When Peterpan Met Wendy (Chapter 1)

Standar

When Peterpan Met Wendy (Chapter 1)

By: Baekkibell

Main Cast:

Seo Joohyun

Xiu LuHan

Other Cast:

Lee Donghae

Im Yoona

Kris

Pairing: Seohan

Genre:  Romance, Sad

Rating: M

Lenght:  Multichapter

Summary: Tidak pernah Seohyun menyangka bahwa kisahnya akan sama persis dengan dongeng yang sering ia bacakan untuk teman-temannya. Kisah tentang Peterpan dan Wendy.

Author’s note: Aku kembali membawakan ff Seohan >< Kali ini agak fiktif ya ceritanya dan ini adalah ff adaptasi dari sebuah film barat yang author suka dan juga terinspirasi dari lagu Peterpan-nya EXO. Well, semoga kalian pada suka dan mau memberikan kritik dan sarannya ^^

SEOHAN FF

 –When Peterpan Met Wendy–

Ada sesuatu yang bisa kita sembunyikan, sesuatu yang bisa kita tinggalkan, dan ada sesuatu yang lain dalam diri kita. Yang akan terus kita bawa pergi, yang kita miliki bahkan sebelum kita terlahir…

Tahun 1990,

Seorang wanita yang sedang hamil besar nampak kesakitan sembari memegangi perutnya yang sudah besar kandungannya, nampaknya ia akan segera melahirkan. Di rumah itu ia hanya seorang diri karena suaminya sedang berada di halaman belakang nampak berkutat dengan mobil yang sedang diperbaiki. Dengan langkah pelan dan merintih, wanita hamil ini berusaha keluar menemui suaminya bahwa sepertinya bayi mereka akan lahir. Wanita itu turun dari tangga rumah, namun baru beberapa langkah ketika sudah di halaman bawah, ia jatuh terungkur di atas rerumputan hijau.

“Aaaaakkkhhh…” ringisnya menahan kesakitan yang menderanya.

Di tengah rintihan wanita itu, hal aneh terjadi di sekitaran wanita itu terjatuh. Nampak rerumputan yang tadinya berwarna hijau mendadak berubah warna menjadi tidak hijau lagi, melainkan kuning kecoklat-coklatan seperti sudah layu. Bunga-bunga yang kebetulan berada tidak jauh dari situ juga mendadak layu mengucup. Langit di atas sana pun berubah menjadi kelabu.

Untunglah sang suami segera menyadari teriakan sang isteri.

“Yoonaaa?? Gwencahana?” teriak Donghae panik melihat istrinya jatuh terkapar meregang kesakitan sembari memegangi perutnya yang besar.

“Oppa, aku akan segera melahirkan!” pekik Yoona.

Lalu dengan secepat kilat Donghae memapah Yoona menuju mobil, lalu berangkat menuju ke sebuah rumah sakit bersalin.

Di tengah perjalanan Yoona tak hentinya berhenti berteriak kesakitan, Donghae pun mulai cemas dan panik melihat Yoona yang sekarat.

“Sabar ya Chagi, sebentar lagi akan sampai. Kau kuat, pastilah kuat.” Donghae mencoba memberi ketenangan pada Yoona. Namun Yoona semakin merintih-rintih terlebih setelah itu terlihat ada aliran darah yang mengalir dari tubuh bagian bawah Yoona.

“AAAAAAAKKKKHH, Aku tidak kuaaaat…”

Donghae menjadi semakin panik dan seketika itu juga mobil yang mereka kendarai mendadak mati. Ya, mobil yang sedari pagi sudah dipersiapkan sedemikian bagusnya mendadak mati di tengah perjalanan mereka. Mesinnya benar-benar mati, Donghae pun mulai semakin gusar. Teringat sebuah kutukan dalam dirinya…

Aku merasa setiap keluarga ada ciri khas masing-masing. Tapi keluarga Lee punya sesuatu yang aneh yang lain dari yang lain. Seperti Ayah Donghae, Lee Hongbin. Suatu hari Hongbin melihat sesuatu yang tidak pernah ingin dia lihat. Sesuatu yang membuat dampak pada dirinya. Ia pernah tidak sengaja melihat paman dan bibinya sedang melakukan hubungan sex. Seketika itu juga, tiap kali Hongbin memikirkan tentang sex, Lee Hongbin akan buta selama 37 menit. Itu juga berlaku pada malam pertamanya. Anak mereka, Lee Donghae juga punya sebuah kemampuan. Seperti Hongbin dan Lee yang lain sebelum Donghae, dia juga mempunyai karunia yang aneh. Kapanpun dia merasa takut atau cemas, itu akan mematikan semua benda elektrik di sekitar dia. Ini bukan masalah terlalu besar bagi Donghae, sampai pada suatu ketika…

Mesin pada mobil Donghae mendadak mati ketika ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Yoona. Dan hal buruk pun akhirnya terjadi, Yoona menjadi semakin lemah dalam kesakitan ketika berusaha mencoba melahirkan bayinya di dalam mobil. Sementara di sekitar mereka tidak ada kendaraan lain yang lewat.

“Oeeekk…ooeekk…”

Bayi Yoona berhasil dikeluarkan, namun sesaat itu juga Yoona menghembuskan nafas terakhirnya.

“TIDAAAAAAAAAAAKKK!!!” Teriak Donghae putus asa, ia menangis meraung-raung menyaksikan sendiri ketidakberdayaannya menolong Yoona.

Langit semakin berubah menjadi kelam, sementara tangisan bayi itu berlomba memecah dengan tangisan ayahnya. Ya, Donghae pun menggendong bayi yang masih bermandikan darah itu. Ia menamai bayi merah laki-laki itu, Lee Luhan.

Saat Luhan berumur 10 tahun, ia diberitahu neneknya tentang cerita anak lelaki tiap keturunan Lee yang selalu sedikit mengalami perbedaan dari anak lelaki biasa. Sejak saat itu entah kenapa Luhan bukannya takut, melainkan dia menjadi antusias kelak akan mendapatkan karunia apa.

Suatu hari ia mencoba menemukan apa kekuatannya. Ia selalu membayangkan dapat terbang layaknya superman, maka suatu pada suatu pagi ia bersepada di ladang dekat rumah Lee. Ia mengenakan kostum superman, tokoh favoritnya. Ia kayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi dan mencoba melompat untuk bisa terbang.

BRUKKK!!!

Alih-alih dapat terbang, Luhan terpelanting dari sepedanya dan jatuh menabrak pintu kayu pembatas kandang sapi di dekat situ. Bersamaan dengan itu, langit yang tadinya cerah berwarna biru mendadak berubah kelam oleh awan hitam. Luhan jatuh di atas ladang rumput, sekujur tubuhnya terluka karena tertabrak pintu kayu tadi. Ia meringis kesakitan, namun hal aneh tiba-tiba menghinggapinya, di sekelilingnya mendadak berubah mati. Rumput-rumput serta daun-daun di pohon mati dan kering, juga dengan 2-3 ekor sapi yang kebetulan ada di kandang itu tiba-tiba saja menggelepar jatuh dan mati.

Luhan kebingungan setengah mati melihat perubahan suasana di sekitarnya. Ia berteriak dan berlari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia jumpai ayah dan neneknya yang sedang duduk khawatir atas kepergiannya.

“Neneeeek…” teriak Luhan ketakutan.

“Luhan?” jawab sang nenek cemas.

“Kau dari mana saja anak pengacau?” teriak Donghae yang nampak kesal. Ya memang, Donghae tidak begitu suka dengan anak kandungnya sendiri. Karena Donghae masih merasa karena melahirkan Luhan lah, Yoona akhirnya meninggal.

Luhan tidak menjawab, ia hanya meringis kesakitan dan menangis.

“JAWAB AKU!!!” Teriak Donghae makin kesal.

“Aku…tidak mengerti…hal aneh terjadi pada sapi-sapi itu…hu…hu…”

“Maksudmu?” tanya Donghae.

“Gwenchana, Luhan? Sakitkah?” Nenek Luhan terlihat cemas terhadap Luhan.

Lalu Donghae memeriksa ladang di belakang rumah dan betapa kagetnya ia melihat sapi-sapi di sana tergeletak mati, juga dengan sekitar 5 meter rumput nampak kering.

Luhan nampak takut-takut menghampiri ayahnya.

“Sungguh, aku tidak tahu Ayah…aku tidak tahu kenapa sapi-sapi itu mati.”

“Anak kurang ajar! Sejak kau lahir aku sudah melihat keanehan dan malapetaka padamu. Tidak cukup kau ambil istriku?!” Donghae benar-benar hilang kendali, ia menyeret Luhan kasar. Luhan ditampar dan ditendang.

“Cukup Donghae!!! Hentikan, oh demi Tuhan uri Luhan masih sangat kecil.” Jerit Nenek Luhan.

“Anak ini!!! Uhuk…” tiba-tiba Donghae merasakan sensasi aneh menerjangnya, paru-parunya nampak sakit. Ia berhenti memukuli Luhan yang sudah payah tersungkur di tanah.

Luhan kembali merasakan keganjilan seperti saat tadi ia terjatuh di sepeda. Di sekitarnya kembali hadir hawa dingin yang senyap, bagaikan mati. Ia lihat ayahnya batuk mengeluarkan darah dan lemas terjatuh, begitu juga dengan neneknya yang lemas jatuh tersungkur.

“Kenapa lagi ini? NENEEEEKKKK!!!” Jerit Luhan ketakutan.

Ayah dan neneknya mendadak mati, seperti sapi-sapi tadi. Semua mati, sedangkan Luhan tidak mengerti kenapa semua bisa terjadi.

Sepeninggalnya Ayah dan neneknya yang meninggal secara aneh dan tiba-tiba, terpaksa Luhan harus diangkut ke sebuah asrama yatim-piatu. Ia memang tidak punya siapa-siapa lagi untuk bergantung hidup. Di asrama Luhan menjadi anak baru yang minder, ia menjadi sedikit tertutup akibat goncangan yang menimpa kehidupannya, bahkan di kala usianya masih terlampau kecil.

Luhan hanya berteman dengan seorang anak laki-laki yang juga seumurannya, bernama Kris. Jika anak laki-laki lain seringkali membullynya, Kris akan selalu menolongnya. Masalah muncul ketika segerombolan anak-anak mengerjai Luhan di sebuah malam. Kris datang kepada Luhan membawakan makanan cemilan, namun makanan tersebut di ambil oleh Chanyeol yang merupakan ketua gerombolan disitu.

“Kau mau makanan ini? Nih ambil!” ucap Chanyeol sembari melemparkan makanan itu ke luar jendela.

“Chanyeol-ssi, kenapa kau membuang makanan itu?” sergah Kris.

“Ayo Luhan si anak baru, ambil makanan tadi. Kau turunlah ke luar dari jendela sini. Hahaha!” perintah Chanyeol.

Luhan dengan ragu-ragu melongok ke luar jendela, di bawah sana nampak makanan yang tadi dibuang oleh Chanyeol.

“Kenapa? Kau takut ketinggian? Kau namja apa yeoja heh?” ledek Chanyeol yang disambut olokkan teman-temannya yang lain.

Luhan pun memberanikan dirinya turun ke bawah dengan berpegangan pada batu-batu di pinggiran tembok. Hingga sampai dibawah tiba-tiba saja anjing penjaga asrama yang terkenal galak menyalak dengan kencang, Luhan pun dikejarnya.

“Hahahaha,,” semua anak-anak di atas tertawa senang menyaksikan Luhan dikejar oleh anjing itu.

Keesokkan paginya,

Kepala asrama datang ke kelas dimana tempat Luhan dan teman-temannya belajar. Ia memberikan pengumuman bahwa ada kejadian aneh semalam, yakni tewasnya anjing penjaga dengan misterius. Kepala asrama pun memanggil Chanyeol untuk diinterogasi persoalan matinya anjing tersebut, karena Chanyeol adalah anak yang terkenal nakal dan sering berkomplot untuk mengerjai anjing itu kerapkali, Jadi dialah yang paling dicurigai atas peristiwa semalam.

Selepas dari interogasi terhadap dirinya, Chanyeol merasa tidak terima dirinya dicurigai, padahal ia yakin Luhan yang ada di balik tewasnya anjing itu. Keyakinan Chanyeol dikarenakan yang terakhir besama anjing itu adalah Luhan, yakni ketika semalam ia dikejar-kejar. Chanyeol pun menghampiri Luhan yang sedang ada di ruang ganti pakaian.

“Kau kira aku tidak tahu? Kau kan yang membunuh anjing sial itu?” Ucap Chanyeol sembari mendorong Luhan ke dinding dengan kasar.

Luhan hanya membisu. Sementara anak-anak lain sudah ramai  berkumpul melingkari mereka.

“Karena dirimu, aku dicurigai kepala asrama. Kau akan aku hajar!”.

BUKKK BUKKK!!!

Chanyeol menghajar Luhan, dan Luhan berdiam diri tanpa pembelaan. Ketika Chanyeol mulai ingin melanjutkan aksinya dengan memukul memakai tongkat baseball, dirinya tiba-tiba saja sesak nafas, dari mulutnya keluar darah merah. Begitu juga dengan anak-anak yang ada di sekeliling mereka. Semuanya tiba-tiba merasakan kesakitan yang sama, sekarat, dan berselang detik kemudian mereka semua mati.

Luhan menangis histeris, ini kali keempat ia mengalami kejadian ganjil seperti ini. Entah kenapa jika dirinya sedang kesakitan, semua makhluk hidup di sekitarnya akan mati. Seperti sapi-sapi itu, rumput, neneknya, ayahnya, anjing penjaga, dan sekarang teman-temannya sendiri. Karena sangat ketakutan, Luhan pun berlari. Sekuat tenaga ia berlari keluar dari asrama.

“Luhan, kau mau kemana? Uhuk..uhuk…” ucap Kris yang nampak sekarat, namun ia sedikit lebih beruntung karena segera keluar dari ruang ganti tempat teman-temannya mati. Nampaknya Kris tidak mati karena ia segera keluar dan menjauh.

Luhan tidak memedulikan panggilan sahabatnya itu, ia terus berlari, memasukki hutan, terus berlari dengan perasaan yang kacau.

9 tahun kemudian

Di sebuah rumah sakit

“Peterpan sangat mencintai  Wendy, begitu juga dengan Wendy sangat mencintai Peterpan. Namun, perpisahan tetap ada di depan mata mereka. Yang satu memilih selamanya di Neverland, tidak ingin tumbuh dewasa. Dan yang satunya lagi memilih untuk tumbuh dewasa, menjadi seorang wanita, melahirkan anak, dan memiliki cucu. Di malam itu, Wendy pun pulang, kembali ke rumahnya. Peterpan terlihat sedih akan berpisah dengan Wendy. Dan hanya menatap Wendy dari luar jendela kamar.

Wendy berkata: “Peter, kau tidak akan melupakanku bukan?”

Peterpan menjawab: “Aku? Lupa? Tidak akan…”

Wendy bertanya kembali: “Apakah kau akan kembali?”

Petepan bilang, : “Tentu saja, untuk mendengar cerita…tentangku.” Lalu Peterpan kembali ke Neverland.

Tetapi setelah malam itu, Wendy tidak pernah melihat Peterpan lagi.  Akan tetapi, setelah ia tumbuh dewasa, ia menceritakan kisah Peterpan kepada anak-anaknya..dan anak-anaknya menceritakan juga kepada anak-anak mereka. Turun temurun, kisah mengenai Wendy dan Peterpan.”

Seohyun mengakhiri dongengnya diiringi riuh tepuktangan.

“Cerita yang sedih, dan Seohyun eonni menceritakannya kepada kami dengan baik.” Komentar seseorang gadis yang berada di atas kursi roda.

“Iya, aku juga…airmataku seperti ingin menetes.” Ucap yang lain.

“Tetapi, apakah kisah Peterpan dan Wendy ini nyata eonni?” tanya yang lainnya.

“Ini dongeng, tetapi mengapa tidak untuk menjadi nyata? Mungkin di belahan bumi sana ada yang kisahnya mirip dengan kisah Peterpan ini.” Jawab Seohyun sembari tersenyum.

“Eonnii, ayo cerita lagi. Kami mau mendengar kisah Cinderella lagiii…”

“Mianhe, hari ini aku ada operasi lanjutan. Aku akan menceritakan kisah Cinderella setelah aku pulih dari operasi, bagaimana?”

“Ndee, baiklah eonni. Eonni, hwaiting ya!”

Seohyun adalah seorang gadis berusia 19 tahun, ia merupakan gadis yang sangat cantik. Ia adalah salah satu pasien yang ada di rumah sakit ini. Rumah sakit baginya adalah rumah keduanya, sudah sejak kecil ia sering mondar mandir kesini, bahkan beberapa bulan ini menjadi semakin sering. Seohyun divonis terkena kanker usus stadium lanjut.

Tak jauh dari tempat Seohyun berada, berdiri seorang namja yang tinggi dan berwajah tampan lengkap dengan pakaian pasien dan infusan yang berupa selang pernafasasn menuju lubang hidungnya.

“Kris? Kau mendengarkan dongengku juga?” Seohyun menghampiri Kris yang sudah melemparkan senyumnya kepada Seohyun.

“Selalu. Tidak pernah aku melewatkannya…” ucap Kris tersipu malu. Ia tersadar bahwa ucapannya terlalu blak-blakkan menunjukkan perasaannya kepada gadis yang sudah lama ia sukai itu.

Sama halnya dengan Seohyun, Kris juga pasien tetap rumah sakit ini. Sejak kecil ia menderita sakit di bagian pernafasan karena paru-parunya tidak berfungsi dengan baik. Dia bernafas selama ini dibantu dengan oksigen yang ia tenteng kemana-mana. Dan ya benar, Kris yang berdiri di depan Seohyun ini adalah Kris yang kecilnya adalah sahabat Luhan. Ia selamat dari kutukkan Luhan karena langsung segera menjauhi area Luhan menyelakakan teman-temannya.

“Kris, aku masuk ruangan duluan ya? Kau juga sebaiknya beristirahat. Annyong…” Pamit Seohyun.

“Nde, sampai jumpa besok Seohyun-ah.”

“Jahitanku seperti seseorang yang habis melahirkan secara cesar.” gerutu Seohyun ketika sehabis menjalankan kembali operasi lanjutannya.

“Tidak ada jahitan cesar sebesar ini, Seohyun agashi…” jawab seorang dokter yang sedang memeriksanya.

“Anggap saja aku sehabis melahirkan bayi raksasa, hehe…” timpal  Seohyun kembali dengan bercanda.

“Seohyunnie, bisakah kau mencoba serius sedikit sayang?” ucap wanita separuh baya yang berada di samping ranjang tempat gadis itu tidur.

“Eomma, mengapa kau begitu serius…?”

“Bagaimana dokter, apakah ada berita baik?” tanya si wanita itu kepada dokter.

“Emm, sebaiknya kita berbincang di luar saja Nyonya Jessica, Seohyun harus istirahat yang banyak.”

“Seohyunnie, sebentar ya eomma keluar dulu dengan pak Dokter.”

Dari bilik kamar, Seohyun menguping pembicaraan eommanya dengan dokter. Dengan samar ia mendengar bahwa dokter bilang tidak ada berita baik untuknya, Seohyun tidak bisa sembuh dan hanya bisa sanggup bertahan antara 3 minggu sampai 3 bulan saja.

Seohyun lalu bergegas meninggalkan rumah sakit, ia ingin kabur. Kabur dari vonis itu tentu tidak bisa, tetapi ia hanya ingin bebas dari kungkungan tembok putih rumah sakit, menikmati udara bebas selagi ia masih bisa. Masih dengan memakai pakaian pasien dan ditutupi sweater yang agak tebal dan hanya membawa mini disk player miliknya.

“Seo, kamu ingin kemana?” sapa Kris di halaman depan rumah sakit.

“Aku hanya ingin mencari udara segar, Kris.”

“Sudah mau senja Seohyun-ah?”

“Jangan beritahu eomma-ku ya jika ia menanyaimu. Bye Kris!”

Lalu Seohyun berlari-lari kecil menjauhi Kris dan rumah sakit. Ia berjalan semakin jauh masuk ke dalam hutan yang banyak ditumbuhi pohon, yang di dalamnya terdapat aliran sungai berair jernih dengan batu-batu licin menghiasi pinggirannya.

Tes..Tesss…

Hujan tiba-tiba saja turun, makin lama semakin deras.

“Damn! Mengapa harus hujan disaat seperti ini.” Runtuk Seohyun.

Seohyun kebingungan mencari tempat teduh untuk menghindari akan basah kuyup. Sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah rumah reyot di dalam hutan, lebih tepatnya menyebutnya sebuah gubuk ketimbang sebuah rumah.

Suasana di sekitar rumah itu sangat aneh di mata Seohyun, jelas sangat aneh jika di sekeliling rumah ini tidak ada pohon atau rumput yang tumbuh sedangkan di kejauhan semua nampak hijau karena pepohonan. Hanya rumah ini dan halamannya yang nampak gersang, kering, dan seolah mati.

Tok…Tok..

“Hello? Permisi!! Apa ada orang di dalam?” Seohyun mengetuk-ngetuk pintu gubuk itu.

Tak beberapa lama kemudian, pintu gubuk itu terbuka dan seseorang namja keluar dari dalamnya. Seohyun sempat tercengang karena rumah itu ternyata berpenghuni.

Namja itu masih muda. Bisa ditaksir usianya sepantaran dengan Seohyun. Hanya saja, penampilan namja itu sedikit aneh untuk ukuran pemuda biasa. Ia memiliki rambut yang panjang dengan tatanan yang semrawut, kulit yang putih namun kering, pakaian yang belel, namun dibalik semua itu ia memiliki mata yang indah.

“Annyeong haseyo, apa aku boleh menumpang berteduh disini? Aku terjebak hujan dan a..” belum Seohyun menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah itu sudah tertutup dan namja itu kembali masuk kedalamnya.

“Aigoo…pelit sekali dia.” Runtuk Seohyun dalam hati.

Seohyun pun hanya bisa berteduh di teras rumah itu yang sempit dan dengan turunnya hujan yang begitu deras, ia masih kecipratan sedikit air hujan yang datang dengan angin.

Berselang beberapa lama kemudian, pintu rumah itu kembali terbuka.

“Masuklah…” ujar namja itu dengan suara parau.

“Akhirnya! Kamsahamida…” Seohyun tersenyum kesenangan karena pada akhirnya ia diperbolehkan masuk.

Namja itu nampak kikuk dan berusaha menjaga jarak ketika Seohyun telah masuk ke dalam rumah.

“Aku Seohyun…” Seohyun mengulurkan tangannya namun namja tersebut malah tidak merespon.

“Hei, aku tidak menular mengapa kau tidak mau berjabat tangan denganku?” Seohyun agak tersinggung dengan yang namja itu lakukan.

“Aku akan pergi dari sini ketika hujan telah reda, apa kau ada baju untukku atau sekedar handuk untuk mengeringkan?”

Namja itu tetap tak bergeming, tetapi ia mengulurkan selembar handuk yang kering kepada Seohyun.

“Kamshahamida…” ujar Seohyun. Lalu dengan cepat namja itu masuk ke kamarnya tanpa berkata apa-apa kepada Seohyun.

Malam pun segera datang namun hujan deras masih terus turun tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Seohyun mencoba berbaring di atas sofa yang sudah tua, mencoba memejamkan mata namun ingatannya kembali kepada perbincangan dokter dan eommanya siang tadi, mengenai sisa waktunya di dunia.  Ia tidak bisa menangis, tidak bisa juga mengabaikan.

Hingga keesokkan paginya datang, hujan pun sudah berhenti.

Seohyun terbangun karena mendengar suara sedikit berisik dari arah dapur. Yang ternyata sudah ada namja itu sedang mencoba menciptakan api di tungku.

“Apa yang sedang kau lakukan? Membuat sarapan? Wah, unik sekali memasak dengan tungku!”

Lagi-lagi Seohyun diabaikan olehnya.

“Namaku Seo Joohyun, namamu siapa?” Kali ini Seohyun tidak mengharapkan namja itu membalas perkenalannya.

“Luhan.” Namja itu menjawab dan menyebutkan namanya. Seohyun tersenyum mendengarnya.

Namanya Luhan, cukup unik sesuai dengan tampilannya.

 

TBC

11 responses »

  1. Hbs liat preview passionate love lgnsg bca ff ini (´⌣ʃƪ)
    Penasaran banget ama kelanjutannya
    Keturunannya jg agak rada aneh .-
    Ditunggu deh next partny^^

  2. salam kenal.. reader baru nih..^^V
    poor luhan… jadi kalo ada yg nyakitin luhan orang2 disekitarnnya mati? aku penasaran gimana seohan bisa bersatu di sini, luhan punya kekuatan mematikan(?) seo divonis tinggal 3 bulan…
    ff ini ada kelanjutannya kah? penasaran>< keep writing ya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s