Love You Like A Love Song (Part 1)

Standar

Love You Like A Love Song

Staring

Seo JooHyun

Choi Minho

Gambar

Author:  -Artemisgoddes-

Aku mencintai dirinya seperti  lagu setia pada liriknya

Aku mencintai dirinya seperti lagu cinta

Magical, lyrical, beautiful…

***

Aku selalu jatuh cinta pada warna matanya. Cokelat muda.

Seorang perempuan cantik masuk ke dalam sebuah kafe. Sekilas ia nampak mencari-cari seseorang yang janjian dengannya mungkin di kafe tersebut. Ketika ia akhirnya berhasil menemukan orang yang dimaksud, dengan segeralah dia menghampiri orang tersebut sedang duduk. Dengan langkah agak sedikit gugup ia berjalan mendekati seorang laki-laki berwajah tampan dengan senyum sumringah menyambut si perempuan.

“Oppa sudah lama menunggu?” Tanya si perempuan sembari duduk di kursi depan sang laki-laki.

“Hmm…sudah habis 5 cangkir kopi sih.” Jawab si laki-laki sambil nyengir lebar.

“Kojimal hahaha,” gelak tawa si perempuan mendengarnya.

“Seohyun, ini sudah aku pesankan orange juice kesukaanmu.”

“Minho oppa, kamu ingin bicara apa? Apa masih hal yang sama seperti pembicaraan sengit tak berujung kita selama dua minggu ini?”  Ucap perempuan bernama Seohyun itu kepada laki-laki yang bernama Minho.

Mata Seohyun sama sekali tidak melirik orange juice di depannya, ia tidak peduli meski dahaga menggelitik kerongkogannya.  Matanya hanya tertuju pada sepasang manik mata berwarna cokelat muda kesukaannya. Sepasang manik mata milik Minho, seseorang yang sudah menjadi kekasihnya selama lima tahun. Awalnya tatapan Seohyun berupa tatapan kuat dan kokoh yang seolah menanti jawaban. Namun, semenit…dua menit…berangsur, tatapan Seohyun melemah. Ya, selalu melemah apabila ia menatap mata kekasihnya itu. Entah kenapa.

“Kau tahu kan? Impianku sejak dahulu?” Tanya Minho

“Sangat tahu, Choi Minho. Kau ingin menjadi arsitek  yang ahli dan merancang bangunan-bangunan indah dari ide di kepalamu. Aku selalu ingat itu, kata-kata yang kau ucapkan saat kita masih sekolah.”

“Ya, kau benar. Dan aku berhasil masuk Universitas Arsitektur ternamaan di Korea ini. Aku merasa impianku semakin dekat, Seohyun…”

“Tapi, tidak harus pergi dari Korea kan? Tidak harus di Amerika kan?” ucap Seohyun dengan nada sedikit meledak emosinya. Minho terdiam sejenak. Lalu dengan lembut ia mengusap kepala Seohyun.

“Semua akan baik-baik saja, Seo Joohyun…” ucap Minho lemah.

“Kamu tahu benar siapa diriku, oppa…” kini Seohyun mulai menderaskan airmatanya.

Minho terdiam kembali. Sosok perempuan di depannya memang sangat rapuh. Kekasihnya itu memang bisa dibilang ketergantungan kepada dirinya. Manja, selalu ingin berada di dekatnya, dan sangat penakut. Di satu sisi Minho cemas memikirkan keadaan Seohyun apabila sepeninggalnya ia, namun di satu sisi lain pula Minho ingin Seohyun bisa mandiri, bisa kuat.

“Kenapa oppa harus kerja di tempat yang jauh dariku berada?” Tanya Seohyun disela tangisnya.

“Poin penting disini adalah bukan aku harus jauh bekerja darimu tinggal. Tetapi, perusahaan yang menawarkan aku untuk bergabung disana sangat menjanjikan. Oh come on, Seohyun…semua teman lulusanku berharap ingin kerja disana, dan ketika aku yang mendapatkan kesempatan bekerja disana, lalu aku menolaknya begitu?”

“Apa oppa sudah tidak sayang lagi denganku?”

Minho mendelik tajam ke arah gadisnya tersebut, tak habis pikir dengan pikiran Seohyun.

“Sama sekali tidak. Kamu tahu benar, rasa sayangku tidak pernah berubah kepadamu.” Jawab Minho mencoba sabar.

Seohyun yang kini terdiam mendengar jawaban Minho. Meski bibirnya tadi terpaksa bertanya pertanyaan konyol tersebut, namun hatinya tahu persis rasa cinta Minho kepada dirinya sunggulah besar. Seohyun menyadari, Minho adalah laki-laki hebat. Bisa bertahan dengan sifatnya yang kekanak-kanakkan, posesif, ketergantungan, egois. Ia ingat benar ketika seringkali menyusahkan Minho. Seringkali memaksa Minho untuk memilih hobi otomotifnya atau menemani dirinya ke salon, atau memilih nongkrong dengan teman-teman cowoknya atau menemani dirinya nonton bioskop. Minho selalu mengutamakan Seohyun, memprioritaskan dia diatas segalanya.

Seohyun kembali mengingat-ingat hal-hal yang pernah terjadi antara dirinya dan Minho. Mengingat-ingat betapa ia cinta sekali pada laki-laki yang telah berkali-kali menjadi malaikat penolong di kehidupannya, laki-laki yang semenit pun tidak ia harapkan untuk tidak bersama.

 

Flashback On

Pernah suatu ketika,

“Oppaaaa!!! Babyyyyy!!! “ teriak Seohyun setengah berlari menghampiri Minho.

“Seo, kenapa lari-lari?” Tanya Minho keheranan.

“Aku punya kabar baik!” jawab Seohyun sumringah, di matanya tampak binary-binar kebahagiaan.

“Waeyo? Ada apa my princess?” Sergah Minho sembari mengacak-ngacak rambut Seohyun gemas.

“Aku akan masuk Universitas yang sama dengan Oppa. Jurusan Arsitektur juga lhooooo…”

“Jeongmal?” Minho bukan kepalang terkejutnya. Jelas saja ia terkejut. Yeojachingunya ini mana mungkin bisa masuk Jurusan Arsitektur. Jurusan ini kan butuh otak yang encer, dia bukan menuduh Seohyun adalah perempuan bodoh. Tidak sama sekali, Seohyun termasuk orang yang cerdas. Hanya saja, tidak tepat perempuan yang gemar shoping, gampang merasa bosan, seperti itu masuk jurusan yang notabene “membosankan”.

“Waeyoooo? Kok Oppa terlihat tidak senang?” rajuk Seohyun.

“Kamu jangan memilih hal yang kamu tidak suka hanya karena aku, Seo!” tegas Minho.

“Tenang oppa, aku kan pintar membuat sketsa juga. Sudah banyak aku menggambar sepatu-sepatu yang aku desain sendiri. Oppa juga sudah sering melihat kan koleksiku?”

“Kau samakan rancangan gedung dengan sepatu? Hah?” Minho menggelengkan kepalanya tidak percaya. Yeojachingu-nya memang seringkali berbuat hal yang tidak terduga dan cenderung konyol. Namun, untuk hal ini sudah diluar akal sehat.

“Oppaaaa…”Kini Seohyun sudah mulai pasang aksi cemberut dan mata yang siap menumpahkan airmatanya.

“Kenapa kau tidak masuk Jurusan Art? Itu lebih sesuai dengan karakter dan hobimu?”

“Andweeee!! Di Universitas Oppa tidak ada Jurusan tersebut. Dan aku tidak mau jauh darimu.” Rajuk Seohyun.

“Kau pikir ini permainan?”

“Ne! ini akan menjadi hal yang mengasyikkan. Kuliah bersamamu. Melihatmu menjadi dewasa. Menyaksikanmu sedang membuat desain. Kau dikelilingi  buku sketsa, tabung gambar, drawing pen, pensil mechanic, rapido, kertas kalkir, kertas roti, dan lain-lain. Kau pasti akan tampan sekaliiii…” Jawab Seohyun dengan antusiasnya, serta tidak lupa aegyo yang membuat Minho semakin miris.

“Terserah kamu. Ini menyangkut masa depanmu. Aku sudah mencoba mengingatkanku, Seohyun. Tapi, dari dulu kau selalu keras kepala. Aku mana pernah menolak keinginanmu.” Minho nampaknya sudah kelewat pasrah.

“Saranghaeeeee…aku sayang Oppa!!!” Seohyun berlari mendekap Minho.

“Tapi, apa Eomma dan Appamu setuju tentang hal ini?”

“Setujuuu dong…”

“Kita sudah dewasa Seohyun, aku harap kau bisa memilih mana yang terbaik untukmu.” Minho memegang kedua bahu Seohyun erat. Di dalam hatinya, ia ingin Seohyun berubah pikiran.

“Terbaik untukku adalah bersamamu, mengikutimu, dan ada di sekelilingmu selalu.”

Minho langsung mencium bibir Seohyun lembut. Entah kekuatan magis apa yang dimiliki seorang Seohyun. Meski sifatnya yang kadang memuakkan, Minho selalu saja menyayangi  dan ingin melindunginya.

“Mmhh…Oppa?” Seohyun melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Minho.

“Ya?”

“Aku selalu suka warna bola matamu.”

***

Hari-hari suram pun mulai datang di kehidupan Seohyun. Stres bukan main ia berada di Jurusan Arsitektur. Pelajaran tersebut sama sekali tidak menarik buatnya. Belum lagi tugas-tugasnya yang bukan main sangat ribet. Seohyun juga seringkali jadi Mahasiswi yang banyak ditegor oleh dosen-dosen. Bayangkan saja di tengah perkuliahan yang sedang berlangsung dengan asik dia menggambar sketsa sepatu sambil bersenandung. Aigoo…

Bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun. Meski Seohyun dan Minho masuk di tahun yang sama. Namun, Seohyun tertinggal jauh sekali oleh Minho. Hingga akhirnya Minho lulus terlebih dahulu ketimbang dirinya yang masih stuck di tingkat itu-itu saja.

***

Flashback Of

Seohyun meraih gelas orang juice di depannya. Menegaknya dalam diam. Ia masih menunggu reaksi dari Minho. Namun, Minho pun juga masih terdiam.

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Seohyun yang berbicara dengan menundukkan kepalanya.

“Minggu depan…”

Hening kembali…

“Kau akan baik-baik saja tanpa aku.” Ujar Minho kembali. Seohyun langsung mengangkat kepala yang sedari tadi ia tundukkan dalam-dalam.

“Apa maksud Oppa kita putus?” Seohyun mengerenyitkan keningnya.

“Tidak! Tentu saja tidak. Bukan itu maksudku,” Sergah Minho.

Seohyun langsung berdiri dari kursinya. Dengan gemetar dan airmata kembali menetes ia berbicara.

“Aku tahu Oppa sudah muak denganku, dengan segala sifatku. Oppa selamat pergi!!!!! Aku benci Oppa!!!”

Seohyun pergi lari begitu saja meninggalkan Minho yang berusaha mencegahnya.

“Tidak Seo! Sama sekali bukan seperti itu!”

Minho sangat sedih bahwa kenyataannya ia tidak bisa membuat Seohyun mengerti.

Semenjak kejadian di kafe itu, Seohyun hanya mendekap dirinya dalam kamar. Ia menangis, menangis, dan terus menangis. Jika lelah ia baru tertidur. Sedangkan ribuan telepon dari Minho sama sekali tidak ia jawab. Pesan singkat pun sama sekali tidak ada yang ia baca. Minho juga sudah mendatangi rumah Seohyun, namun hanya Eomma Seohyun yang menemuinya. Hingga pada akhirnya Minho pun hanya bisa pasrah apabila ia harus berangkat ke Amerika tanpa berbaikkan dengan Seohyun.

Menjelang keberangkatan Minho ke Amerika yang bisa dihitung beberapa jam lagi. Seohyun semakin gelisah. Ia mencoba mengaktifkan handphone-nya kembali setelah sekian lama dinon-aktifkan. Puluhan pesan singkat masuk membanjiri kotak masuk di handphonenya. Namun, Seo hanya membuka pesan yang paling baru masuk. Ia baca isinya dengan rasa berkecamuk. Ternyata isinya singkat, kalimat sebaris saja.

“Nothing’s gonna change my love for you,”-

DEGG!!

Seohyun melihat jam dinding di kamarnya sekilas.  Aku ingin menemui Minho Oppa, walau untuk terakhir kali…

 

Incheon Airport

Seohyun setengah berlari sembari tangannya sibuk menelpon ponsel Minho.

“Oppa, jebal angkat teleponku. Oppa dimana?” Panik Seohyun.

Seohyun makin mempercepat langkahnya menuju terminal keberangkatan pesawat yang akan terbang menuju Amerika.

“Oppa!! Angkat teleponku..huhu…huhu…Ottokheeee?”

“Seo?” Panggil Minho dari belakang Seohyun tiba-tiba.

“Minho Oppa?” lonjak Seo kaget.

“Aku tadi menelpon eomma-mu, dan ia bilang kau menyusulku ke bandara. Ternyata benar kau kesini.”

Seohyun hanya berdiri diam terpaku menatap Minho.

“A…aa…akuuu…ingin…” Ingin sekali Seohyun berbicara meminta maaf, namun airmata dan emosi di dalam dadanya belum surut juga.

Tanpa menunggu apa-apa lagi Minho dengan cepat menghampiri Seohyun dan memeluknya kuat-kuat.

“Kau tahu? Aku mencintaimu lebih dari apapun. Dan aku pergi bukan berarti cintaku untukmu berhenti atau ikut pergi. Ini juga semua demi kamu. Semua demi aku ingin membahagiakanmu.” Bisik Minho.

Seohyun mulai sedikit tenang setelah mendengarnya.

“Kau akan kembali?”

“Tentu saja. Atau kau yang menyusulku ke Amerika. Tentu saja kalau kita sudah menikah nanti.” Senyum Minho.

“Oppaa…”

“Tetapi sebelum itu, kau harus menemukan impianmu dulu. Kau harus menjadi perempuan yang kuat ya Seohyun. Aku yakin kamu pasti bisa.”

“Tatap aku…” Pinta Seohyun.

Aku pasti akan merindukan warna bola matamu, Choi Minho…

***

Mungkin selama ini aku hanya mendengar lagu cinta yang menyenangkan saja, sehingga aku meniadakan warna lain. Seperti kesedihan, kerinduan, atau pengorbanan. Aku amat sangat mencintai dia seperti aku mendengarkan sebuah lagu cinta. Liris, indah, dan penuh makna. Meski tidak selalu indah, aku selalu ingin berakhir bahagia…

Hari tanpa Choi Minho di sisi Seo Joohyun pun dimulai. Minggu-minggu pertama Seohyun masih belum terbiasa. Ia masih suka menangis, merenung, dan menyendiri. Padahal  komunikasi ia dengan Minho masih lancar, namun rasanya tetap saja berbeda.

Tapi, di minggu ketiga Seohyun mulai bisa menata hatinya. Ia ingin bangkit dan semangat menyelesaikan kuliahnya yang sudah sangat lama tertunda.

Pada suatu senja, di sebuah taman, dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di  Seoul…

Seohyun terduduk lemas pada sebuah bangku taman. Di atas pahanya ada kertas putih masih kosong, ia pandangi kertas itu secara bergantian dengan pemandangan gedung-gedung tinggi.

Lalu, tangannya mulai menggoreskan pena di atas kertas putih tersebut. Mimik wajahnya susah dijelaskan, sedih iya, muram iya, serius menggambar juga iya. Rupanya ia sedang mencoba menggambar gedung-gedung di depannya.

Beberapa lama kemudian…

“Kau benar, oppa…” Seohyun mengentikan kegiatan menggambarnya.

“Aku memang tidak bisa menggambar gedung-gedung ini.” Ujarnya lagi.

Seohyun melihat hasil menggambarnya dengan raut wajah yang sangat-sangat sedih. Ada perasaan merana kini menyelimuti hatinya.

“Hhh…kau selalu benar oppa. Mengapa aku harus memaksakkan kita harus selalu sama? Aku tidak akan pernah bisa mencintai arsitek, mencintai rancangan-rancangan gedung seperti engkau mencintainya.”

Seohyun masih menatap kosong. Angin semilir mengacak sedikit rambut cokelat panjangnya. Saat ini ia rindu sekali dengan Minho. Sebulan sudah kepergian Minho ke Amerika, dan ia masih saja belum melanjutkan kehidupannya.

“Kau itu pabo apa bukan sih? Menggambar lalu ngomong sendiri?” tiba-tiba ada suara yang menganggetkan Seohyun dari lamunannya.

“Heh?” Sontak Seohyun terkaget ada seorang laki-laki menghampirinya dan dengan tenangnya duduk di sebelahnya. Namun, Seohyun mengambil sikap tidak peduli.

“Kau menggambar apa itu? Gedung disana? Jelek sekali? Mengapa menggambar yang tidak bisa kau gambar? Kau jadi menangis gara-gara itu kan?” cerocos laki-laki itu dengan tampang sok tahunya.

“YA!!! Kau siapa sih? Berisik tahu gak sih!” teriak Seohyun geram karena merasa ketenangannya terganggu akan kehadiran laki-laki tersebut.

“Bukan siapa-siapa…tapi, nampaknya kamu sedang ada masalah ya?”

“Sungguh bukan urusanmu!” jawab Seohyun ketus.

“Kenalkan aku…

TBC

Notes: Huaah ini FF Comeback-ku dari hiatus yang sudah sangat lama sekali. Ada yang merindukan aku kah? Hahaha ^^ Aku lagi terserang MinSeo jadi, tanganku gatal mau buat FF tentang mereka. Semoga kalian menyambutnya dengan suka cita yah hihi…Ohya, ayuk kita main tebak-tebakkan siapakah laki-laki yang baru saja hadir ituuuu? Ayooow tebak? RCL ya jangan lupa.

11 responses »

  1. huwaaa ff minseo, aku lumayan suka sama couple ini t[i lebih suka seokyu sih😀
    dilanjut ya min ff ini, aku penasaran siapa yg kenalan sama seo unnie.. daebak ffnya!!

  2. Lelakinya janghyun cnblue aj thor yg jd cast ke3.:D
    awal crt saya gk nyambung diakhir ruw ngerti dikit.
    Jd Minhonya ruw selesai kulyah trz Seobbnya gk tamat2 gt.oow.
    Lanjuttt….

  3. Siapa ya namja itu?🙂

    Aku tebak Kyuhyun, Changmin
    Atau Luhan?(Lagi demen nih couple SeoHan)
    Yah… Seobaby#ups Seolady maksudny
    Harus semangat dong kalau mau jd arsitek😉
    Next part cepat ya😮

  4. wihh siapa namja itu??
    chingu bhsnya gaul yaa… jd krng terasa feellnya *mian*
    konsepnya seru siii… ahhh seo hrus berubah deh

  5. baca ff seohan di salah satu blog, eh trnyata itu punyanya kakak ~ sebenernya udah lama tau ini blog, suka juga sama cerita2nya kakak yg kebanyakan/malah semua cast utamanya seobb<3 *aku juga seomates:D hehe* trus blognya hiatus jd kaga prnah kunjungin lg deh u,u jebal dong, ini ff dilanjut :'D jarang2 kak, ada ff minseo -..- eum, aku request ya kalo bisa org ketiganya pake suho:) seoexo pairing aku paling suka suseo(suho-seohyun) kan mrk juga ada moment:v eh atau changmin juga bisa:O gomawo ya kakak, sorry aku komen paling panjang ~ ga niat curhat kok sebenernya {} huehehe

  6. lnjutin donk chingu,,,,,, uda lmaaa nunggu nhe,,,,, penasaran dheee,,,,
    hwaiting,,,
    pleaseeee ya dilnjutin,,,,,,,
    ya ya ya,,,,,,,

  7. thor, jebal lanjutin. mana part 2nya, pen banget baca, gue minseo shipper. dan ini ff nyeritain gue sama couple rp gue banget *curhat -_-v plis lanjutin hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s