Pearl Harbour (OneShoot)

Standar

PEARL HARBOUR (FanFic Yongseo/Basic on Movie)

"ff yongseo"

Main Cast:

Jung Yonghwa

Seo Joo Hyun

Kang Minhyuk

Other Cast:

Kwon Yuri

Jung Nicole

Lee Joon

Jungshin

Note: Well, di blog ini memang pd dasarnya gak melulu mengisahkan suatu pair. Jadi, ff ini lahir karena ternyata dr polling sebelah kanan itu aku lihat ada bnyk juga Yongseo shipper. Sebelumnya udah ada ff seokyu,seokey,minse,seohae…dan  rasanya ga adil kalau aku ga buat ff yongseo. So,ff yg diadaptasi dr film KESUKAAN ku ini aku persembahkan buat para Yongseo shipper atau buat shipper lainnya yg emang suka sm tulisan2ku (*emang ada? ngareeppp*) haha.

Tennesse, 1923

Di sebuah perkebunan luas, nampak dua bocah laki-laki yang nampaknya seumuran sedang bermain bersama. Mereka sedang bermain perang-perangan dengan menumpangi rakitan yang menyerupai helikopter. Seorang bocah laki-laki sedang memimpin temannya, dan yang satu lagi sedang memberi intruksi.

“Minhyuk-ah, suatu saat nanti aku akan menjadi pilot dan berperang dengan gagah!” seru bocah laki-laki yang sedang berpura-pura menyetir rakitan helikopter.

“Yonghwa-ah, lihat! Ayahmu sudah datang!” pekik Minhyuk ketika melihat ada sebuah helikopter mini berwarna orange mendarat di padang dekat mereka berdua main.

Lalu keduanya menghentikan permainan mereka dan segera berlari menghampiri helikopter yang sudah landas dan terparkir di padang lapangan.

“Ayo naik Minhyuk-ah! Aku akan menjadi komandan pasukan, kau duduklah di belakangku!” seru Yonghwa dengan antusias. Minhyuk nampak ingin protes karena dirinya selalu ada di belakang Yonghwa, tetapi niatnya diurungkan karena memang Yonghwa memiliki perawakan yang lebih besar ketimbang dirinya.

Mereka pun menaiki helikopter mini yang merupakan milik ayah Yonghwa, namun keduanya panik ketika Yonghwa tak sengaja memencet tombol lepas landas. Alhasil helikopter itu pun jalan dengan oleng.

“Yong, kita akan mati!!!” teriak Minhyuk panik karena mereka sudah mulai terbang menjauhi tanah.

“Gwenchana, aku sudah sering melihat ayahku menjalankannya.” Jawab Yonghwa tanpa cemas.

BRUKK BRUKK…helikopter itu akhirnya mendarat dengan sembarangan.

“Aisssh, aku akan dimarahi ayahku pasti!” gumam Yonghwa.

“Hehe…kau belum bisa menjadi kapten nampaknya!” sindir Minhyuk.

Keduanya pun tertawa dibawah mentari senja, menanti masa depan mereka dengan hati berani.

Long Island, 1941

Jung Yonghwa dan Kang Minhyuk tumbuh menjadi dua pemuda tampan dan sudah masuk ke akademi Militer khusus penerbangan. Keduanya adalah trainer muda yang dipersiapkan dalam pasukan peperangan. Mereka berdua bukan satu-satunya pemuda Korea yang ada di Amerika, banyak juga imigran yang berasal dari Korea, baik prajurit, masyarakat sipil, perawat, dan Dokter. Di bawah akademi Militer, Yonghwa dan Minhyuk seringkali berlatih bersama, keduanya memiliki harapan menjadi juru Bom di satuannya.

Pada suatu hari, desas-desus berkembang bahwa di Eropa akan terjadi peperangan. Dan beberapa juru terbang di seleksi untuk dikirim ke medan perang, begitu juga Yonghwa dan Minhyuk. Awalnya Minhyuk tidak sepakat dengan Yonghwa yang sangat berambisi mengikuti seleksi tersebut dikarenakan mereka masih terlalu muda dan amatir, terlebih lagi Yonghwa memiliki kendala pada penglihatannya.

“Ini perang sesungguhnya, Yong…hanya yang menang yang dapat balik lagi.” Ucap Minhyuk

“Aku paham benar karena Ayahku adalah prajurit. Ini kewajiban, Minhyuk-ah…come on! Lagian ini adalah peluang kita menjadi juru pengebom.” Balas Yonghwa sambil berlalu meninggalkan Minhyuk yang masih cemas dengan sahabatnya itu.

“Aku mau menjemput pacarku di stasiun, kau ikut tidak?” ucap Yonghwa lagi.

Di lain tempat,

Dalam laju kereta, beberapa kumpulan gadis-gadis perawat sedang asik bercerita. Masing-masih bercerita tentang pengalaman mereka menjadi suster/perawat di kamp. Militer. Kebanyakan dari mereka menjalin asmara dengan para prajurit. Salah satu perawat tercantik di perkumpulan itu adalah Seo Joo Hyun, ia adalah gadis keturunan Korea yang mengikuti ayah dan ibunya berimigrasi ke Amerika. Seohyun biasa ia disapa adalah perawat tercantik disana, wajahnya berbeda dari perawat-perawat lainnya karena memiliki khas oriental. Kulitnya putih mulus tanpa cela, berbeda dengan gadis Amerika yang memang putih namun terselip bintik-bintik. Bibirnya merah mekar, hidungnya mancung, dan matanya memiliki sorot yang hangat tapi berani. Ia bersahabat dengan seorang gadis Korea pula bernama Yuri dan seorang gadis Amerika bernama Nicole.

Seohyun Pov

Aku masih teringat jelas kejadian empat tahun lalu, dimana aku pertama kali bertemu dengannya. Laki-laki itu datang dan berhasil membuatku jatuh cinta…

Flashback…

Di ruangan medis, para perawat sedang sibuk memeriksa kesehatan para prajurit yang akan diseleksi menjadi juru terbang/pilot. Yonghwa nampak gugup berjalan di depan Minhyuk, kegugupannya ini bermuara karena dia takut tidak akan lolos medical check up di salah satu test indera penglihatan. Yonghwa memang memiliki kekurangan pada penglihatannya dan itu membuatnya cemas tidak akan bisa melalui test membaca huruf-huruf yang telah disediakan.

“Minhyuk-ah, aku tidak tahu harus berbuat apa apabila aku tidak lolos tes ini.” Ucap Yonghwa parau.

“Tenang, aku akan membantumu dari belakang.” Balas Minhyuk. Mereka pun mulai mengantri di tes penglihatan. Sesekali Yonghwa melirik kertas contekannya yang berisi ejaan huruf yang terpampang di papan tes.

“Silahkan baca huruf-huruf di papan depan sana.” Ucap seorang perawat tanpa menoleh ke Yonghwa.

“J M L K W X..” ucap Yonghwa dengan cepat, ia tentu saja menghapal ejaan huruf tersebut bukan membacanya.

“Tolong ulangi dengan intonasi yang  wajar,” ucap perawat itu masih sibuk memeriksa file-file. Yonghwa mulai panik dan Minhyuk juga bingung harus berbuat apa untuk kawannya itu.

“Er..J, X, E?” Yonghwa berusaha membaca huruf yang paling kecil dengan susah payah. Mendengar nada meragukan dari Yonghwa, perawat yang itu menaikkan wajahnya dan tersenyum simpul.

“Sorry, Anda tidak lulus test ini.” Ucap perawat itu.

“Ah, ehhm agashi! Seohyun-ssi?” Yonghwa tersadar ketika melihat wajah perawat di depannya adalah orang Korea juga, dan ia meliat nama di name tag perawat itu.

“Seohyun-ssi, aku tahu kita sama-sama orang Korea, well..bisakah kau luluskan saya, please?”

“Annio…” tolak Seohyun.

“Tak tahu kah anda agashi, ini bukan hanya sekedar impian saya menjadi juru terbang, melainkan terlebih lagi ini impian ibu dan ayah saya di surga.” Yonghwa bersikeras membujuk Seohyun.

“Seohyun, bisakah kau rawat pasienku? Aku sedang ingin ke toilet.” Teriak Nicole dari seberang tempat Seohyun duduk. Karena terburu-buru-mungkin juga karena iba atas cerita Yonghwa- Seohyun akhirnya menstempel tanda lulus di file milik Yonghwa.

“Gamsahamida, thankyou agashi!” ucap Yonghwa kegirangan.

“Ne…aku harap kau bisa mewujudkan impian orangtuamu.” Seohyun pun berlalu. Yonghwa memandangi punggung Seohyun dengan tatapan orang sedang jatuh cinta.

‘Cantik dan memiliki hati yang benar-benar baik. Seohyun-ssi, pahlawanku…’ gumam Yonghwa dalam hati.

Beberapa hari kemudian Yonghwa menjadi sering mendatangi tempat Seohyun praktek. Sekedar untuk iseng menyapa atau meminta suntikan vitamin. Tapi, Seohyun bukanlah tipe gadis yang langsung luluh walau Yonghwa adalah laki-laki tampan.

“Buat apa kau kesini lagi Yonghwa-ssi?” tanya Seohyun ketus karena selalu direcoki Yonghwa.

“Aku…ingin melihat wajahmu…” ucap Yonghwa sambil cengengesan.

“Tampaknya aku harus memberikanmu suntikan ekstra!”

“Andwee…mianhe Seohyun. Aku kesini sebenarnya ingin mengajakmu makan malam bersama.”

“Wae? Makan malam? Ada pesta atau hari ulang tahunmu?”

“Anii..aku hanya ingin mengucapkan rasa terimakasihku karena berkat kau, aku bisa lulus.”

“Tidak perlu,”

“Penolakan seorang wanita berarti ia malu mengatakan “ya”, baiklah ku jemput kau nanti di depan hospital nanti malam. Annyeong!” ucap Yonghwa sambil berlalu, mengacuhkan Seohyun yang ingin memprotes.

“Aish namja itu selalu seenaknya!” gerutu Seohyun, tetapi senyum kecil menghiasi bibirnya.

Malam harinya

Yonghwa sedang menanti Seohyun yang masih bekerja di hospital. Hatinya entah kenapa terasa gugup ingin bertemu Seohyun, mungkin dikarenakan ia akan menyatakan perasaannya kepada wanita itu malam ini.

“Eh Seo, lihat namjamu sudah menunggumu disana!” bisik Yuri kepada Seohyun.

Yonghwa melambaikan tangannya ketika melihat Seohyun sudah keluar hospital bersama teman-temannya.

“Kenapa diam? Cepat samperi, hihi…” kali ini Nicole ikut menggoda sahabatnya itu.

Dengan langkah pelan Seohyun menghampiri Yonghwa.

“Kau benaran datang?”

“Ya tentu saja! Aku membawa ini, champagne !” seru Yonghwa seraya mengeluarkan sebotol minuman dari tasnya.

“Heh?” Seohyun nampak terkejut karena belum pernah selama ini seorang  namja mengajaknya minum anggur.

“Malam ini sangat dingin sekali dan Champagne adalah pilihan yang tepat!” Yonghwa pun membuka botol tersebut, tetapi naas-nya tutup botol yang terbuat dari kayu itu terpental ke hidungnya.

“AUCH!!”

“Gwenchana? Kau tidak hati-hati sih!” Seohyun dengan spontan memeriksa hidung Yonghwa yang mengeluarkan sedikit darah. Lalu buru-buru ia mengeluarkan bongkahan es dan menyuruh Yonghwa berbaring di pahanya.

“Sini berbaringlah biar aku obati hidungmu memakai es.”

Yonghwa menurut saja, kepalanya ia baringkan di paha Seohyun hingga wajah mereka berdua bertemu.

“Auch dingin!” pekik Yonghwa ketika Seohyun mulai mengompres hidungnya.

“Darahnya akan berhenti, tenanglah…”

Wajah Yonghwa kini benar-benar dekat di bawah wajah Seohyun, keduanya sempat terdiam karena merasa aneh dengan suasana yang tiba-tiba mendadak berubah ini.

“Saranghaeyo…” lirih Yonghwa pelan.

Seohyun tak menjawab, ia hanya menatap lekat-lekat mata Yonghwa. Lalu tiba-tiba dengan perlahan Seohyun mengecup bibir Yonghwa yang sedikit terbuka. Diciumnya bibir Yonghwa yang masih tak bereaksi karena kaget. Lalu tanpa ada kata-kata lagi, Yonghwa membalas ciuman Seohyun dengan ritme yang lembut.

Flashback end…

Seohyun tersadar dari lamunannya. Nicole dan Yuri yang ada disebelahnya tahu benar bahwa sahabatnya itu sedang melamuni kekasihnya.

“Sabarlah, kereta sebentar lagi akan sampai dan kau bisa bertemu kekasihmu itu hihi…” ucap Nicole.

Lalu kereta pun berhenti, Seohyun melangkah keluar dan langsung disambut Yonghwa yang sudah berseragam militer. Mereka sama-sama menghampiri dan berpelukan cukup lama.

“Apa kabar my hero?” bisik Yonghwa di telinga Seohyun.

“Bogoshipo…” balas Seohyun lirih.

“Hei, Yonghwa kenalkan pada kita yeoja-yeoja itu!” celetuk seorang kawan Yonghwa bernama Lee Joon.

“Hei, kenalkan ini teman-temanku. Itu Yuri, dan Itu Nicole…” ucap Seohyun seraya melepaskan pelukannya dari Yonghwa.

“Aku Lee Joon, hai Yuri!” sapa Lee Joon kepada Yuri yang langsung tersipu malu.

“Dan ini sahabatku sejak kecil, Kang Minhyuk!” ucap Yonghwa memperkanalkan Minhyuk yang hanya tersenyum saja.

“Hai, Minhyuk! You’re just cute…hihi.” balas Nicole.

Lalu mereka berenam pergi ke sebuah pub, merayakan keberhasilan Yonghwa yang terpilih menjadi wakil prajurit sukarelawan dari Amerika untuk berperang membantu Inggris melawan Jerman.

Seohyun tengah berdansa dengan Yonghwa ditemani lagu bernada romantis, sementara Lee Joon tengah gencar merayu Yuri, sedangkan Nicole sedikit kewalahan mengajak Minhyuk berbincang karena Minhyuk tidak terlalu merespon.

“Temanmu, Minhyuk itu sangat pemalu sekali.” Bisik Seohyun kepada Yonghwa.

“Anni, dia bukan pendiam hanya tidak terlalu banyak bicara.” Balas Yonghwa berbisik.

“Oh…kasihan Nicole tampak bersusah payah hehe.”

“Seo, bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain?” ucap Yonghwa masih melingkarkan tangannya di pinggang Seohyun.

“Heh? Kemana?”

“Ikut saja…”

Yonghwa membawa Seohyun ke pelabuhan yang sudah sepi karena hari sudah sangat larut malam. Mereka berdua naik ke sebuah kapal kecil dan sedikit berlayar menjauhi daratan.

“Bisa tidak kau mencari tempat yang tidak dingin?” protes Seohyun karena telah dibawa ke tengah laut oleh kekasihnya itu. Yonghwa langsung memeluk Seohyun, memberikan kehangatan yang ia punya untuk yeojanya tersebut.

“Oppa…” lirih Seohyun.

“Wae chagi?”

“Benarkah kau akan berperang?” tanya Seohyun pelan, ada kecemasan di nada bicaranya.

Yonghwa mengangguk dan menatap wajah Seohyun lekat. Bibir mereka bertemu kembali setelah sekian lama. Entah karena rindu yang sudah terlalu lama dipendam, atau karena cuaca malam ini sangat terlalu dingin membuat mereka berkeinginan lebih dari sekedar berciuman.Tangan Yonghwa mulai masuk ke lekukan leher Seohyun dan memberikan kecupan di sela antara telinga dan lehernya. Seohyun pun mulai menggeliat dan menyandarkan kepalanya di ujung perahu, pasrah terhadap keinginan yang lebih atas tubuh Yonghwa. Tangan Yonghwa dengan gugup membuka kancing atas baju yang dipakai Seohyun, dan tiba-tiba ada sinar dari lampu senter yang datang dari kapal besar bernama Queen Marine, tepat ke arah mereka.

“Aish, babo! Oppa mengapa kau tidak berpikiran akan ada penjaga di kapal itu?” buru-buru Seohyun mengancingkan kembali bajunya yang belum sempat ditanggalkan Yonghwa.

Lalu dengan kilat mereka berdua berlari menjauhi pelabuhan sambil tertawa-tertawa atas kebodohan mereka.

“Sepertinya kita harus ke hotel, karena aku sudah tidak ada ide dimana tempat yang aman untuk kita berdua hehe…”

“Terserah oppa…”

Sampailah mereka di sebuah hotel yang merupakan hotel satu-satunya di pulau itu. Banyak sekali perwira plus kekasihnya yang menghabiskan malam berdua, bercinta melepas rasa rindu, atau bercinta melepas kekasihnya yang akan bertempur. Seohyun dan Yonghwa melangkah masuk ke hotel sambil bergandengan tangan.

“Oppa…apa tidak kau pikirkan lagi keputusanmu? Kapan kau balik kesini lagi? Mengapa kau tidak bersamaku ke Pearl Harbour? disana juga ada pangkalan tentara kan…” Seohyun menggamit tangan Yonghwa dengan kuat, seolah tidak bisa melepaskannya.

“Seohyun, aku besok akan berperang. Ini perang sungguhan, berbeda dengan siar-siar yang selama ini aku jalani ke pulau-pulau itu. Dan dalam perang, seorang prajurit tidak akan pernah tahu apakah akan bisa kembali atau tidak…”

“OPPA!!!” potong Seohyun.

“Dengarkan aku dulu sampai selesai berbicara. Aku tidak akan pernah tahu kapan aku kembali, tapi sejak ada kau disini,” Yonghwa menunjuk hatinya. “Aku akan selalu ingat untuk kembali, untuk bertemu denganmu…”

“Oppa, aku khawatir…” Seohyun menyelusupkan kepalanya di dada Yonghwa. Ia terisak di dada namjanya.

“Berdoa untukku. Saranghae…” Yonghwa membelai rambut Seohyun dengan penuh kasih. Jauh di sudut hatinya, ia pun menyelipkan rasa takut. Bukan takut berperang, tetapi takut apabila ia tidak bisa bertemu lagi dengan Seohyun.

“Ayo kita keluar dari sini.” Ajak Yonghwa.

“Heh?” Seohyun nampak kebingungan karena baru saja mereka tiba di hotel dan belum memesan kamar untuk mereka bercinta, tapi Yonghwa telah mengajaknya pergi.

“Aku belum siap dengan apa yang terjadi nanti apabila kita ada di salah satu kamar hotel itu. Terlebih lagi aku akan meninggalkanmu esok, aku tidak mau kita melakukan itu hanya karena perasaan takut tidak bisa bertemu lagi.”

“Oppa….” Seohyun tergugu mendengar ucapan Yonghwa. Namjanya benar-benar laki-laki sejati, ia bisa bersabar untuk mengambil keperawanan Seohyun meski Seohyun sudah memastikan hanya Yonghwa-lah yang berhak atas keperawanannya.

“Simpan ini…” ucap Yonghwa seraya memberikan 2 burung kertas kepada Seohyun.

“Mereka penggantiku.” Seohyun menerima burung kertas dengan mata berkaca-kaca.

“Gomawo…aku hanya bisa memberimu ini.” Seohyun melingkarkan syal hasil rajutannya sendiri di leher Yonghwa.

“Bagus sekali, sangat menolong jika cuaca dingin datang.” Ucap Yonghwa lalu mengecup pucuk kepala Seohyun dalam.

“Aku tahu kita akan berjumpa lagi, oppa…jangan anggap ini perpisahan.” Bisik Seohyun pelan.

Keesokan harinya, perpisahan itu benar-benar terjadi.

Di stasiun, Yonghwa dan Minhyuk jalan beriringan. Yonghwa lengkap berpakaian militer dan topi dinasnya, ditangannya tertenteng koper dan tas-tas besar. Pagi ini Yonghwa akan bertolak ke England dalam misi tempurnya. Suasana hening tanpa ada dialog diantara dua sahabat itu.

KAPAL SUDAH AKAN MAU BERTOLAK, SEMUA PENUMPANG SILAHKAN NAIK!

Seruan seorang petugas memecah kehingan di antara mereka berdua.

“Jika aku mati, tolong beritahu dia janjikan aku akan pulang.” Ucap Yonghwa kepada Minhyuk.

“Kita akan tunggu kepulanganmu.” Balas Minhyuk. Lalu mereka berpelukan sebagai tanda perpisahan. Wajah Minhyuk mengeras menahan kesedihan ketika Yonghwa melepaskan pelukannya dan berlalu.

‘See you when you get back…’ batin Minhyuk dalam hati.

“Get home, Yonghwa-ah ” lirih Minhyuk pelan.

Sementara itu Seohyun tengah berlari-lari di koridor stasiun dan menanyakan kepada salah satu petugas disana apakah kereta yang membawa para penumpang ke pelabuhan sudah berangkat. Raut kekecewaan terukir jelas di wajahnya ketika petugas menjawab bahwa kereta ke pelabuhan sudah berangkat baru saja. Masih dengan tenaga yang tersisa Seohyun berlari mengejar kereta yang ditumpangi Yonghwa, berharap bisa menemui kekasihnya sekali lagi. Kebetulan Yonghwa tak sengaja melihat Seohyun yang tengah berdiri di sampingnya.

“Seohyun! Seohyun!” teriak Yonghwa sembari mengetuk-ketuk kaca kereta, berharap Seohyun menoleh ke arahnya. Namun Suara Yonghwa tidak sampai sehingga Seohyun dengan lesu beranjak pergi. Penumpang di kereta menoleh tajam ke arah Yonghwa karena sudah menimbulkan kegaduhan dengan memukul-mukul kaca kereta.

“She loves me…” ucap Yonghwa sambil tersenyum ke arah penumpang yang menatap kepadanya. Kereta pun mulai berjalan, memisahkan dua orang yang saling mencintai, yang sama-sama tidak mengetahui kapan mereka akan bertemu lagi…

Di Eropa

Perang antara Jerman yang disebut Nazi dengan England sudah dimulai. Amerika pun pada akhirnya memutuskan sikap netral mereka dan mulai membantu England melawan Jerman.

Sementara di Jepang,

Perang tidak bisa dihindari. Amerika sudah menghentikan suplai Minyak ke kita. Tak ada pilihan lain kecuali berperang. Kita menyerang kapal mereka di lautan Pasifik! Sasaran kita adalah…Pearl Harbour.

Para prajurit militer, termasuk Minhyuk dan Lee Joon berpindah basis ke Pearl Harbour. Begitu juga dengan Seohyun dan para perawat lainnya. Di pelabuhan cantik milik Amerika ini, dibangun markas untuk mengantisipasi serangan dari pihak luar karena perbatasan lautan pasifik adalah jalur prioritas menuju Amerika. Banyak armada pergi dan pulang perang melalui daerah ini.

Dear, Seo JooHyun…

Aku disini telah menemukan impianku yang pernah aku ceritakan padamu di awal pertemuan kita. Aku baik-baik saja, meski aku sebenarnya sedang bersedih karena 2 hari yang lalu sahabatku sesama juru terbang telah tewas.  Merindu kamu disini.

With love,

Yonghwa

 

Seohyun dan Yonghwa seringkali berkirim surat, mengisahkan kisah masing-masing. Yonghwa dengan segala atribut peperangannya di langit, Seohyun dengan lembut mengisahkan tentang aroma pearl harbour yang sejuk dan pemandangan yang cantik.

Dear Yonghwa Oppa,

Di Pearl Harbour aku lebih sering bercerita pada ombak laut dan mentari senja. Menanyakanmu kepada mereka. Dengan begitu aku tahu jarak hatiku ke hatimu tidak terlalu jauh. Jaga kesehatanmu disana, aku selalu merindukanmu.

Seo JooHyun.

Hari demi hari berlalu, sampai pada akhinya pada suatu pagi…

Dengan berpakaian lengkap sebagai seorang Kapten, Minhyuk menghampiri Seohyun dengan langkah meragu. Seohyun memiliki firasat buruk melihat pandangan Minhyuk kepadanya. Minhyuk menghampiri Seohyun dan merengkuh Seohyun dalam pelukannya. Tanpa diperintah apa-apa air mata Seohyun jatuh, menetes di pundak Minhyuk.

“Peperangan tidak pernah terduga. Aku harap kita bisa ikhlas melepaskannya.” Ucap Minhyuk menenangkan Seohyun. Meski bibirnya dengan lancar berkata ikhlas, sesungguhnya hatinya hancur, sangat pedih kehilangan sahabat terbaiknya. Tapi, dia harus tegar, harus, karena disampingnya kini ada kekasih sahabatnya yang membutuhkan kekuatan untuk menerima kenyataan yang ada.

“Keep your head with me, Seohyun-ah…”

“Yong oppa selalu bilang kau adalah penerbang yang terbaik. Dia berkata seperti itu di hari yang sama saat dia bilang akan jadi prajurit sukarelawan untuk Inggris.” Ucap Seohyun parau, suaranya telah habis karena sedari tadi dia menangis.

“Sukarelawan?” tanya Minhyuk heran.

“Ne…”

“Dia tidak ingin aku ikut perang itu rupanya, dia selalu mencoba melindungiku.” Ucap Minhyuk pelan. Keduanya saling meluapkan kesedihan dalam angin senja yang menusuk hati. Rindu apa ini, yang terbalas dengan rindu yang lebih menggila lagi…

“For Jung Yonghwa, The best pilot and a best friend…I ever knew.” Minhyuk memimpin minum-minum bersama rekan-rekan prajurit dan perawat untuk memperingati kepergian Yonghwa. Semuanya meneteskan airmata, turut merasakan kesedihan yang dirasakan Seohyun dan Minhyuk.

 

3 months later…

Di sebuah gedung bioskop sedang ditayangkan video peperangan. Seohyun dan Minhyuk tidak tahan melihat tayangan tersebut karena mengingatkan mereka akan Yonghwa yang tewas dalam medan perang.

“Seohyun-ah…” panggil Minhyuk ketika dilihatnya Seohyun juga keluar dari gedung bioskop.

“heh? Minhyuk-ah, kau keluar juga?”

“Nee, aku tidak suka filmnya. Maukah kau menemaniku minum kopi?” tawar Minhyuk.

“Err..baiklah, kajja!”

Mereka berdua pun berbincang-bincang di sebuah kafe, lebih banyak membicarakan tentang Yonghwa dan terus mengenang Yonghwa.

“Aku pulang duluan ya, Minhyuk-ah…” pamit Seohyun.

“Perlu ku antar?” tawar Minhyuk.

“Tidak perlu…annyeong.” Seohyun pun beranjak meninggalkan Minhyuk.

“Saputangannya tertinggal…” lirih Minhyuk mengambil sebuah saputangan bercorak bunga-bunga milik Seohyun.

Di tempat lain,

“Yuri-ah, saranghae! Maukah kau menerimaku menjadi kekasihmu?” Ucap Lee Joon saat selesai menonton. Yuri nampak shock karena Lee Joon tiba-tiba saja berjongkok di depannya mengungkapkan perasaannya.

“Joon-ah, apa-apan sih? Bangun!”

“Jawab dulu…hu..hu..”

CUPP! Yuri langsung saja mengecup pipi Joon dan berlari karena malu. Di seberang jalan, Nicole memandangnya dengan perasaan iri.

“Nicole-ssi, mau pulang bareng denganku?” ucap tiba-tiba seorang namja.

“Huah, Jungshin-ssi kau mengaggetkanku!”

“Ayo kita pulang.” Ajak Jungshin yang langsung menarik tangan Nicole.

Malam sudah menunjukkan pukul 22.30, Minhyuk tengah mondar mandir di depan asrama keperawatan tempat Seohyun tinggal. Di tangannya tergenggam saputangan milik Seohyun yang tadi tertinggal di kafe.

“What i’am doing? Aissh..” Minhyuk dengan ragu mengetuk pintu asrama Seohyun.

Setelah itu Seohyun dan Yuri datang dengan masih memakai gaun tidur. Minhyuk terkejut melihat mereka yang sudah mengenakan gaun tidur.

“Aissh, kau rupanya Minhyuk-ah!” seru Yuri yang langsung berbalik masuk kamar.

“Annyeong, mianhe aku datang malam-malam begini.” Sapa Minhyuk kikuk, Seohyun pun nampak kikuk berusaha menutupi tubuhnya yang hanya dilapisi gaun tidur menerawang.

“Ada apa Minhyuk-ah?”

“Kau kelupaan barang ini…” Minhyuk menyerahkan saputangan kepada Seohyun dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Oh saputanganku…” Seohyun pun tak kalah canggungnya.

“Baiklah, Seohyun aku pamit.”

“Nee…”

“Seohyun-ah, kau harus bangkit dari kesedihanmu. Ku rasa, Minhyuk menyukaimu.” Komentar Yuri pagi-pagi membuat Seohyun tersedak dari sarapannya.

“Aku dulu juga sepertimu, kekasihku meninggal saat perang. Saat itu aku sangat terpuruk dan memutuskan tidak akan mencintai orang lain. Saat itu dunia terasa asing dan aku seperti berjalan seorang diri. Tetapi, ternyata aku salah…aku yang seharusnya move on, life must go on. Dan kini, aku menemukan cinta. Joon, ia melamarku semalam…”

“Hah? Joon dan kau bertunangan?” pekik Nicole.

“Chukae, Yuri-ah…kau pantas bahagia.” Ucap Seohyun seraya memeluk sahabatnya itu.

“Kau juga pantas bahagia, Seohyun-ah…hiduplah kembali.” Bisik Yuri.

“Nee…” angguk Seohyun lemah.

“Chagiiiii…” Teriak Joon dari pintu, di tangannya ada sebuket bunga cantik.

“Joooon…” balas Yuri langsung berlari menghampiri Joon dan memeluk namjanya itu dengan suka cita. Seohyun memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan, senyumnya merekah melihat sahabatnya telah bertunangan, namun di ujung matanya terselip airmata yang siap sedia jatuh.

Seohyun pov

Aku mengambil burung kertas dari Yong oppa dan setumpuk surat yang datang darinya saat dia di Inggris. Ku masukkan semua itu bersama dengan diaryku yang banyak mencurahkan isi hatiku tentangnya, ku masukkan ke dalam kotak kecil dari kayu. Aku tidak ingin bersedih lebih lama lagi. Selamat tinggal, Yonghwa oppa…selamat tinggal, tetapi aku tidak akan pernah melupakanmu, melupakan cintamu. Ku tutup kotak itu dengan hati yang sakit, tapi aku harus mulai terbiasa tidak menangis, Yoong oppa.

Seohyun pov end

Di garasi helikopter nampak Minhuk dan para tentara lainnya sedang berlatih menembak di atas helikopter. Minhyuk adalah seorang kapten yang bertugas memberi perintah.

“Eh, Minhyuk-ah! Lihat siapa yang datang?” ujar Joon sembari menunjuk ke arah seorang wanita yang tengah berjalan mendekati mereka.

“Seohyun?” spontan bibir Minhyuk memanggil nama Seohyun.

“Ya Seohyun, dia buat apa datang ke garasi?” ucap Joon

“Cantik…” lirih Minhyuk yang terpesona dengan Seohyun yang pagi itu sangat cantik mengenakan dress merah delima, rambutnya terurai tertiup angin, menambah kesan manis.

“Dia datang pasti ingin bertemu denganmu.” Celetuk Jungshin.

“Minhyuk-ah!” sapa Seohyun.

“Seohyun kau kesini?” jawab Minhyuk malu-malu.

“Aku hanya ingin memberikan sandwich yang tadi aku buat. Lumayan untuk mengganjal perut.”

“Oh, gomawo…”

“Baiklah, aku pergi ya, Minhyuk-ah. Joon, Jungshin sandwich!” ucap Seohyun seraya beranjak keluar dari garasi.

“Seohyun-ah!” panggil Minhyuk yang membuat Seohyun berhenti melangkah dan kembali menengok.

“Wae?”

“Pernahkah kau melihat sunset di Pearl Harbour?” tanya Minhyuk ragu.

“Tentu saja pernah.” Jawab Seohyun.

“Heh, maksudku melihatnya dari langit?” ucap Minhyuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Di sore harinya Minhyuk pun mengajak Seohyun terbang dengan helikopter miliknya untuk melihat matahari terbenam dari atas langit.

“Aku bisa mengajarimu mengendarainya jika kau mau.”

“Jeongmal?”

Seohyun duduk di depan kemudi dan Minhyuk duduk dibelakangnya, mereka mulai terbang melintasi awan, dekat dengan langit senja.

“Pelabuhan ini sesuai namanya, cantik sekali…” kagum Seohyun melihat Pearl Harbour dari atas.

“Ya…”

“Auuww!” teriak Seohyun ketika Minhyuk iseng mempercepat laju helikopternya.

“Hehehe, mianhe…”

“Hihihi…”

Selesai menyaksikan sunset. Seohyun dan Minhyuk ke sebuah tempat yang merupakan tempat dijemurnya selimut-selimut kapal. Mereka saling pandang dalam diam, masing-masing tidak mengerti apa yang tengah melanda hati mereka kini. Yang mereka tahu hanyalah mengikuti kata hati mereka. Minhyuk merengkuh pinggang Seohyun dan mendekatkan tubuhnya. Seohyun membalas dengan merengkuh leher Minhyuk. Mereka masih saling pandang, membisu. Lalu, wajah mereka mendekat sampai akhirnya bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling bertemu dan tak bereaksi setelah sekian detik. Mata mereka saling terpejam seolah meresapi apa arti dari semua ini. Seohyun berinisiatif menggerakan bibirnya mengecup bibir atas Minhyuk. Mereka pun berciuman tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Minhyuk membaringkan tubuh Seohyun di bawah tumpukan selimut putih. Mata mereka saling memandang, Seohyun menggerakan jemarinya menyentuh dada Minhyuk dan menarik kalung yang dikenakan Minhyuk, menariknya untuk kembali  berciuman.

            Kini ciuman mereka semakin intim dan dalam dengan posisi masih Minhyuk di atas tubuh Seohyun. Seohyun mulai menjamah tubuh dan melepaskan kaus oblong milik Minhyuk. Minhyuk pun mulai membuka pakaian Seohyun  sehingga mereka berdua sama-sama tak berpakaian. Mereka masih berciuman dan mengekspresikan suatu rasa yang sulit dimengerti. Padahal di luar sana cuaca sangatlah dingin, namun tubuh Seohyun dan Minhyuk bermandikan peluh. Mereka mengerang bersama dalam sunyinya malam dibalik tirai-tirai putih tanpa kata-kata, hanya lenguhan.

Keesokan paginya

Seohyun dan Minhyuk bertemu dalam suasana yang canggung mengingat semalam mereka telah melakukan hubungan yang terlampau diluar batas kewajaran.

“Seohyun-ah, annyeong…”

“Annyeong…”

“Mianhe atas kejadian semalam, aku telah diluar kendali…”

“Molla…aku merasa…perasaanku baik setelah melakukannya bersamamu.”

“Aku ingin ini awal yang baik untuk kita. I Kinda like you. So you do?

Alih-alih menjawab, Seohyun malah memeluk Minhyuk. Sulit rasanya menafsirkan apa yang dirasanya kini. Ia tak bisa memungkiri, namja yang kini dia mulai cintai adalah sahabat baik mantan kekasihnya. Terlalu cepatkah ia melupakan Yonghwa? Terlalu dinikah menjalin hubungan baru dengan namja lain?

“Everything is gonna be alright…” bisik Minhyuk di telinga Seohyun.

“Gomawo…” lirih Seohyun yang dibalas kecupan singkat oleh Minhyuk di hidung Seohyun.

“You know, the only thing that scares me is that you might love him more than you love me.” Bisik Minhyuk kembali. Deruan nafasnya terasa benar di tekuk Seohyun.

“I love you, Minhyuk-ah…”

Hari-hari kedepannya berjalan baik, Seohyun dan Minhyuk semakin saling mencintai satu sama lain. Mereka berenang bersama di laut, bercinta di pinggir pantai, dan yang lebih terutama Seohyun meyakinkan hatinya bahwa Minhyuk bukanlah pelarian dari keputus-asaannya atas kehilangan Yonghwa.

Hingga suatu pagi,

Di asrama perawat

“Seohyun-ah! Ingin berapa lama lagi kau berada di dalam kamar mandi? Kau sedang berbuat apa sih?” teriak Nicole.

Seohyun keluar dari kamar mandi dengan tampang pucat.

“Gwenchana?” tanya Nicole.

“Nee…” Jawab Seohyun sekenanya, ia juga bingung mengapa sejak bangun tidur tadi ia merasa mual-mual di perutnya.

Pada suatu malam, Seohyun tengah sendiri di Hospital, ia merasa ada yang sedang memandangi dirinya di luar jendela. Seorang laki-laki berpakaian militer lengkap sedang memandangi Seohyun dengan tatapan rindu.

Sepucuk surat ada di genggaman Minhyuk, hanya sepatah kalimat yang tertulis disana.

Aku masih hidup, aku selamat dari peperangan karena kebetulan helikopterku terjatuh di air.

-Jung Yonghwa-

“Hah!” Seohyun terkaget kini di depannya berdiri sosok laki-laki paling dirindukannya selama ini.

“Aku sudah pernah bilang, aku akan kembali…” lirih Yonghwa seraya memeluk Seohyun.

“Ini benar kau, oppa?” ucap Seohyun pelan, tangannya menelusuri lekukan wajah Yonghwa.

“Ne, ini aku…i miss you.”

Seohyun terisak menangis, laki-laki di depannya memang Yonghwa, wajahnya dan suara yang amat ia kenal.

Yonghwa mengecup bibir Seohyun pelan, dan mereka berciuman meluapkan rasa rindu yang ada. Lalu tiba-tiba saja Seohyun menarik bibirnya, menghentikan ciumannya dengan Yonghwa. Isakan tangis Seohyun semakin pecah, hatinya merasa kacau. Entah…ia harus senang atau apa karena saat ini ia tidaklah lagi menyimpan rasa untuk Yonghwa. Sudah ada Minhyuk mengisi hatinya, dan itu yang membuat ia merasa bersalah berciuman dengan Yonghwa.

“Seohyun-ah? Gwenchana? Aku sudah kembali, dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi.”

“Oppa, kau telah mati…” lirih Seohyun dalam isak tangisnya. Yonghwa memandang Seohyun tak mengerti.

Di kejauahan Minhyuk berlari menghampiri mereka berdua.

“Yonghwa-ah?” panggil Minhyuk. Seohyun semakin terisak melihat Minhyuk dengan tatapan sedih.

“Minhyuk-ah?” lirih Yonghwa. Rasanya ia mengerti kini, melihat Seohyun yang menangis merana dan melihat Minhyuk yang menghampirinya dengan ekspresi seperti itu.

“Yong?” ucap Minhyuk.

“Menjauh dariku!” Yonghwa pun berlalu pergi dengan gumpalan sesak dalam hatinya.

Di pub

Yonghwa minum-minum alkohol dan mulai meracau tak jelas.

“Apa yang kau rasakan jika sahabat terbaikmu menikammu dari belakang?” sindirnya ketika ia lihat Minhyuk datang.

“Kita perlu bicara” ujar Minhyuk.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Jawab Yonghwa acuh.

“Yong!” Minhyuk nampak sangat merana.

“Lebih baik kita bersulang saja! Gomawo Minhyuk-ah karena sudah menjaga Seohyun dengan baik selama aku pergi, malah sangat-sangat baik!”

“Yong! Aku dan Seohyun mendengar kabar kau sudah mati!” Emosi Minhyuk yang sudah tak tahan disindir terus oleh Yonghwa.

“Ia sangat merana ditinggal olehmu…”

“Lalu kalian bercinta? Haha!”

“Aku hanya berusaha menghiburnya…kami benar-benar menganggap kau sudah tiada saat melakukannya.” Lirih Minhyuk.

“Ya! Memang aku sudah diujung kematian saat itu jika tidak ada wajahnya yang terus berkelebat dalam kepalaku, bahwa aku tidak boleh mati!”

“Dan saat-saat itu berubah, aku dan Seohyun tidak bisa terus menangisimu.”

BRUKKK! Yonghwa mendaratkan tinjuannya di pipi Minhyuk hingga Minhyuk terpental. Minhyuk pun membalas karena sudah emosi menghadapi Yonghwa. Alhasil mereka pun berkelahi hebat hingga pub menjadi kacau balau. Sampai akhirnya ada petugas yang datang membubarkan perkelahian di antara kedua laki-laki itu. Dalam kekacauan, Minhyuk dan Yonghwa melarikan diri berdua menggunakan mobil menghindari sergapan petugas.

Di pinggir pantai,

“Kamu satu-satunya saudara yang kupunya..selepas kau pergi aku merasa sangat sedih,” ucap Minhyuk memulai percakapan.

“Kau telah menyakiti hatiku, Minhyuk-ah…tapi ini bisa disebut kesalahanku”

Lalu kembali hening, tak ada yang bisa menjawab ini semua salah siapa. Mereka berdua hanyalah laki-laki yang mencintai seorang wanita yang sama.

Pada dini hari yang masih teramat dingin, pasukan tentara Jepang menyerbu pangkalan militer Pearl Harbour tanpa ada peringatan perang. Pearl Harbour yang masih sunyi tak menduga akan mendapat serangan dari tiba-tiba dari Jepang. Tak ada persiapan maupun strategi yang dimiliki pihak Amerika bahkan para prajurit-prajurit masih terlelap dalam tidurnya.

Di langit sudah banyak pesawat tempur Jepang menutup celah pandangan mata melihat awan. Jepang mulai mengebom salah satu  kapal yang ada di pelabuhan dan menembaki apapun yang ada di Pearl Harbour. Kapal-kapal Amerika satu persatu meledak terkena bom, semua panik di luar kendali.

Minhyuk dan Yonghwa yang berada jauh dari pelabuhan segera terbangun dan segera sadar Jepang telah menyerang. Dan keduanya terperangkap dalam peperangan serta baku tembak. Dengan menggunakan pesawat P-40 yang tersisa, keduanya melawan pesawat-pesawat pasukan Jepang dan berhasil menembak jatuh 7 buah pesawat. Awan-awan putih mendadak menghitam karena kepulan dari kobaran api disana-sini.

Di lain tempat, Seohyun dan teman-temannya berusaha lari dari serbuan peluru-peluru yang melayang menuju hospital untuk menolong para korban-korban yang terluka. Namun, terlalu banyak yang terluka sehingga membuat para ahli medis panik. Terlebih lagi ketika Seohyun dan Nicole menemukan kenyataan bahwa Yuri telah tewas terkena sasaran peluru. Seolah ia menyusul tunangannya, Joon yang terlebih dahulu tewas. Seohyun mengkhawatirkan dua laki-laki itu, Yonghwa dan Minhyuk…

Pertempuran sesaat mereda. Mayat manusia bergelimpangan di jalan maupun di laut. Yonghwa dan Minhyuk akhirnya hadir di depan Seohyun dengan tubuh penuh luka.

“Ikut aku, aku akan mengobati kalian berdua.” Seru Seohyun.

Secara bergantian Seohyun mengobati luka Minhyuk dan Yonghwa. Di tengah kehampaan yang ada mereka bertahan hidup disamping kehilangan kawan-kawan mereka.

Satu tahun kemudian, 1942…

Pasukan Amerika, di antaranya Minhyuk dan Yonghwa menjalankan misi balas dendam untuk menggempur Jepang. Mereka pergi ke medan perang dengan nyawa sebagai taruhannya.

Yonghwa dan Minhyuk bertempur dengan sekuat tenaga melawan pasukan Jepang. Pada saat penggempuran, pasukan Amerika terdesak oleh serangan Flak milik Jepang, dan akhirnya tinggal 2 pesawat yang tersisa ketika melewati Jepang yaitu pesawat Yonghwa dan Minhyuk. Pesawat Yonghwa mendarat di sawah di Cina terlebih dahulu, Yonghwa dan anggota pasukan yang tersisa dikepung oleh patroli Jepang, lalu pesawat Minhyuk yang datang menembaki patroli Jepang tersebut, namun mendarat lebih parah. Minhyuk terluka saat Yonghwa menemuinya, saat hendak melakukan perawatan terhadap Minhyuk, tiba-tiba saja Yonghwa diserang oleh patroli Jepang yang lain. Pasukan yang tersisa di todongkan senjata, namun Yonghwa berhasil mengambil pistol yang terjatuh dan menembaki para prajurit Jepang. Ketika pelurunya habis, Yonghwa akan ditembak oleh Jepang, namun Minhyuk mencegahnya, sehingga Minhyuk-lah yang ditembak. Saat Jepang sedang lengah, pasukan Amerika yang tersisa kemudian mengambil granat milik pasukan Jepang, kemudian dilemparnya ke arah pasukan Jepang, sehingga pasukan Jepang tewas semua.

Yonghwa memandang Minhyuk yang terluka parah dengan tatapan merana, diingatnya kembali pesan terakhir Seohyun padanya sesaat sebelum mereka bertolak ke Jepang.

“Yong oppa, sampaikan pada Minhyuk bahwa aku tengah mengandung anaknya. Mohon agar ia pulang dengan selamat…” ucap Seohyun saat itu.

“Minhyuk-ah, Minhyuk-ah! Kau tidak boleh mati! Tidak boleh! Karena kau akan menjadi seorang ayah, Seohyun tengah mengandung anakmu. Jebal bertahanlah!” Ucap Yonghwa dengan suara serak bercampur tangisnya.

“Tidak Yonghwa-ah, kau yang akan menjadi ayah untuk bayi itu. Hanya kau yang bisa ada disisinya.” Ucap Minhyuk terputus-putus. Kesakitan mendera di sekujur tubuhnya tak tertahan.

“Minhyuk-ah, bertahanlah…”

“Sampaikan maafku pada dia, aku menyayanginya…” Minhyuk akhinya menghembuskan nafas terakhirnya di rengkuhan Yonghwa. Matanya terpejam seolah hanya tidur sesaat, tapi Yonghwa tahu detak jantung itu tak berdetak lagi.

Beberapa tahun kemudian…

Seohyun tengah berdiri seorang diri di sore hari itu, memandang jauh ke arah matahari yang terbenam.

Melihat langit senja ini selalu membuatku teringat padamu. Saat kau menunjukkan kekuatan di kerapuhanku.  I’ll keep a part of you with me…Minhyuk-ah.

“Aku juga merindukannya, selalu merindukannya.” Ujar Yonghwa tiba-tiba datang merangkul Seohyun.

“Oppa?” lirih Seohyun seraya membenamkan kepalanya di bahu Yonghwa.

“Hei, Hei apakabar hari ini, my baby?” ujar Yonghwa kepada perut Seohyun yang ternyata kini tengah mengandung.

“Aku baik dan selalu baik, appa…” ucap Seohyun menirukan suara bayi.

“Umma, Appa! Pesawat-pesawatanku tersangkut di pohon, hu..hu..” ujar seorang bocah laki-laki kepada Yonghwa dan Seohyun.

“Hai, Jung Minhyuk adalah jagoan tidak boleh cengeng hanya karena pesawatnya tersangkut. Ara?” ucap Yonghwa mengelus kepala anaknya-yang sebenarnya adalah anak Minhyuk. Seohyun dan Yonghwa memutuskan memberi nama Minhyuk untuk selalu mengenang orang yang sama-sama mereka sayangi itu.

“Sekarang appa bantu ya mengambil pesawatnya.”

“Ne..”

Semua disini bahagia Minhyuk-ah, kuharap kau juga bahagia disana. Seohyun tersenyum memandang langit seolah tersenyum kepada laki-laki yang sempat hadir di hatinya itu.

Mulai kini aku hanya ingin melihat mentari terbenam hanya bersamamu, Yonghwa oppa…kini dan selamanya.

Seohyun pun menghampiri suami dan anaknya yang tengah bermain-main dengan tawa bahagia.

-END-

22 responses »

  1. kirain aku yong oppa bener2 meninggal,,,
    eh,,, malahan minhyuk,, kepingin nangis gr2 minhyuk meninggal tapi g jadi.. hehehe
    keren ceritanya…

  2. Wauu suka sekali ma jln crtanya…
    Sebenarnya aq seh seokyu shiper, tp aq gk benci2 amat ma yongseo suka aj liat interaksi mrk waktu WGM.
    Seohyun dilema cintanya…

  3. mian.. reader !!!
    ni adaptasi film kan..
    tp sblum’y aq pnah baca d-blog yongseo fav aq SJ_land..
    isi’y sma persis n cast’y pun sma smua..
    mian,,

  4. Awalnya sedih sih. Seo ditinggal yong. Trus seneng ada minhyuk. Sedih minhyuk meninggal. Aku kira bakal seo ama minhyuk -_-

  5. wahhh daebakkk ,,, akuu dr td nangis mulu baca ff ini, awalnyaa pengen nahan air mata tp dadakuu sesak….

    bikin ff yongseo lg dong ,, plisssssssssss

  6. Eh kukira endingny ma minhyuk…#aku terjebak aku terperangkap muslihatmu*malah nyanyi
    minhyuk oppa dr pd meninggal mending tinggal ke t4 ku#dicubit luhan gara2 selingkuh*mimpi

  7. Wow daebak ffnya.
    Bahasanya keren banget.
    Konflik Te O Pe dah hehehe

    akhirnya seohwa end.
    Ditunggu karya selanjutnya.
    Fighting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s