap kau selalu bahagia. Saranghae…’ batin Yuri.

Lalu Yuri pun menghilang bersamaan dengan hembusan angin. Menghilang selamanya dari dunia manusia dan mulai hidup tenang di dunia lain, nun jauh disana.

“Gomawo, Yuri-ssi untuk semuanya, selamat tinggal…” lirih Seohyun yang merasakan kehilangan aura arwah di sekitarnya, ya Seohyun menyadari Yuri telah pergi dari sekitarnya untuk selamanya.

END~

20 responses »

  1. terharu bacanya🙂
    hiks..hikss…*lari ke pelukan key oppa *
    mau ketawa wktu seo dikerjain yuri ampe telanjang ==
    kekekeekeke ..
    emang malaikat ada hp ya ??
    bagi dong nopenya ,, hahahhaha

  2. kyaa… eoni .. akhirnya ada lagi ff minseo .. soalnya aku juga minseo shipper.
    yuri unie kasian .. tapi yang penting seomma ma minho oppa ..
    aku tunggu ff minseo uniee lainnya .

    ngakak banget pas baca. daebakk dehh pokoknya ..

  3. Itu malaikatnya siapa??
    Part 1 kan di protection jd aku gk tw.yuri lucu deh suka ama characternya disini…
    Seo juga bagus.tp menurutku masih ada typo sedikit

  4. ak udh bacaff ini di smtown fanfiction. ak kira end nya gntung trnyata pas buka nih blog ketemu sambungnya. Daebak Thor ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s