BEAUTIFUL CREATURES (Chapter 1)

Standar

BEAUTIFUL CREATURES (Chapter 1)

Main Cast:

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Pairing: BaekYeol  / ChanBaek

Genre:  Fantasy/ Romance (YAOI)

Lenght:  Multichapter

Summary:

Baekhyun terlahir ke dunia sebagai manusia abadi, immortal. Benci dengan statusnya dan frustasi, namun di pihak lain Chanyeol malah mengaggumi diri Baekhyun, lebih dari sekedar kagum. Ia jatuh cinta pada makhluk indah tersebut.

OST

Don’t Go by EXO

Baekyeol1

Author’s Note:

FF ini terinspirasi dari sebuah film holywood. Ff ini merupakan ff yaoi perdanaku karena kecintaanku dengan ship ini (Baekyeol) maka aku mencoba membuatnya. Dan tentu saja FF BAEKYEOL ini adalah YAOI, jadi jika ada yang tidak suka harap tidak membaca. Happy reading! Jangan lupa untuk komentar yaa🙂

I envy you. You think you can change things. Stop the universe. Undo what was done long before you came along. You are such beautiful creatures…

 

Park Chanyeol pov

Ini mimpi yang sama selama berbulan-bulan.  Aku tak bisa melihat wajahnya, tapi aku mengenalnya. Seakan aku mengenalnya selama ini. Rasanya sesuatu yang mengerikan akan terjadi setiap aku ingin meraihnya, namun aku tak takut. Aku menginginkannya, apapun yang terjadi, tetapi aku tak pernah mampu mendapatkannya. Lalu aku mati.

DORR!! Suara letusan pistol terdengar seiring dengannya peluru menghantam kulitku.

Lalu aku terbangun dari mimpi itu dengan perasaan cemas. Meraih segelas air putih yang tersedia di samping tempat tidurku. Selama seperkian menit aku menyelami kembali apa makna mimpiku barusan, mimpi buruk kukira, yang hadir dalam beberapa bulan belakangan ini.

Jika sudah seperti ini aku tidak bisa kembali tidur dengan nyenyak. Aku pun beranjak ke meja belajarku yang dipenuhi buku-buku penunjang ujian untuk masuk Universitas. Aku raih buku catatan harianku. Di satu lembarnya aku mulai menggambar, menggambar sesosok orang yang selalu hadir di mimpiku. Wajahnya tidak nyata, hanya sekelebat. Anehnya aku selalu percaya pada suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya.

—Beautiful Creatures—

Namaku Park Chanyeol, seluruh hidupku terjebak di Haesindang Gongwon,  sebuah kota kecil bernama Sinnam. Kota yang benar-benar membuatku ingin sekali meninggalkannya. Kalian bayangkan saja, jika aku ingin menonton sebuah film di bioskop, film itu pasti sudah ada dvd-nya, dan jangan harapkan bisa duduk di starbuck untuk menyeruput kopi karena untuk bisa seperti itu maka kalian perlu menempuh perjalanan panjang ke kota. Betapa tertinggalnya bukan? Disini hanya ada satu gereja, satu kuil yang selalu sepi, dan satu perpustakaan yang isinya lebih banyak buku yang dilarang dibaca ketimbang diperbolehkan membacanya. Penduduk disini pun hanya itu-itu saja dari generasi ke generasi. Eomma pernah bilang bahwa hanya ada dua tipe penduduk Gongwon, yaitu satu yang terlalu bodoh untuk pergi dan satu yang tak bisa bergerak. Appa tidak pernah keluar dari kamar sejak eomma meninggal, orang bilang itu takdir. Dan aku, ya satu-satunya alasan untuk bisa keluar dari desa ini adalah dengan mengikuti ujian masuk universitas. Aku sangat menanti-nantikan saat itu dari rentetan hidup monotonku selama ini.

“Appa…apaa, sarapan sudah siap!” Aku baru saja selesai membuat nasi goreng untuk mengganjal perut sebelum berangkat sekolah.

“Kau masih saja teriak-teriak seperti itu, padahal kau tahu benar Appa-mu tidak mau beranjak dari ruangannya.” Ucap Taeyeon ahjumma yang baru saja masuk dari pintu belakang.

Taeyeon ahjumma adalah sahabat karib eomma, sejak eomma meninggal dia lah yang membantuku mengurusi rumah, memasok bahan makanan, dan berbenah di rumahku. Ia sangat menyayangiku, begitu juga aku yang menyayanginya. Ia sangat membantuku dan menghiburku jika aku sedang terjatuh.

“Kau sudah tahu ingin mendaftar di kampus mana?” tanyanya sembari memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam lemari es.

“Semuanya! Selama kampus itu berjarak ribuan mil dari desa ini.” Jawabku.

“Hahaha, kau sangat ingin sekali keluar dari desa ini rupanya.”

“Exactly!”

“Semoga terkabul, sayang…”

“Baiklah aku berangkat dulu ya, ahjumma. Tolong berikan sarapan ini pada appa.” Pamitku.

Aku segera melaju dengan mobil tuaku ke sebuah rumah tetanggaku yang sekaligus sahabatku di sekolah, namanya Kim Jongin. Setiap harinya kami berangkat sekolah bareng.

“Hei Yeol, aku dengar di sekolah akan ada anak baru pindahan.”

“Jeongmal? Sshh, jika aku ingin sekali pindah dari desa ini malah ada juga yang pindah kesini, apa yang ada dalam pikirannya.” Runtukku.

“Molla. Eh, tapi desas desus yang kudengar juga bahwa murid pindahan itu berasal dari keluarga Byun!”

“Mwoo?”

Keluarga Byun adalah salah satu keluarga yang cukup terkenal di desa ini. Maklum saja ini desa kecil, siapapun akan hapal nama marga disini. Namun hanya saja marga Byun dikenal bukan karena citra baiknya melainkan keanehannya. Banyak yang bilang keluarga itu aneh karena jarang menampakkan wajah mereka di luar.

“Apakah ada anak dari keluarga Byun yang seumuran kita? Nampaknya si tua Byun itu tidak pernah terlihat memiliki anak, bahkan istri.” Tanyaku.

“Molla, sepertinya itu keponakan si Tua Byun yang datang dari kota.” Jawab Jongin mulai menyetir.

Ini awal masuk sekolah setelah beberapa pekan liburan musim panas. Rasanya aku cukup lama melewatkan masa-masa ini. Benar-benar tidak sabar mengikuti ujian masuk universitas kedambaanku yang ada di Daegu.

“Chanyeoliiiee~~,” panggil seorang perempuan yang dengan sengaja menunjukkan aegyo-nya di depanku.

“Hey!” balasku seadanya.

“Chanyeollie, bagaimana dengan liburan musim panasmu?”

“Menyenangkan.” Balasku lagi masih dengan datar-datar saja.

“Bogoshipota!! Kau tidak menelponku sepanjang liburan ini.”

Kringgg!!!

Bel tanda masuk sekolah terdengar dan membuatku tidak perlu menjawab pertanyaan Sulli barusan. Sulli adalah mantan yeojachinguku. Aku memutuskannya tepat sebelum musim panas datang. Sejak awal aku memang tidak merasakan perasaan apapun kepadanya, namun dia selalu mendekati dan berusaha. Atas dorongan Jongin aku pun mencoba membuka hati dan menjalankan hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi yang aku dapat adalah nol besar, tidak ada cinta di hatiku untuknya. Hobi saja sangat bertolak belakang sekali. Aku tidak habis pikir mengapa ia selalu menyuruhku berhenti membaca buku-buku hebat dari penulis hebat. Ya, eomma adalah penulis, karenanyalah aku menjadi suka membaca. Dengan membaca pikiranku terbuka luas melihat cakrawala dunia, tidak terjebak pada desa aneh ini. Sulli memang cantik aku mengakuinya, namun aku tidak bisa terus menjalani hubungan semu ini dan pada akhirnya aku meminta putus. Reaksinya pada awalnya memaki-makiku karena telah jahat, namun setelahnya ia malah menganggap tidak ada kata putus diantara kami. Mengherankan…

Seseorang namja masuk ke dalam kelas dengan langkah yang sedikit ragu, sontak semua murid memerhatikannya dan saling berbisik mengomentari.

“Oh, silahkan masuk kamu Byun Baekhyun. Kenalkan kalian semua ini adalah murid baru yang akan berada di kelas kalian.” Ucap Suho sosaengnim kepada namja itu.

Namja itu benar rupanya bermarga Byun seperti yang diceritakan Jongin tadi pagi. Ia memiliki tubuh yang kecil dan terlihat ringkih, apa mungkin karena terpengaruh kulit putih pucatnya? Aku memerhatikannya dengan seksama, mulai dari warna rambutnya sampai sepasang sepatunya. Sepertinya bukan hanya aku saja yang seksama menatapnya, semua murid di kelas ini pun melakukannya. Wajar saja karena orang ini adalah marga Byun! Dimana mereka nyaris tidak pernah terlihat berkeliaran di desa ini.

“Kamsahamida, perkenalkan saya Byun Baekhyun. Mohon bimbingan kalian semua.” Setelah memerkenalkan namanya secara singkat dia pun duduk di bangku kosong sebelahku. Aku menoleh kepadanya, namun ia tidak menoleh kepadaku.

“Eomma bilang si tua Byun tidak pernah keluar rumah karena dia adalah pemuja setan!” bisik-bisik antara Sulli dengan sahabatnya Krystal terdengar oleh telingaku. Dan aku yakin juga terdengar sampai telinga murid baru tersebut.

“Yap! Eommaku juga berbicara seperti itu, Krys.”

“Terimakasih atas sambutannya,” Murid baru itu menoleh ke arah Sulli dan Krystal sembari memberikan senyumnya.

Aku mendapatkan kesan bahwa namja itu sangat berbeda, rasanya seperti mengenalnya di suatu tempat namun tidak kuketahui dimana. Samar-samar aku memerhatikan tangannya, tangannya amatlah cantik untuk ukuran tangan seorang namja. Dan apa itu? Di lengannya ada semacam tatto bertuliskan “104”, apa artinya? Mataku tak lepas memandanginya.

“Murid-muridku sekalian, aku kembali mengingatkan bahwa tahun ini kalian dituntut untuk ikut berpartisipasi dalam pemeragaan kemenangan kita di Taman Haesindang, yakni pertempuran Haesindang Hill. Pemeragaan akan dilaksanakan pada tanggal 21 Desember dimana tepat pertempuran itu terjadi.” Ujar Suho sosaengnim yang membuat kelas mendadak jadi ricuh karena sebagian merasa tanggal segitu sudah memasukki masa liburan natal dan tahun baru.

Memang sudah tradisi di desa ini mengadakan pemeragaan tahunan. Dimana di taman tersebut, warga desa nenek moyang kami pernah memenangkan sebuah pertempuran yang membawa kejayaan. Taman yang dimaksud sebenarnya hanyalah taman biasa, lapangan luas yang di tengah-tengahnya ada pohon besar yang berdiri sendiri.

“Chanyeol, Chanyeol…” panggil Sulli dari belakang. Aku baru tersadar dari pandanganku kepada murid baru itu.

Sepulang sekolah, aku lajukan mobilku dengan perlahan karena siang ini mendadak hujan deras turun disertai angin. Dari jauh aku melihat dengan tidak jelas ada seseorang yang sedang berdiri dan aku nyaris saja menabraknya jika tidak segera menge-rem mendadak.

“Kau ingin membunuhku!” ujar seorang namja yang sudah basah kuyup. Ah rupanya namja itu adalah si murid baru, Byun Baekhyun.

“Kau yang berdiri di tengah jalan, pabo!”

“Aku butuh bantuanmu, pintar!” Ujarnya sembari melirik mobilnya yang tergeletak di pinggir jalan. Sepertinya mogok.

“Ah sudahlah, lupakan!” ujarnya kembali seraya kembali ke tempat mobilnya berada. Dugaanku ia tersinggung dengan kata “pabo” yang aku lontarkan.

“Chamkaman!! Mianhe, bukan maksudku. Err, masuklah ke dalam mobilku, ini jalan yang jarang dilewati orang, kau akan kesusahan.” Tawarku.

Baekhyun si murid baru itu memandangi wajahku

“Kau teman dari gadis-gadis dungu yang tadi di kelas menghinaku ya?”

“Mwo?”

“Kalian pastilah segerombolan pecundang yang selalu merumpi di belakang keluargaku. Arasho!”

“Bisakah kau memaki diriku di dalam mobilku saja? Sepertinya sebentar lagi disini akan ada badai besar.”

Derasnya hujan disertai angin pun akhirnya memaksa dia masuk ke dalam mobilku, walau tampangnya nampak kesal.

“Duduk di depan saja, pintu belakang agak sedikit rusak.” Aku berbohong padanya dengan mengatakan itu.

Setelah berada di dalam mobil, entah kenapa suasana canggung menyelimuti. Padahal ia seorang namja, sama seperti Jongin yang sering duduk di sampingku seperti ini. Namun, mengapa melihat dia yang sekarang duduk disebelahku dengan tubuh menggigilnya membuat hatiku sedikit berdebar.

“Pakai ini!” aku memberikannya sebuah jaket yang kuambil dari jok belakang.

“Kamsahamida.” Ucapnya. Lalu kulihat ia mengeluarkan sebuah buku dan mulai membacanya.

“Oh ya omong-omong maaf soal sikap yang tadi dilakukan Sulli dan Krystal, aku bukan seperti mereka kok.” Aku merasa tidak enak karena tadi Baekhyun menyangka diriku sama dengan Sulli yang menggosipkan keluarga Byun adalah pemuja setan.

“Sincha? Baiklah aku mengerti.” Ujarnya.

Lalu obrolan kami menjadi lancar mengalir begitu saja, dia menceritakan bahwa ia sudah sering berpindah-pindah sekolah dan aku mengatakan sangat iri karena aku selama hidup hanya terus berada disini. Baekhyun juga sama denganku bedanya ia yatim piatu sedangkan aku hanya piatu. Hingga akhirnya sampailah di depan gerbang kediaman keluarga Byun, aku menawarkan untuk mengantarnya sampai depan rumahnya karena aku melihat jarak dari gerbang masih sangat jauh untuk ke teras rumahnya.

“Gerbang yang sangat megah,” ujarku.

“Hmm, terimakasih sudah memberi tumpangan kepadaku ya. Siapa namamu?”

“Park Chanyeol,” ujarku seraya memberikan jabatan tangan.

“Byun Baekhyun,” Balasnya. Sepersekian detik aku merasakan tangan kecilnya begitu dingin.

Lalu ia melangkah memasukki gerbang yang sangat besar itu.

“Kau benar-benar payah tidak basa basi menawariku untuk mampir?”

“Haha, mianhe aku belum biasa membawa orang asing masuk, lagipula aku disini menumpang dengan ahjussi, jadi aku harus jaga sikap.”

“Arasho.” Balasku seraya kembali masuk ke dalam mobil.

Byun Baekhyun, entah kenapa aku terkesan sekali dengannya.

Pada suatu malam, rame-rame penduduk desa berkumpul di taman Haesindang. Dari yang Jongin ceritakan bahwa mereka sedang berupaya meminta Tuhan melindungi mereka dari kejahatan.

“Lihatlah, petir itu selalu menyambar di tempat yang sama bukan?” Tunjuk Jongin pada pohon yang berada di tengah lapang itu.

“Sejak kapan?”

“Sejak namja aneh bernama Byun Baekhyun itu pindah ke desa kita.” Celetuk Sulli yang sudah ada tepat disampingku.

“Aku dengar dari eommaku, bahwa ia pernah membunuh seseorang.”

“Hentikan omong kosong ini, Sulli!” ucap Jongin.

“Tapi ini kebenarannya, bahkan ibunya membunuh ayahnya sendiri.”

“Sulli, aku mohon tutup mulutmu!” bentakku.

“Ada apa denganmu, Chanyeol? Mengapa kau berubah?” Sulli menarikku menjauhi Jongin dan Krystal.

“Aku muak dengan orang-orang disini yang menyalahkan orang yang mereka belum kenal.”

“Memangnya kau kenal dengan keluarga Byun?” sindirnya.

Tanpa ada balasan lagi dariku, aku meninggalkannya, meninggalkan warga desa yang sedang menderaskan kata-kata suci dari kitab kepada langit malam.

“Aucch…” aku jatuh tersandung sebuah batu yang tidak nampak karena gelapnya malam ini.

Ketika itu juga tanganku menemukan suatu benda yang ada di atas tanah bersamaan dengan bebatuan. Seperti sebuah bandul liontin yang dapat dibuka, namun bukan foto yang ada di dua sisinya. Aku mencoba membaca ukiran yang ada di dalam sana namun tidak terlihat karena tidak ada cahaya. Tetapi aku memutuskan menaruhnya di saku celanaku.

Segera sesampainya di rumah aku membuka liontin tanpa rantai itu, ternyata didalamnya terukir sebuah inisial “B & C” lalu sebuah tanggal “21 December 1893”. Barang kuno pikirku.

–Beautiful Creatures–

Keesokkan hari terjadi sesuatu hal ganjil di kelasku, semua bermula dari Sulli dan Krystal yang kembali berulah dengan menggosipkan Baekhyun.

“Seohyun sosaengnim, semalam eomma bilang padaku bahwa aku dilarang sekelas dengan dia, Byun Baekhyun!” Ucap Sulli dengan nada meninggi pada guru Sejarahku.

“Sulli-ssi, apa maksudmu?” jawab Seohyun sosaengnim tak mengerti.

“Eommaku juga bilang begitu, seluruh keluarganya adalah pemuja setan yang selalu berdoa dengan bertelanjang.” Krystal menambahkan.

Lalu kedua murid konyol itu menderaskan doa sembari mengatupkan kedua tangan mereka. Kekonyolan macam apa ini, geramku.

“Hentikan Sulli, Krystal! Kalian dilarang berdoa di dalam kelas seperti itu!” Seohyun sosaengnim terlihat marah dengan kelakuan mereka. Namun rupanya Sulli dan Krystal tetap menderaskan doa seperti pengusiran setan.

Sekilas aku melihat Baekhyun nampak risih akan sindiran yang pastilah melukai hatinya. Lalu tak lama itu tiba-tiba saja kaca jendela kelas pecah dengan sendirinya.

“AAAAKKHHH” Teriak semuanya.

“Lihatlah apa yang dilakukan anak aneh itu, dia memecahkan jendelanya. Membuat kita terluka.” Maki Sulli.

“Kau penyihirrrr!!!” Raung sulli mencoba memprovokasi yang lainnya.

“Gwenchana?” tanpa disadari aku malah menghampiri Baekhyun, aku menanyakan keadaannya. Sekilas ia mengangguk dan pergi meninggalkan kelas.

Dan aku memutuskan untuk mampir ke rumahnya nanti selepas pulang sekolah.

Rumah keluarga Byun benar-benar berbeda dari rumah orang desa sini. Pertama, gerbangnya yang cukup tinggi mengesankan arsitek bangunan barat kuno. Tumbuhan menjalar di sepanjang jalan kecil menuju bangunan utama yang sangat besar. Rumah ini memang besar dan nampak kurang diurus. Dengan lancang aku memberanikan masuk ke dalam pekarangannya, kulihat Baekhyun nampak sedang duduk sendirian di salah satu sisinya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” rupanya Baekhyun menyadari kehadiranku.

“Memastikan keadaanmu.”

“Gwenchana, aku baik-baik saja. Pergilah…” Ia nampak mengusirku.

“Kau mengusirku?”

“Kau lihat kan aku baik-baik saja jadi untuk apa kau disini?”

Tanpa pemirsi aku duduk di sampingnya, sekilas aku lihat lagi tatto yang ada di pergelangan tangannya, kali ini angka itu berbeda dari yang sebelumnya.

“90?” Apa artinya itu? Pertama kali aku melihatnya, angka 104.” Tanyaku.

Baekhyun tidak menjawab, malah mencoba menyembunyikan tatto tersebut.

“Kau tahu apa yang terjadi siang tadi di kelas kita?” tanyanya.

“Entahlah, tetapi aku yakin bahwa Sulli hanya membual. Tidak usah dimasukkan dalam hati, pikiran beberapa orang disini memang sempit.” Aku berusaha menghibur namja di depanku ini. Dan aku rupanya berhasil, ia tersenyum kepadaku.

Aku tidak mengerti mengapa aku sangat tertarik pada namja kurus ini. Segalanya sangat memesonakan mataku. Rambut lurus kecoklatannya yang selalu ia tutup dengan topi, matanya yang kecil, hidungnya, mulutnya yang juga kecil tipis. Ada aura dalam dirinya yang membuatku ingin menjaganya, pastilah berat menjadi seorang yang dikucilkan.

“Kau selalu menolongku, mengapa?” tanya Baekhyun tiba-tiba di tengah-tengah lamunanku.

“Aku melihat kita banyak kesamaan, kita membaca buku yang sama lho. Buku Hemingway! Aku melihatnya waktu mengantarmu di tengah badai sewaktu perkenalan pertama kita.”

“Memangnya aneh membaca buku itu?”

“Yap, aku jamin tidak ada orang di desa ini yang membaca buku itu selain diriku. Buku itu dilarang di perpustakaan karena katanya ketentuan gereja.”

“Lalu kau ajaib melihat aku membacanya, seperti takdir menemukan seseorang yang aneh selain dirimu sendiri? Hehe…” Baekhyun menertawaiku.

“Aku hanya berpikir, sepertinya kita cocok menjadi teman.” Ucapku.

“Jeongmal? Aku kok tidak berpikiran yang sama ya? Hehe…” dia kembali menggodaku.

Angin mulai berhembus kencang, malam akan segera tiba.

Rambut Baekhyun teracak-acak angin hingga menutupi matanya, Chanyeol mendadak sepersekian detik jantungnya berhenti berdetak. Rupanya, Wajahnya, Baekhyun tidak salah lagi adalah rupa seseorang yang selalu datang di mimpinya beberapa bulan belakangan ini.

“Baekhyun, ini memang terdengar aneh. Tetapi, sincha…aku memimpikanmu selalu dalam tidurku. Aku tidak mengerti kenapa bisa?”

Baekhyun hanya kaget mendengar ucapan Chanyeol barusan.

“Mianhe, aku aneh ya? Oh ya, pada suatu malam aku menemukan sebuah bandul. Di dalamnya ada inisial B&C, lihatlah…Aku ingin memberikan padamu sebagai hari jadi…pertemanan kita.” Chanyeol memberikan bandul itu pada Baekhyun.

“Kenapa memberikannya kepadaku?” Baekhyun bertanya.

“Anggap saja B dan C ini inisial dari nama kita, hehe.”

“Oh ya, benar juga apa katamu. Baekhyun dan Chanyeol. Hmm…”

“Benar, dan 21 Desember 1893. Aku tidak mengerti arti tanggal ini.”

“Kebetulan sekali lagi, itu sama dengan hari ulangtahunku yang ke 16.” Ucap Baekhyun.

“Jeongmal? Wah, banyak sekali kebetulan terjadi sejak kenal denganmu.” Chanyeol tidak menyangka tanggal di bandul itu sama dengan tanggal lahir Baekhyun.

“Nde, tapi kau ingat apa yang dikatakan Hemingway dalam bukunya? Bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini bukan?” Ujar Baekhyun.

“Jadi ini kuberikan padamu, ok?” Ketika Chanyeol hendak memberikan bandul itu, tiba-tiba saja ia hilang kesadaran dan tiba-tiba sudah terbangun saja di kamarnya.

“AAAAKKHH!!!” Jerit Chanyeol terbangun. Raut wajahnya nampak keheranan kenapa tiba-tiba ia bisa ada di kamarnya sedangkan barusan ia ada bersama Baekhyun di rumahnya.

“Ahjumma!!!” panggil Chanyeol.

“WAE? Kenapa kau berteriak seperti itu?” Jawab Taeyeon.

“Bagaimana aku bisa kembali ke rumah?”

“Apa maksud pertanyaanmu? Saat aku datang kau sudah tertidur,”.

“Sincha? Mengapa aku tidak ingat aku pulang ke rumah. Aku hanya ingat aku sedang di pekarangan rumah Baekhyun.” Chanyeol meremas-remas keningnya yang sedikit pusing.

“Baekhyun? Namja dari keluarga Byun? Orang-orang sini bilang keluarga mereka tidak sama dengan keluarga kita, sebaiknya kau jauhi saja namja itu.”

“Apa maksudmu? Sejak kapan kau mengatur aku berteman dengan siapa?”.

Chanyeol kembali ke kamarnya, ia kecewa bahkan ahjummanya sendiri termakan omongan orang-orang mengenai keluarga Byun.

Di lantai kamarnya, ia menemukan bandul itu terjatuh di dekat tempat tidurnya. Benarkah ini hanya mimpi? Yang barusan dialaminya bersama Baekhyun?

“Dimana kau menemukan bandul itu?” Tiba-tiba Taeyeon sudah ada di kamar Park Chanyeol.

“Di sebuah tempat, kenapa?”

“Kubur bandul itu di taman Haesindang, Chanyeol!”

“Mwo? Kenapa kau bisa tahu aku menemukannya di Haesindang?”

Chanyeol semakin merasakan keanehan pada bandul serta hal yang ia alami bersama Baekhyun tadi. Lalu ia memutuskan kembali ke rumah Baekhyun untuk mencari jawabannya.

Sementara di kediaman keluarga Byun,

“Ahjussi, apa yang kau lakukan kepada Chanyeol?”

“Membuatnya untuk tidak kembali lagi kesini. Baekhyun, sudah kuizinkan kau untuk bersekolah namun aku tidak mengizinkan kau untuk berteman. Kau mengerti?”

“Tidak bisakah hanya sampai pada hari ulangtahunku?”

“Tidak, Byun Baekhyun!”

Chanyeol nampak tengah kembali ke rumah Baekhyun, namun sejauh apapun ia berjalan ia tidak sampai-sampai ke teras rumah itu, selalu kembali di depan gerbang. Seperti ada sihir yang mencegahnya untuk masuk. Lalu mendadak ia diserang angin kencang hingga ambruk di tanah.

Ketika ia membuka matanya, terlihat Baekhyun sedang memandang wajahnya.

“Hah? Mengapa kau ada di kamarku?”

“Enak saja! Ini kamarku, bukan kamarmu.”

Chanyeol benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia alami hari ini, sejak tadi siang. Dan ia selalu berakhir dengan terbangun seolah yang ia alami hanyalah mimpi. Untuk bisa meyakini itu semua mimpi bukanlah perkara mudah karena bagaimana bisa itu hanya mimpi jika terasa benar-benar nyata.

“Mianhe, kau bingung ya? Keluargaku berbeda, Park Chanyeol.”

“Berbeda apa maksudmu?”

“Ya, kami melakukan hal yang berbeda…Ini minumlah teh hangat dulu.”

Baekhyun memberikan secangkir teh hangat kepada Chanyeol.

“Gomawo, tetapi apa maksudmu dengan hal berbeda itu?”

“Kami memiliki kekuatan.” Jawab Baekhyun.

“Kekuatan? Hmm, semacam seperti yang aku alami di luar tadi?” tanya Chanyeol kembali.

“Itu perbuatan Byun Baek Yong ahjussi. Dia membentengi rumah ini, memantrai rumah ini untuk melindungiku saat ia tidak berada disini.” Penjelasan Baekhyun hanya disambut kerutan kening Chanyeol.

“Mantra?”

“Yap, mianhe.”

“Baekhyun, apakah kau penyihir?” Chanyeol pada akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan itu.

“Bukan, tentu saja bukan! Maksudku, memanggil kami penyihir sama saja dengan memanggil bodoh pada orang pintar. Kami lebih suka istilah Caster.”

Chanyeol memandang lesu ke arah Baekhyun.

“Aku tidak benar-benar bermaksud menghancurkan jendela kelas. Kekuatanku semakin lama semakin kuat, aku tak selalu bisa mengendalikannya. Wajahmu seperti mayat? Kau shock ya?” Baekhyun terseyum geli melihat reaksi Chanyeol.

“Hahaha, ini memang benar-benar pertanda atau takdir? Seperti di mimpi-mimpiku. Jadi bagaimana dengan bandul ini?” Chanyeol membuka tutup buka tutup bandul di tangannya.

“Molla, bukan aku yang melakukannya. Ketika tangan kita secara bersamaan menyentuhnya, ada sesuatu, sesuatu yang lain terjadi, bukan dari kekuatanku.”

“Lalu, maaf? Apa kau ada kaitannya dengan setan?” Chanyeol nampak menyesal telah bertanya seperti itu karena setelah itu wajah Baekhyun nampak menyeringai marah.

“Mortal selalu beranggapan begitu. Memang ada caster yang jahat, Chanyeol sama halnya dengan ada mortal yang jahat!” Baekhyun duduk menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Mianhe, aku hanya ingin tahu jika benar kau memiliki kekuatan, kekuatan apalagi yang ada dalam dirimu?” Chanyeol mendekatkan wajahnya di depan wajah Baekhyun.

Setelah itu, tiba-tiba kamar menjadi gelap lalu muncul sedikit demi sedikit cahaya terang dari dinding-dinding dan langit-langit kamar. Cahaya itu merangkai tulisan, dan mendadak kamar itu dipenuhi dengan tulisan di dindingnya.

“Aku suka membuat puisi disini atau menulis quote dari buku yang habis aku baca.”

Chanyeol nampak terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya.

“Tidak seharusnya aku menunjukkan ini kepada mortal. Kau tahu? Aku lelah untuk terus bersembunyi, mendengar semua bergunjing tentangku. Kadang aku hanya ingin menjadi manusia normal.” Ucap Baekhyun, ada nada getir di ucapannya barusan dan itu membuat Chanyeol nampak semakin terpesona.

Secara naluriah, Chanyeol menyentuh rambut Baekhyun. Lalu menyentuh dagunya, menatap lekat-lekat wajah namja cantik di depannya itu.

“Kenapa kau tersenyum? Ah, kau selalu tersenyum sejak aku berkenalan denganmu.”

“Baekhyun, kau itu ajaib. Mengapa kau malah berpikir ingin hidup normal?” ucap Chanyeol.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Ya, aku malah iri denganmu. Kau makhluk indah, kau tahu itu Byun Baekhyun…satu-satunya makhluk terindah yang pernah aku temui.”

Dan dengan naluriah pun, keduanya semakin mendekat dan saling menatap satu sama lain dalam waktu yang lama.

“Kau bukan yang kuharapkan…” lirih Baekhyun.

“Mwo?”

“Hehe, jangan berprasangka buruk. Sebenarnya aku juga memimpikanmu selama berbulan-bulan ini. Aku tak menyangka kau nyata.” Baekhyun menyentuh pipi Chanyeol.

“Apakah ini takdir?” ucap mereka bersamaan.

“Baekhyun!!!” terdengar dari bawah, pamannya memanggilnya.

“Ppali kau harus pergi sekarang juga.”Baekhyun menyeret Chanyeol ke pinggir jendela.

“Kau ingin aku keluar dari sini, ini lantai atas bagaimana bisa aku loncat?”

“Pabo!” Lalu Baekhyun menciptakan tanaman menjalar dari jendela sampai bawah untuk bisa Chanyeol panjat.

“Dasar penyihir! Hehe…” ejek Chanyeol.

“Pabo!”

“Penyihir!”

“Aish, cepat keluar pabo sebelum ahjussi memantraimu lagi.”

“Janji dulu, kau mau jika aku ajak berkencan?” Seringai Chanyeol membuat Baekhyun merona.

“Akan aku pertimbangkan…”

“Good night”. Bisik Chanyeol ke telinga Baekhyun seolah ingin menciumnya.

“Good night…” balas Baekhyun.

Malam itu berakhir dengan dua senyum dari dua makhluk berbeda yang sama-sama merasakan kebahagiaan untuk bisa saling mengenal. Bahagia bukan apabila seseorang yang selama berbulan-bulan kau mimpikan tiba-tiba saja hadir di hadapanmu? Apakah ini takdir? Ataukah malah bencana bagi keduanya?

-TBC-

9 responses »

  1. jadi bukan vampira ya… sejak ada kata imortal langsung kepikiran ke vampira….
    caster? masih asing dengan istilah itu…

    ayo di lanjut ceritanya seru, kata-katanya juga enak di bacanya,,, tapi banyak banget pertanyaan yang ada dibenakku,
    mungkin bakalan terjawab di chap depan kali yah,,,

  2. Uwoooooh Kerrrreeeeen!
    huhuhu chanyeol jatuh cintaaa.
    Baek mulai menampakan sisi ukenya.

    ceritanya keren!

    Mohon dilanjut lho!

  3. Uwiioooh Keren!
    Fantasy romance CHANBAEK!
    bahasanya cukup bagus.
    tapi aku bingung pas ahjussi memantrain yeol.

    ini di lanjut ne.
    jebaaal

  4. Author, ini bagus sih… Tapi ini namanya bukan terinspirasi. Mian thor, tapi ini persis plek-plek-plek sama bukunya… Gue Udah baca sih… Cuma nama2nya doang yang diganti… Semoga lanjutannya nggak terlalu pas-pas banget sama aslinya… Keep writing thor!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s