A Brother’s Confession (OneShoot)

Standar

Cinta ini tidak normal.

Bagaimana bisa aku mencintai adikku sendiri?

Bagaimana bisa aku selalu menunggu bayangannya di tiap aku berhasrat?

Cinta ini tidak wajar adanya.

Ketika derai tawanya selalu kubingkai indah di pelupuk mataku.

Ketika isak tangisnya selalu kuhapus sempurna dengan bahuku.

Aku mencintaimu, Seo Joo Hyun…

Sejak aku membuka mata dan sampai menutupnya.

 

Fan Fiction By ArtemisGoddess;

A Brother’s Confession

(OneShoot)

 Donghae Seohyun cinta

Main Cast:

Lee Donghae

Seo Joo Hyun

Other Cast:

Cho Kyuhyun

Genre: Sad (Fan Fic Seohyun – Donghae a.k.a SeoHae)

Theme Song: I Guess You Dont Know (M Signal)

Point of View: Lee Donghae

1.

Omma dan Appa mungkin kewalahan menanggapi permintaanku yang selalu aku ucapkan di tiap pagi, siang, dan malam. Yaitu aku ingin memiliki adik! Di usiaku yang sudah 8 tahun aku masih bermain sendiri, dan itu sangat membosankan. Aku selalu meminta pada omma dan appa bahwa aku ingin seorang adik, meski aku tidak tahu benar bagaimana mereka memperoleh adik buatku. Yang aku tahu, aku hanya merengek dan terus merengek.

Sampai pada suatu ketika siang, aku diajak omma dan appa ke sebuah tempat. Tempat itu lebih mirip sekolah karena banyak sekali anak-anak kecil berkeliaran di sana sini. Omma bilang ini adalah sebuah asrama, tempat dimana anak-anak sepertiku berkumpul karena sudah tidak memiliki orangtua lagi. Aku sangat terkejut karena ternyata banyak anak-anak kecil seperti mereka yang sudah tidak punya omma appa lagi. Menyedihkan, pikirku waktu itu. Lalu omma dan appa berkata padaku bahwa aku bisa menemukan adikku disini.

“Bisakah aku menemukan adik disini? Bagaimana caranya?” tanyaku pada omma dan appa.

“Tentu saja Donghae sayang, kau boleh pilih satu anak yang ada disini yang kau sukai dan yang bisa menjadi teman bermainmu.” Jawab Omma sambil membelai rambutku. Aku langsung antusias mendengar ucapan omma. Asik sekali bukan kedengarannya jika kita bisa memilih sendiri adik yang kita sukai?

“Namja atau yeoja?” tanyaku lagi.

“Terserah kau, Donghae. Yang jelas ini bukanlah seperti kita sedang membeli kucing atau kelinci peliharaan yang seenaknya kau tunjuk dan kau bawa pulang. Ini adalah seorang manusia yang berbeda dari hewan peliharaan. Kau harus benar-benar bisa menjaga dan menyayanginya jika ia telah menjadi adikmu.” Ucap Appa menasehatiku. Aku mengangguk yakin karena aku percaya aku akan bisa menjadi kakak yang baik untuk adikku kelak. Lalu aku dibiarkan omma dan appa berjalan-jalan seorang diri di asrama ini, sementara omma dan appa berbincang-bincang dengan seorang wanita tua yang berpakaian layaknya suster gereja.

Aku berjalan-jalan memperhatikan anak-anak disini yang sedang asik bermain. Ketika tiba-tiba saja aku mendengar teriakan seorang anak dari sebuah kerumunan di taman. Karena tertarik dengan apa yang sedang terjadi aku pun masuk dalam kerumunan itu. Disana kulihat ada seorang anak perempuan berambut panjang hitam pekat diikat satu tinggi, berkulit putih, dan bermata cemerlang sedang menjambak rambut seorang anak laki-laki kurus berambut cokelat.

“Kau kularang lagi menyentuh bonekaku selamanya, Kyu!” teriak anak perempuan itu dengan kesal.

“Ya! Siapa juga yang mau menyentuh boneka gembel, jelek, dekil, dan bau begini?!” balas anak laki-laki itu sambil menjambak rambut anak perempuan itu.

“Kyu kau sangat jelek ketimbang KERORO!” anak perempuan itu makin bersemangat menjambak rambut bocah laki-laki di depannya.

“DASAR SEORORO!!!!!!” balas bocah laki-laki itu tak mau kalah.

Dua bocah ini masih terus saling menjambak dan saling mengatai satu sama lainnya meski banyak yang melihatnya. Aku tidak tega melihat anak perempuan itu dijambaki oleh anak laki-laki itu dengan kasarnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melerainya.

“STOP IT!” Teriakku mengaggetkan keasikan perkelahian tersebut.

“Ya! Kau siapa?” tanya keduanya bersamaan.

“Tidakkah kalian malu bertengkar di depan mereka? Dan kau? Tidak malu menjambaki rambut seorang anak perempuan. Seharusnya laki-laki itu tidak berantem dengan anak perempuan!” jawabku.

“Aku tidak kenal siapa kamu dan jangan sok menasehatiku!” ucap yang anak laki-laki.

“Gwenchana?” aku bertanya kepada yang anak perempuan.

“Oppa siapa? Tidak usah membelaku. Anak ini memang harus dikasih pelajaran karena dia sudah menenggelamkan keroro ke got. Lihatlah keroro jadi hitam begini…”

“Keroromu memang tempatnya di got!”

“YA! Kyu!”

Lalu perkelahian pun dimulai lagi dengan aksi jambak-jambakan. Anak-anak yang lain kulihat malah asik menyoraki. Aku melihat anak perempuan ini sudah sangat kewalahan melawan anak laki-laki itu, wajahnya yang putih menjadi merah seolah ia menahan gengsi untuk tidak menangis. Tanpa sadar aku memisahkan keduanya, menarik paksa pergelangan tangan anak perempuan itu dan membawanya menjauh dari kerumunan. Samar-samar terdengar sorakan dari kerumunan.

“Ciyeeeee…uhhhh…” nampaknya mereka menyorakiku yang telah mengambil paksa anak perempuan ini.

“Lepaskan! Lepaskan aku! Aku harus memberi si Kyu babo itu pelajaran untuk tidak semena-mena kepadaku! Lepaskan!” jerit anak perempuan yang masih kupegangi ini tangannya.

Ketika sudah berada di tempat yang sepi, aku baru melepaskan cengkramanku di tangannya. Anak perempuan ini mendelik tajam kearahku, tetapi bagiku delikannya itu lebih bisa dibilang “cute” ketimbang “seram”.

“Kau ada masalah apa dengan bocah laki-laki itu sampai berkelahi hebat seperti ini?”

“Kyu itu…sangat nakal dan sering iseng kepadaku. Dan kali ini isengnya melampaui batas. Ia sengaja menjatuhkan bonekaku ke dalam got.” Ucap anak perempuan ini terbata-bata masih menahan amarahnya. Diam-diam aku kagum padanya, karena ia bisa untuk tidak menangis, padahal yang aku tahu anak perempuan itu cengeng apabila diisengi.

“Tapi kan hanya boneka kecil begini masa kau harus jambak-jambakan?”

Sesaat anak itu menatapku dengan tatapan sendu. Aku jadi salah tingkah dilihat seperti itu olehnya.

“Boneka ini satu-satunya peninggalan omma-ku. Kau pasti bukan anak asrama ini kan? Ku harap kau jangan sok ikut campur!” ucap anak itu ketus sambil berlari meninggalkanku. Di dalam hati aku merasa bersalah telah menyepelekan boneka kecilnya itu, ia pasti sedih karena boneka itu dari omma-nya.

“Eh tunggu! Mianhe…” teriakku.

Anak itu berhenti berlari dan balik menghadapku.

“Jarang ada anak yang mengucapkan maaf jika setelah berbuat salah. Kata HyoYeon ommoni, orang yang langsung menyadari kesalahannya dan mengucapkan kata maaf, maka orang itu adalah orang baik. Kurasa kau adalah orang baik…gomawo ya.”

“Eh? Begitukah? Aku hanya merasa bersalah…err…”

“Seo Joo Hyun Imnida biasa dipanggil Seohyun. Kau siapa?” tiba-tiba saja anak ini melesat kedepanku dan mengulurkan jabatan tangannya.

“Heh? Lee Donghae Imnida, biasa dipanggil Donghae.” Balasku.

Tangan kami berjabatan. Saat itu juga aku ingin teriak ke omma dan appa bahwa aku telah menemukannya…menemukan adikku.

2.

Pasca kejadian perkelahian Seohyun dengan teman asramanya, yang belakangan kuketahui namanya Kyuhyun, aku berhasil merayu omma dan appa untuk membawa Seohyun ke rumah kami hari itu juga. Omma dan appa sepertinya juga langsung jatuh hati kepada Seohyun sehingga berhasillah hari itu juga aku resmi memiliki adik. Ya, aku akhirnya memiliki adik seorang perempuan yang cantik dan lucu. Namun, dibalik wajah cantik dan cute’nya itu Seohyun adalah sosok anak perempuan yang sedikit kasar dan galak.

“Buat apa aku menjadi anak kalian? Apa aku akan disayangi seperti HyoYeon ommoni menyayangiku?” ucapnya ketika ia diberitahukan akan diangkat menjadi anak omma dan appa.

“Seohyun, kau harus bersikap lebih sopan kepada keluarga Lee.” Pinta seorang wanita yang disapa Hyoyeon ommoni oleh Seohyun.

“Mianhamida…” otomatis Seohyun langsung membungkuk minta maaf kepada kami.

“Seohyun, mau kan menjadi anak omma dan appa? Serta menjadi dongsaeng Donghae oppa?” bujuk omma lembut.

“Ne! Aku mau.” Jawabnya datar.

Lalu secara bergantian omma dan appa memeluk Seohyun, aku melihatnya sangat bahagia sekali. Kami pun membantu Seohyun memberesi baju-bajunya, buku-bukunya, dan sedikit mainannya. Setelah berpamitan dengan pemilik asrama, kami pun menuju mobil untuk pulang ke rumah.

“SEORORO! KAU JANGAN MAU DIBAWA OLEH MEREKA!” tiba-tiba saja bocah laki-laki yang tadi berkelahi dengan Seohyun berteriak sambil berlari menghampiri kami yang sedang siap-siap masuk mobil.

“Kyu?” sergah Seohyun.

“Seororo kau mau kemana sih? Ayo balik ke asrama saja!” Bocah laki-laki bernama Kyuhyun itu menarik tangan Seohyun dengan kasar.

“Hai, sekarang Seohyun telah menjadi adikku. Dan sekarang dia akan tinggal di rumah kami, bukan di asrama lagi.” Aku memotong ucapan si Kyuhyun kurus itu. Huh! Sejak tadi pertama kali bertemu dengannya aku sudah sangat sebal melihat wajah sombongnya itu.

“Kau tidak boleh pergi dari sini Seororo!”

“Wae? bukankah kau senang tidak aku disini? Lepaskan tanganku! Cham…” Seohyun langsung masuk begitu saja ke dalam mobil kami. Diikuti appa dan omma.

“Seororo, siapa lagi yang akan aku isengi? Huh!”

Ku lihat meski ucapannya berlagak sok, bocah laki-laki itu tampak sedih melihat Seohyun akan pergi. Aku pun masuk ke dalam mobil, dan Kyuhyun masih memanggil-manggil nama Seororo sambil mulai menggedor-gedor kaca jendela mobil. Untung ada pemilik asrama yang langsung menghentikan aksi bocah gila itu, kalau tidak kaca jendela mobil ini bisa pecah.

“Kenapa dia sedih kau pergi? Bukankah kalian musuhan?” tanyaku ketika mobil appa sudah mulai berjalan.

“Dia…dia…mungkin akan kesepian tidak ada yang dikerjainya lagi.” Ucap Seohyun pelan. Aku menangkap ada nada kesedihan di suaranya. Mungkinkah dia juga sedih berpisah dengan bocah laki-laki itu?

Mobil kami pun berjalan menjauhi asrama. Dari kejauhan masih terdengar suara Kyuhyun.

“SEORORO!!!”

Seohyun menoleh ke belakang dengan wajah sedihnya, matanya kulihat sudah berkaca-kaca.

“Kau sedih?” tanyaku.

“Heh? Kenapa aku harus bersedih?”

“Itu?” aku menunjuk matanya yang berkaca-kaca.

“Hahahaha, aku hanya ingin menangis senang karena berpisah dari dia karena tidak ada lagi yang akan membuatku marah.” Ucapnya.

Aku tahu gadis ini berpura-pura menutupi kesedihannya karena lima detik kemudian ketika kutengok kembali, ia sudah menangis deras tanpa suara dengan wajah memilukannya.

3.

Hari-hariku menjadi lebih ceria karena kehadiran adik baru. Kami sekolah bareng, bermain bareng, dan selalu bersama-sama setiap harinya karena sejak awal aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk terus menjaganya dengan baik. Seohyun tumbuh menjadi gadis yang cantik, bahkan teramat cantik. Hanya saja, perangainya masih belum berubah. Ia masih kasar dan di sekolahnya sering terlibat kasus perkelahian. Nilai-nilai sekolahnya pun hancur tak tertolong.

“Seohyunnie belajar dong jangan main terus.” Tegurku suatu ketika saat ia akan melaksanakan ujian akhir untuk lulus High School.

“Ah oppa! Belajar mah gampang nanti malam juga bisa. Aku ada janji nih sama temen-temen satu genk buat nonton konser TVXQ, apa oppa mau ikut?”

“Apa? Nonton konser? Dua hari lagi kamu ujian akhir loh Seohyunnie!”

“Ne aku tahu tanpa oppa kasih tahu pun! Tapi, sorry oppa! Aku tidak bisa melewatkan bertemu Max malam ini. Dan lagian SMent akan memperkenalkan sebuah boyband baru ditengah-tengah konser, aku dan genk girls generation sudah menantikannya sejak lama.”

“Seohyunnie, kalau omma dan appa bertanya tentangmu, oppa harus jawab apa?”

“Bilang aja aku kerja kelompok di rumah Jessi. Dagh oppa aku pergi! Bye bye!”

Selalu saja seperti itu, tidak pernah mau menuruti perkataanku. Jangankan perkataanku, omelan Omma dan Appa saja Seohyun tidak pernah mau dengar. Kalau sudah begini aku yang akan marah karena omma dan appa pasti akan mengungkit-ungkit lagi masa lalu Seohyun yang diambil dari asrama.

“Salahmu sih tidak dilihat terlebih dahulu asal-usul anak itu, darimana ditemukannya? Aku curiga ia lahir dari keluarga yang tidak benar, melihat tingkahnya yang seenaknya itu.” Itu adalah komentar terpedas dari Appa tentang Seohyun yang pernah kudengar. Aku marah sekali ketika mendengarnya. Seohyun adikku adalah adik yang manis, dan ia akan bisa berubah dari tabiat kurang baiknya.

Malam sudah larut Seohyun baru pulang, aku sedari tadi menunggunya dengan cemas di depan pagar. Omma dan Appa sudah mewanti-wanti akan menghukumnya jika ia pulang nanti.

“Kau baru pulang sih? Tadi janji sama oppa tidak akan selarut ini?”

“Mianhe oppa, aku ke pub dulu…” aku langsung kaget ketika mendengar alasan yang dilontarkan Seohyun. Apa ke pub? Gadis berusia 18 tahun ini sudah berani ke pub pada malam-malam begini?

“Pub? Kau minum alkohol? Kau mengecewakan oppa!”

“Wae? kenapa sebegitu kagetnya sih? Aku cuma tidak bisa menolak tawaran dari seorang kawan lama.”

“Terang saja oppa kaget! Kau belum pernah ke pub sebelumnya, tahu begitu oppa seharusnya tadi menemanimu! Di Pub itu banyak lelaki hidung belang, Seo Joo Hyun! Lalu, siapa yang kau maksud kawan lama? Bukankah kau tadi berangkat ke konser bersama genk girls generation?”

“Ne, mianhe. Tadi aku di konser TVXQ bertemu dengan kawan lamaku, aku kaget oppa dia ternyata salah satu dari personel member boy band yang baru debut itu.”

“Kawanmu semasa SD? SMP?”

“Annii…kawanku semasa di asrama dulu. Kau juga kenal kok oppa orangnya…”

“Asrama? Aku mengenalnya? Siapa?”

“Itu loh bocah kurus yang berkelahi denganku saat kau datang. Cho Kyuhyun! Aish aku tidak mengira ia menjadi member boy band. Ohya, nama boy band’nya Super Junior.”

“Kyuhyun? Yang meledekkimu Seororo? Bocah itu?” Bayanganku kembali mengingat satu sosok bocah laki-laki kuru, berambut cokelat ikal, dan bertampang sok.

“Ne…aku kaget sekali tadi.”

“Tapi tahu dari mana kau bahwa itu Kyuhyun masa kecilmu?”

“Saat ia menyebutkan namanya, ia masih menggunakan marga Cho. Lalu di backstage aku berusaha menemuinya dan ya akhirnya kita saling mengenali.”

“Lalu kau pergi minum dengannya?”

“Iya kami pergi minum untuk merayakan pertemuan kami kembali. Sudah ya Oppa interogasinya, aku ingin tidur…lelah sekali.”

“Baiklah, good night Seohyunnie…”

Entah mengapa ada perasaan tidak enak ketika mengetahui Seohyun bertemu kembali dengan Kyu masa kecilnya. Aku ingat benar ketika dulu ia menangis berpisah dari Kyuhyun itu. Seohyun bilang suatu hal padaku waktu itu: “aku sebenarnya menyukainya, oppa…”

Dan apakah perasaan suka itu masih ada di hati Seohyun? Kalau iya, bagaimana dengan perasaanku? Huh…

4.

Sudah sering Appa dan Omma memarahi Seohyun, namun tidak separah malam ini. Siang tadi adalah hari pengumuman kelulusan Seohyun sekaligus penentuan apakah ia lolos masuk University Seoul atau tidak. Mengingat belajarnya yang bolong-bolong, aku sudah menduga gadis itu tidak bisa masuk universitas yang sama denganku. Namun, rupanya Appa dan Omma menaruh harapan besar kepadanya sehingga mengetahui hasil nilai kelulusan Seohyun yang pas-pasan dan kenyataan ia tidak lolos University Seoul membuat Omma dan Appa marah besar. Terlebih lagi, malam ini Seohyun ketahuan pesta di night club lagi bersama teman-temannya. Alhasil, pulang-pulang ia mendapat amukan dari Omma dan Appa.

“Seo Joo Hyun! Dari mana saja kau?” Appa mulai angkat bicara duluan.

“Dari Club, waeyo? Kenapa kalian bertiga berkumpul di sini? Menyambutku ya?” Seperti biasa Seohyun selalu bersikap santai dan tidak ada beban atau merasa bersalah.

“Huh! Mulutmu bau sekali alkohol! Kau tahu bahwa kau lulus dengan nilai yang memprihatinkan? Dan kau tidak lolos masuk University Seoul. Apa ini semacam penyambutan bagimu?” Appa mendelik tajam ke Seohyun yang malah asik melihat layar i-phonenya.

“Oh? Sangat disayangkan. Lalu kalau bukan penyambutan apa dong? Jika tidak ada yang penting aku ingin tidur,”

PLAK! Appa sepertinya sudah tidak kuasa menahan emosinya sehingga tamparan melayang di pipi Seohyun.

“APPA?!” pekikku ketika ia menampar Seohyun. Baru kali ini Appa emosi hingga main tangan seperti itu.

“Kenapa kau Donghae? Masih mau membela adikmu yang bengal ini? Tidak bosankah kau sejak dulu selalu membelanya? Tetapi yang dibela tidak pernah menyadari kesalahannya dan selalu membangkang.” Ujar Appa kepadaku dengan emosi yang kentara sekali terlihat.

“Appa, mungkin uri Seohyun masih terbawa pengaruh alkohol sehingga ia tidak sopan seperti ini. Seohyun, minta maaf sama Appamu ya…” Omma ikut bicara kali ini.

“Anak ini harus tahu kesalahannya, selalu hura-hura, menghambur-hamburkan uang seenaknya. Jika kau tidak mau lagi menuruti aturan disini lebih baik kau pergi kembali ke asalmu!”

“Chengsohamida Appa. Tapi, kebetulan sekali aku juga ingin menyampaikan sesuatu pada Omma dan Appa. Aku tahu, aku hanyalah seorang anak tiri kalian, dan aku pun tahu aku tidak bisa dibanggakan seperti Donghae oppa. Jeongmal mianhe selalu merepotkan selama ini, jika keinginan Appa adalah mengusirku, Ne aku akan pergi dari rumah ini.” Seohyun mulai berlari menuju kamarnya di lantai atas. Ku lihat sekilas di wajahnya tidak ada setetes airmata pun jatuh.

“Andweee Seohyun, bukan begitu maksud Appamu.” Potong Omma yang sudah mulai menangis.

“Sudah cukup! Biarkan dia pergi dari sini, jika dia menyadari kesalahannya pasti dia akan kembali.” Ucap Appa.

“Appa jahat sekali pada Seohyunnie! Tak tahukah Appa? ucapan Appa sangat menyakiti hatinya.” Aku berlari mengejar Seohyun ke kamar, aku ingin ada disisinya saat ini ia pasti sangat terluka sekali.

“Seohyunnie? Boleh oppa masuk?”

“Ne, oppa masuk saja pintunya tidak terkunci.”

Aku melihat ia sedang mengemasi baju-bajunya. Aku menghentikan aktifitasnya itu dengan menahan tangannya.

“Maafin Appa, dia hanya lagi emosi. Kau tahu kan? Sebentar lagi juga akan membaik.”

“Apa aku masih pantas ada disini? Sekarang aku udah lulus sekolah dan tidak lolos masuk Universitas, terus aku mau apa disini? Terus-terusan menjadi sampah?” Seohyun mulai menitikkan airmata di sudut matanya.

“Oppa…” ia terisak dan berlari ke pelukanku. Ia menangis dengan kencang sehingga tubuhku pun ikut bergoncang. Ku rengkuh kepalanya, ingin mengecupnya agar ia bisa tenang. Namun, aku masih belum ada keberanian melakukan itu, meski hati ingin sekali.

Ini kali keduanya ia menangis di depanku. Seohyun adalah sosok yang tegar dan jarang menangis, bahkan ia tidak pernah menangis jika merindukan ibu yang melahirkannya. Itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya, sifatnya yang keras dan kuat dibalik wajahnya yang teduh. Seohyun tidak pernah sebegini sedihnya meski sudah seringkali ia dimarahi Appa. Aku teringat dulu waktu keinginan Seohyun ditentang habis-habisan oleh Appa. Saat itu ia ingin masuk sekolah kesenian, karena ia sangat suka sekali dance. Tetapi, keinginannya ditentang oleh Appa karena Appa ingin dia masuk sekolah Hukum. Sejak itulah ia berubah menjadi anak yang sedikit membangkang atau yang lebih cocok dibilang “memberontak”. Saat itu ia tidak menangis, jangankan menangis, mengeluh pun ia tidak.

“Aku selalu mensyukuri bisa mendapatkan keluarga, harapanku tidak terlalu penting oppa…” itulah ucapan yang selalu ia lontarkan ketika ia kutanya apakah kecewa dengan Appa yang menentang keinginannya.

Seohyun…Ya, gadis yang sekarang sedang menangis pilu di pelukanku ini adalah cintaku, segala-galanya untukku. Aku jatuh cinta padanya ketika pertama kali melihat matanya. Aku mengingini dirinya di setiap malam, dan itu sangat menyiksa tidak bisa menyentuhnya sebagai seorang kekasih.

“Menangislah sampai kau puas, tapi janji ya sama oppa setelah puas menangis maka tidak ada lagi kesedihan di hatimu.”

“Oppa…apa salahku dengan ibuku? Mengapa ia membuangku?” tanyanya disela isak tangisnya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang ia pernah ucapkan sewaktu ia berulang tahun yang ketujuh. Aku ingat benar, di penghujung musim semi saat aku memberinya surprise hadiah berupa sekarangan bunga yang kupetik sendiri dari kebun untuknya.

“Oppa, gomawoyo…bunganya indah sekali.”

“Ne…aku senang jika kau suka.”

“Oppa, kau tahu? Sebenarnya aku tidak pernah tahu kapan ulangtahunku sebenarnya. Tanggal 28 Juni ini adalah pemberian HyoYeon omoni. Dan kau tahu? Bunga ini adalah hadiah pertamaku…hihi.”

“Sincha?”

“Ne…semua anak di panti pun seperti aku, tidak pernah ada yang mengingat kapan mereka dilahirkan.”

“Mulai sekarang ada oppa yang akan selalu ingat hari ulangtahunmu…”

“Tapi, mengapa ibuku tega membuangku ya oppa? Apa salahku padanya?” Seohyun bertanya padaku dan aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku tidak tahu Seohyun…tapi, mungkin agar Tuhan mempertemukanmu denganku.”

“Mungkin…”

Haruskah kini pertanyaan itu kujawab dengan jawaban yang sama?

“Ia tidak pernah membuangmu, kau ditaruhnya di asrama berarti ibumu masih memikirkanmu. Lihat, banyak bayi yang dibunuh atau dihanyutkan begitu saja di sungai. Kau menyesal atas apa yang terjadi padamu, Seohyun? Menyesal menjadi bagian dari keluarga kami?”ucapku sembari mengelus pelan punggungnya, berusaha membuatnya tenang.

“Anni…aku tidak pernah menyesal.”

“Kalau begitu kau masih mau pergi?”

“Ne oppa…mianhe tapi aku harus pergi, aku ingin sendirian saat ini.”

“Baiklah, percuma aku membujukmu karena aku tahu kau pasti tidak akan menurutinya. Tapi, tolong jangan pergi malam ini juga. Ini sudah sangat larut dan kau pergi dengan tujuan yang belum jelas.”

“Ne…” ucapnya pelan.

Sepertinya Seohyun terlelap dalam pelukanku karena tidak ada lagi suara tangisan terdengar. Dengan perlahan-lahan kurebahkan badannya di tempat tidur. Ku amati wajahnya yang sedang terlelap itu dengan intens. Ia selalu manis, bahkan bukan hanya saat sedang tertawa. Dan aku paling senang memandanginya saat tertidur seperti ini. Tanpa sadar aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dengan mengikuti naluriku, bibirku sampai di ujung bibirnya.

I met you, loved you and hurt by that love

Just looking at you without being beside you, I’m a fool.

When you cried, I cried. When you smiled, I smiled.

Like a child, just following you whatever you do, I’m a fool…

‘Ah, apa yang aku lakukan?’ aku langsung segera menarik wajahku menjauh dari wajah Seohyun. Sepersekian detik aku mematung melihatnya, hatiku bergetar hebat saat memandangnya dan aku kembali mengecup bibirnya dalam-dalam. Seohyun menggeliat tanda ia terusik, kembali aku menarik hasratku. Aku memutuskan tidur di sampingnya, seperti kebiasaan lamaku. Dulu memang Seohyun sering memintaku menemaninya tidur, karena dia memiliki paranoid gelap. Karena kebiasaan itulah cintaku padanya terus terpupuk. Bagaimana tidak? Hampir setiap malam ia terlelap disampingku, merasakan hembusan nafasnya, dan bersentuhan dengannya di sepanjang malam. Aku yakin benar Seohyun sama sekali tidak merasakan apa yang kurasa. Ini murni hanya aku yang merasakan getaran-getaran itu. Getaran menyakitkan ketika rambutnya mengenai wajahku namun hanya bisa kudiamkan tanpa menyibak dan mengelusnya.

I love you but I guess you can’t hear it

I love you but I guess you don’t know it

I shed teardrops in my heart but I guess you don’t see it

I call out your name but you  can’t hear it…

You are the only one for me but you don’t know it…

God, mengapa kau menganugerahiku perasaan ini? Perasaan yang tidak mungkin terbalaskan. Aku harus bagaimana? Memutuskan untuk tidak mencintainya? Tidak akan bisa sampai ada yang menghilang salah satu dari kami. Seumur hidup rasanya tidak akan pernah bisa mencintai seseorang yang lain.

“Oppa, kenapa belum pernah punya pacar sih?” tanya Seohyun suatu ketika.

“Karena kamu belum pernah punya pacar juga. Hehe…” balasku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Lah kenapa begitu, oppa?”

“Ya, pokoknya oppa maunya kamu dulu yang pacaran. Menikah pun begitu, oppa harus memastikan kebahagiaanmu dulu baru memikirkan kebahagian oppa. Thats cool kan? Hehehe…”

“Ah cham!” Seohyun menjitak kepalaku.

“Tapi Seohyunnie sudah pernah merasakan jatuh cinta?”

“Sudah…tapi orang itu bagaikan angin oppa, yang hilang dan tidak bisa kuraih. Oh ya, apa oppa pernah merasakan dimana hati tidak bisa mencintai orang lain kecuali orang itu?”

“……..” Aku membisu, ingin sekali menjawab ya. Karena benar, hatiku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu, Seohyun.

My love is blind, my love is poignant, and I can’t do that.

Just turn around and I’m right here behind you.

When you’re tired of someone else’s  love, hurt by someone else’s love

Just turn around once.

Bodoh hanya menjawab pertanyaanmu dalam hati saja.

I’m sorry because I only know you

I’m nothing without you.

Because of this bitter love, I call for you.

You don’t know…

5.

Aku terkejut saat membuka mata dan menemukan akan posisi tidur kami berdua yang saling merapat dan bertaut satu sama lain. Seingatku semalam kami tidak seerat ini, tapi pagi ini kepala Seohyun sudah menelungkup di dadaku dengan tanganku yang terbuka dan merengkuh bahunya. Aku segera ingin merubah posisi namun kenyamanan menyelimutiku saat aku bisa mencium aroma rambutnya.

“Donghae oppa…ah…” Lirih Seohyun dengan mata masih terpejam. Sepertinya ia mengigau memanggil namaku. Aku jadi penasaran apakah ia tengah bermimpi bersamaku?

“Saranghae…” lirihnya lagi dan kali ini membuatku terlonjak kaget. Apa? Saranghae? Seohyun…apakah ia juga mencintaiku? Tiba-tiba saja tubuh Seohyun bergerak masuk lebih mengikat pada tubuhku. Ia terus mengigau dengan suara ringisan. Mimpi burukkah ia? Lalu mengapa dia memanggil namaku dan mengucapkan saranghae?

Dengan posisi saling menempel seperti ini membuat hatiku tidak tenang. Sebagai seorang laki-laki normal, terlebih lagi terhadap yeoja yang dicintai, ini sungguh menyakitkan. Akal sehatku nampaknya tidak menerima instruksi dengan benar lagi, aku mulai menelusuri lekukan wajah sampai lehernya dengan jariku. Ku kecup bibirnya, dagunya, sampai dadanya.

“Eh? Oppa?!” Seohyun terkesiap ketika membuka mata dan mendapatkan tubuhku yang sedang menelusuri tubuhnya.

“Donghae oppa? Apa yang sedang kau lakukan?!”

Aku langsung menjauh dari Seohyun dan terduduk lesu di pinggir tempat tidur. Aku tidak berani menatap matanya.

‘Pabo Donghae! Lihat sekarang kau sudah tertangkap basah sedang menciumnya. Kau mau beralasan apa padanya? Hah?’        

“Donghae oppa? Lihat aku! Apa yang tadi kau lakukan kepadaku?” Seohyun mulai berkaca-kaca. Tangannya sibuk meyapu-nyapu bibirnya dengan kesal.

“Mianhe…”

“Apa maksud permintaan maafmu?”

“Mianhe Seohyun aku telah mencintaimu.” DEG! Aku tidak menyangka bibirku berani mengatakan hal itu. Aku semakin tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan ketakutanku di bawah pandangan tajamnya.

“Hah?”

“AKU MENCINTAIMU, SEJAK DULU HINGGA KINI!”

Seohyun langsung bangkit dari tempat tidur dan berdiri dengan badan yang gemetar.

“Tolong biarkan aku mengeluarkannya. Aku terlalu lama memendamnya. Aku hanya ingin sedikit membuat hatiku tenang…”

“Keputusanku untuk pergi dari rumah ini ternyata memang telah tepat ya? Aku hanya menimbulkan kekacauan bagi kalian. Sekarang oppa harus merana karena mencintaiku? Izinkan aku menjauh dari kalian…dan jangan mencintaiku oppa karena itu adalah kesalahan.” Seohyun berkata seraya mengambil kopernya di sudut kamar dan berlalu pergi. Kakiku seolah bergerak sendiri mengejarnya dan memeluknya dari belakang.

“Jangan pergi…jebal…apa aku salah dengan pengakuan itu?”

“Tentu oppa salah! Pengakuan itu akan semakin membuat kita jauh, aku tidak akan bisa lagi menganggap kau kakakku. Hhhhh…entahlah.” ucapnya sembari melepas pelukanku.

Dan ia telah pergi. Satu menit setelah pengakuan sintingku…

6.

Epilog

Musim-musim telah berganti, tapi dirinya tetap tidak bisa tergantikan disini. Masih. Di setiap malam-malam aku merindukan bayangannya. Masih. Di setiap ku longok kamarnya yang lengang, aku membayangkan wajahnya sedang tertawa kepadaku. Dan hatiku sakit ketika suatu hari aku menerima sepucuk surat darinya, dari pujaan hatiku.

Dear Donghae Oppa…

 

Mianhe…Mianhe…Mianhe…

Itu selalu kata yang ingin aku ucapkan padamu. Mianhe telah menyakiti hatimu, dan kasar padamu di terakhir kita berbicara. Aku selalu menyesal atas yang aku lakukan padamu.

            Oppa, apa oppa bahagia disana? Bagaimana kabar Omma dan Appa? Aku harap kalian selalu bahagia dan sehat. Sampaikan juga permintaan maafku, telah pergi dari rumah dengan cara yang buruk. Tapi, aku rasa itu demi kebaikan kita bersama. Oppa…aku disini sudah menemukan cintaku, cinta pertamaku…Setahun yang lalu aku menikah dengan Kyu, kami tinggal di Shanghai sekarang. Aku sedang belajar menjadi dancer yang baik disini, karena itulah mimpiku. Doakan aku selalu ya oppa!

            Oh ya oppa, terkadang kita memang tidak bisa memaksakan orang yang kita cintai mencintai kita. Tetapi, ketulusan hati kita akan bisa sampai padanya oppa..dan itu bisa membuat orang yang kita cintai bahagia. Begitu juga denganku, aku baru menyadari bahwa setengah dari usiaku bisa merasakan bahagia karena adanya ketulusan cintamu. Gomawo Donghae oppa, dan sincha mianhe…

 

Ps: aku menyayangimu sebagai adik, aku harap kau pun begitu.

 

 

Sun sayang,

 

-SeoHyunnie-

 

            Aku menahan diri untuk tidak menangis membaca surat darinya. Aku harus menatap ke masa depan karena janjiku sudah terpenuhi, ia sudah bahagia bersama dengan orang yang ia cintai. Dan itu cukup bagiku.

30 years later

 

Aku terpaku di depan peti mati ini. Ini pertemuan kembali diriku dengannya setelah terakhir kali kami berbicara satu sama lain pada pagi hari itu, pada hari pengakuan cinta itu. Dan kini, aku harus bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini? Keadaan dimana kau tidak bisa mendengar suaraku dan aku tidak bisa mendengar suaramu.

“Nyonya, apa Anda keluarga dari almarhum?”

“Ah ne…”

“Kalau begitu apa Anda bersedia mengurusi pemakamannya?”

“Eh? Apa tidak ada istrinya atau anaknya?”

“Tuan Donghae tidak memiliki satu keluarga pun, baik istri maupun anak…”

“…….”

Oppa…aku bersimpuh di depan bingkai fotonya.

-END-

 

 

 

 

 

Aku mencintaimu, sejak aku membuka mata sampai kelak aku menutupnya…

Jangan pernah memohon untuk aku bisa melupakanmu, jika kau tidak pernah merasakan rasa tidak bisa mencintai seseorang yang lain. 

Note:

Honestly, ini ff dibuat di tengah2 penggarapan Bride Wars 5 lho hhe…mood aja buat ff pair SeoHae mianhe buat YoonHae ship/Seokyu ship *bow*

Oya, rencananya mau buat sequel Kyuhyun Point Of View. karena aslinya, Seo dan Kyu disini sling suka dr kecil…tapi baru rencana yaaa hoho😀

54 responses »

  1. wuuuuuuuuuuuuuuuuuahhh..
    sedih bgt,,
    donghae nya kasian..
    tp mo gmn lg, seo nya udah anggap hae kayak oppa nya sendiri..
    hae beneran naanya cinta mati deh, cinta yg dibawa ampe mati..

  2. First?! Aigooo *gigit alysa eonni* wkwkwk, sumpah eon T.T sedih bgt bacanya😦 sekalinya ada FF seohae kenapa sad end begini? Huhuhuh T_T ayuu dong eon, buat seohae yg happy ending *ngerayu* wkwkwk, pokoknya FF buatanmu the best lah, ditunggu FF-mu yg lain ya😉

  3. kenapa sedih sekali???
    this story just make can’t resist my tears!!!
    Donghae oppa!!!
    noo…bener2 kayak ada yg ilang rasanya!!
    sedihhhhhh
    cepet aja buat squelnya!!!
    cepet yahh!
    ntar mlem update please!

  4. hya !! sad ending nih.. ya ampunn aku pengen nangis dehh.
    huhu haepa.. dirimu sungguh setia..
    padahal awalnya aku pengen berakhir seohae . hehe
    ee tp malah haepa meninggal. ck.
    admin juga seomates ya ? sama dong ..
    jadi pair-pair yang main cast utamanya seo unie pasti aku baca deh. .

  5. Aduh ni ff daebak bgt,, ampe nangis nih bacnya..
    Ceritanya bnar” menyedihkan..
    Donghae ksihan bgt,,
    dan salut tetep setia sma seo, gk berpindah ke lain hati..

    Buat squelnya ya..

  6. Aku ga tega kalu mau bikin lagi yang kaya gini. Ini aja uda nangis2. Apalagi dari kyu pov.
    Ini tu hae totally kasian. Seo stay kurang ajar gitu alasannya ga kuat. Jadi kecapturenya 1. hae kasian 2. Seokyu jahat.
    Berhubung aku sayang sama hae, tidak manusiawi sekali rasanya liat hae menderita sampai akhir hayat. Bukan artinya aku pengen seohae sih. You know me lah.

  7. eonni..! eonni jahat deh buatnya sad end. huaaa huaaa
    baru kali ini aku nangis karena ff buatan eonni.
    bener bener nangis

    feelnya dapat banget.
    Donghae oppa baik ya.. tetep cinta Seomma dari pertama sampai akhir dia meninggal.
    love is never end
    huaa.. huaa..

    nextnya Kyuhyun POV ya? waaa.. asyik tuh
    jadi penasaran. eonn.. lekas buat ya..😉

  8. chingu..
    ceritanya benar2 sedih😥
    kasihan banget haeppa.. padahal cintanya itu tulus buat seo unnie.. tapii seo unnie hanya anggp itu sbgai oppanya T^T
    daebak laahh :’D

  9. Huaaa….. Bnjir air mta!#lebay
    Ksian hae ny, sking cnta ny ma seo smpe2 gk kwin!!
    D sni seo rda2 bandel gtu ea!!
    Pkok ny best dch nich crta!!
    Bkin ff tntng seo lg ea!!^^

  10. ceritanya menarik
    feel sedihnya lumayan dapet.
    penulisannya rapi. tapi agak kurang suka kalo ada bahasa ‘slang’ indonesia yang ikutan masuk.
    berhubung ini onet shoot, kesannya jadi agak terburu-buru alurnya.

    by the way itu bukan TVSQ, tapi TVXQ.
    entah typo atau apa, aku harap segera diperbaiki. aku hard fans masalahnya
    maaf kalo tersinggung.

  11. seo nakal bgt.. umur 18thn dah k pub…
    donghae kasian,, sampe dy meninggal pun tetep mencintai seo,, g ad yg bisa gantiin seo…
    donghae cinta mati k seo..
    seo sama sepertiku suka changmin… kekeke

    ff mu daebak ^^

  12. Waw, nice idea. Takjub sama ide2 cerita yg ada di blog ini. Deskripsinya oke.. Kayanya bakal nambah bookmark lg ni.
    Anyway, salam kenal🙂

  13. Waw nice idea. Takjub sama ide2 cerita yang ada di blog ini. Kayanya bakal nambah bookmark ni.
    Anyway, salam kenal🙂

  14. Aduh sedih bgt ceritanya..
    Donghae setia bgt smpai maut menjelang dia tetap mencintai seohyun..
    Aigoo.. Nangis bombay nih
    Sangat terharuuuu

  15. Ahh kasihan ama donghae, dsatu sisi ingin seohae bersatu, satu sisi lg ingin seokyu..#dilema.
    Mw dong thor sequel yg seokyunya….?

  16. Aduh, ga nyangka Hae-oppa bisa kayak gini yah,, cinta sampe mati, rela gak nikah demi Seo, ada kan sequelnya? Tolong dibikin yah? Gomapta chingu🙂

  17. Syang bgt baru nemu ff.a skarang..
    Kcian haeppa,knp gx ad yoong bwt jd plipur lara haeppa.?
    Hiks..smpe nangs bca.a..

  18. ya ampun ceritanya keren banget hahaha authornya daebak nih =)

    karakter seohyun agak kasar ya, di sini khehehe, bertolak belakang banget sama Donghae. sebenernya saya WiRes juga (salam kenaal) tapi baca ff ini saya tersentuh. jujur pilihan kata yang dipakai dalam penggambaranya pas, feelnya dapet. sedih bener endingnya, kenapa Donghae harus meninggal sebelum ketemu lagi sama Seohyun huhuhu

    saya kagum sama karakter Donghae di sini. dia belum menikah selama 30 tahun, ya ampun. saya nggak nyangka. pokoknya authornya keren banget, deh. empat jempol nggak cukup kayaknya buat nilai ff ini =D

    keep writtin, FIGHTING~

  19. bru bca nih,,
    knp sohyun ngak sma donghae,, padahal aq seohae lohh..
    author bkin FF tntang seohae lgi yh,, tpi harus happy end yh..

  20. termewek mewek deh bc endingnya..segitu cintanya hae sma seo..seneng juga seo sma kyu,,tp tetep ga tega bc endingnya donghae,,ff yg bgus thor ^^

  21. Baguuuuus… Bacanya sampe sedih…
    Ada nggak ya sosok yg seperti donghae di kehidupan nyata?!
    Hm… Author, daebakk nih karyanya bikin terharu. Ditunggu FF selanjutnya.. :)))

  22. Hiks hiks huwee#crying in luhan’s hug :p
    my clothes is wetting because my tears
    i am crying like crazy

    fishy hae#plak
    your life in ff very suffer#kicked by fishyelf
    i’m very glad#threw by fishyelf again😄

    in ending hae oppa have died
    nooo how to monkey(eunhyuk) if he leaved eunhyuk?#eh
    this ff daebak make me can sleep and bring to my dream#lebay
    ok lh aku tunggu sequelny keep writing author

  23. hyaa, keren banget ni ff..
    jd suka ama SeoHae,, kpn” buat ff seohae lg ya..
    keren bngt nih, feel nya dapet..
    hwaiting eonnie!!! ^^

  24. huaaaa kenapa ya? kalo ada ff seohae pasti sad ending-_-tapi nice ya chingu,dpt bngt feel nya,terharu banget.. :)hehehe

  25. kasihan dong hae😦
    meninggal tanpa istri dan anak?? ngenes bgd,
    seohyun kok nakal ya??? ga bisa dibayangin deh kyak gmna?😀
    good job chingu for your imagination (y)

  26. Huhu,sedih thor..:'(
    lha yg d mimpi.ny seo itu dy bilang saranghae k spa thor?
    ah,nyari sequel.ny dulu aj ws..
    keep writing and fighting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s