LUCKY (One Shoot)

Standar

LUCKY (One Shoot)

By: Baekkibell

Main Cast:

Byun Baekhyun

BTfvO-nCcAA7ydp

Park Chanyeol

BTZXIR9CAAAtW7k

Other Cast:

Kris Wu

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Genre: Romance/ Happy Ending

Ost

Lucky – EXO

Lucky

–Lucky–

Aku percaya pada sebuah mitos kuno mengenai “belahan jiwa”. Kisah mengenai Soulmate pertama didengungkan oleh Plato, filsuf terkenal itu. Plato berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan 4 tangan, 4 kaki dan 2 kepala. Namun, Zeus (yang merupakan dewa segala dewa) justru merasa ketakutan akan kekuatan manusia, karena itulah ketika dia mengirim manusia ke bumi, Zeus membelahnya menjadi dua, dan mengutuk selama hidup agar keduanya saling mencari.

Ya, berbeda dengan tangan atau kaki, hati hanya ada satu di dalam tubuh kita, pepatah itu bilang karena Tuhan ingin kita mencari sebuahnya lagi. Mencari belahan hati kita yang ada pada tubuh seseorang yang lain. Sejak kecil aku selalu penasaran, siapa pemilik yang menyimpan sebelah dari hatiku? Bagaimana rupanya? Bagaimana sifatnya? Apakah ia menjaga hati itu baik-baik saja?

Dan ketika aku membaca sebuah buku, bahwa seseorang yang kelak menjadi the other half dari bagian kita adalah seseorang yang berbeda dengan kita, aku langsung beranggapan bahwa pastinya belahan jiwaku itu adalah seseorang yang serba kebalikan dariku. Ya, aku memercayai perkataan buku itu mentah-mentah.  Jika kita adalah orang yang pendiam, belahan jiwa kita pastilah orang yang riang. Jika kita adalah orang yang introvert, belahan jiwa kita pastilah orang yang extrovert. Jika kita pendek, belahan jiwa kita pastilah seseorang yang lebih tinggi. Dan segera setelah membaca habis buku itu, aku jadi memiliki keyakinan: kelak, belahan jiwaku adalah seseorang yang tinggi bermata bulat cerah, seseorang yang humoris, seseorang yang pintar berolahraga, namun seseorang yang bodoh dalam soal matematika. Hehe, sedikit meramal memang kedengarannya, namun itulah yang dapat kubayangkan karena itu semua kebalikan dari diriku.

Namanya, Park Chanyeol.

Seseorang yang ada di sampingku, selalu di sisiku. Bisa dikatakan ramalanku sedikit tepat, ia tinggi, bermata bulat, sangat berisik, dan pintar olahraga karena ia termasuk atlet basket di sekolah kami. Aku tidak tahu apa dia belahan jiwaku hanya karena ciri-ciri tersebut, yang aku tahu banyak sekali hal yang ada di dirinya yang kubenci.

Aku benci cara Chanyeol mengacak-acak rambutku.

Aku benci cara Chanyeol yang selalu berusaha membuatku tertawa. Bahkan melebihi saat ia membuatku menangis.

Aku benci cara Chanyeol memanggilku ByunBaek dengan suara beratnya itu.

Aku benci dia selalu menjewer telingaku jika aku kedapatan akrab dengan Jongin. Apa sih padahal aku sama Jongin cuma sekedar teman sebangku.

Aku benci dia selalu mengancamku minta putus kalau aku menolak menemaninya main basket.

Aku sangat benci kebiasaannya makan garlic, aish apalagi setelah itu dia mengoceh dengan mulut lebarnya persis di depan hidungku.

Aku sangat benci sikap kekanak-kanakkannya. Apa sih padahal di depan yang lainnya dia sok cool sok cuek.

Dan dari kesemua itu, aku paling benci diriku yang tidak bisa benar-benar membencinya. Tidak sedikitpun, bahkan tidak sama sekali.

1.      Chajata… ( I Found You)

Aku menemukannya! Entah jika ditelesuri dengan benar-benar apakah kalimat itu sesuai bahwa siapa sebenarnya yang menemukan dan ditemukan. Apakah ia yang menemukanku? Atau aku yang menemukannya? Aku rasa itu bukan persoalan besar, karena takdir yang membuat kita sama-sama bertemu pada sebuah frase kehidupan.

Kisah ini dimulai pada pertengahan tahun 2007, dimana musim panas sedang menyapa kota Bucheon.

Aku masih ingat dengan jelas sepotong peristiwa itu, peristiwa pertama kalinya aku bertemu dengan seorang namja bernama Park Chanyeol.

Namaku Byun Baekhyun, aku masih duduk di kelas pertama Sekolah Menengah Bucheon. Saat itu setelah liburan cukup panjang, tibalah masa masuk sekolah kembali. Dikarenakan masih terbiasa hawa liburan, pada hari itu aku sedikit terlambat berangkat sekolah.

TENG…TENGG…

Dari kejauhan aku sudah mendengar bel sekolah berbunyi, dan itu berbunyi 2x dimana tandanya itu adalah bel tanda peringatan bahwa sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sontak aku yang masih lumayan jauh dari area sekolah berancang-ancang ingin lari agar jangan sampai dilarang masuk oleh satpam ahjussi yang terkenal galak.

Namun sesaat aku baru saja siap berlari, sebuah tangan yang entah datang dari mana menarikku dengan kuat. Tangan itu mengajakku berlari dengan sangat cepat, menarik tubuhku yang berukuran kecil ini sedemikian kilatnya.

“Ppali!! Kalau tidak cepat kita bisa tidak masuk sekolah!” Ujar si pemilik tangan itu yang ternyata adalah seorang namja.

Namja itu menggenggam tanganku dikepalan tangannya yang cukup besar, lalu ia menoleh sekilas ke belakang menatapku.

“Kau bisa berlari lebih cepat?” tanyanya sembari tersenyum.

“Ah, nde…” aku kaget bukan main oleh ketiba-tibaan ini, namun aku menuruti naluriahku untuk juga berlari dengan cepat. Aku berlari merasa sangat enteng, mungkin karena dibantu oleh namja berbadan bongsor di depanku ini juga.

Setelah kami berlari-larian sampailah juga kami di depan gerbang yang untungnya belum sepenuhnya tertutup.

“Hosh…hosh…” deru nafas kami terdengar sahut-sahutan.

“Hhh…untunglah gerbangnya belum ditutup.” Ujarnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Bulir-bulir keringat sebesar jagung memenuhi wajahnya. Begitu juga denganku yang masih sibuk mengatur nafas, sesak sekali rasanya berlari secepat itu untuk ukuran orang yang jarang berolahraga sepertiku.

“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku penasaran, karena diperhatikan dari wajahnya aku merasa tidak mengenal namja itu.

“Oh iya, aku Park Chanyeol dari kelas 1D. Kita seangkatan bukan, Byun Baekhyun?”

“Hah? Kau tahu namaku?” sedikit terlonjak karena namja itu mengenali namaku.

“Nde, aku tahu makanya aku menarikmu tadi untuk berlari.”

“Ah, Kamsahamida…” Ku berikan bungkukan kecil.

“Baiklah Baekhyun-ssi, mari kita masuk kelas. Sampai bertemu nanti di jam makan siang ya! Kau harus mentraktirku minuman karena aku sudah membantumu lolos dari gerbang tadi!” ujarnya ramah sembari melambaikan tangan padaku.

“Kamshamida!!” balasku juga sembari membalas lambaian tangannya.

Pertemuan yang cukup unik. Sejak saat itu aku dan Chanyeol menjadi dekat. Dan kini kami berdua berpacaran hingga duduk di bangku kelas tiga.

Namun, setiap kisah cinta tidak selalu berjalan dengan baik. Begitu pun kisah kami berdua. Sifat kami berdua benar-benar bertabrakan satu sama lain. Bagaikan kutub utara dan kutub selatan!

Chanyeol sangat gemar berolahraga, sementara aku seni. Chanyeol makannya sangat banyak dan suka sekali pedas, sementara aku tidak bisa makan pedas. Chanyeol sukanya berjalan-jalan, traveling, sedangkan aku lebih senang mendengarkan musik di kamar. Chanyeol benar-benar ekspresif, sementara aku lebih banyak memendam.

2.      Cemburu…

 

Dan dia sangat pencemburu, benar-benar pencemburu! siapapun orang yang akrab denganku pasti akan ia cemburui. Aku memiliki teman sebangku bernama Jongin, dan dia lah orang yang seringkali menjadi sasaran sifat cemburu Chanyeol. Jika kelasku kebetulan sedang pelajaran olahraga, Chanyeol pasti mengamati dari balkon depan kelasnya, mata bulat bonekanya itu mengawasi bahwa aku tidak boleh terlalu dekat dengan Jongin. Dan Jongin tahu posesifnya Chanyeol, ia akan sengaja menggodaku, berbagi minuman dengan botol yang sama. Sebenarnya itu semua tak masalah karena toh aku dan Jongin memang sahabatan, yang masalah itu ada pada otak Park Chanyeol. Namun, rutinitas cemburunya itu menjadi makanan sehari-hariku yang kelamaan aku anggap angin lalu. Namun tidak untuk pada suatu hari, dimana kecemburuannya tidak bisa aku terima dengan akal sehatku.

Ada anak pindahan di kelasku, namanya Do Kyungsoo. Ia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berbadan kecil. Semua anak-anak di kelas bersorak bahwa kita layaknya anak kembar. Aku sih hanya menanggapinya dengan bercanda, lagian Kyungsoo anak yang supel dan juga suka bercanda. Siang harinya aku langsung diinterogasi oleh Chanyeol mengenai siapa Kyungsoo si anak baru itu.

“Aku dengar ada anak baru di kelasmu?” Tanya Chanyeol.

“Nde, memang. Kau mau kenalan juga dengannya? Dia cute lho, persis aku ^^, banyak anak-anak kelas sebelah yang mau kenalan dengannya,” Jawabku sambil bercanda.

“Senang ya punya seseorang yang mirip denganmu, nampaknya akan menjadi langsung akrab. Apalagi barusan aku lihat kalian sudah saling memfollow di weibo. Dari kronologi jamnya sih, aku lihat kamu dulu yang memfollow dia. Baik apa kecentilan tuh?” Chanyeol mulai menyerang khasnya dia jika sedang cemburu buta.

“WAEE?? Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu ya Dobbi!!” darahku nampaknya mulai naik mendengar omongan Chanyeol.

“Kau itu tahu! Kau kecil berwajah cute, manis, Kyungsoo si anak baru itu kenapa kau langsung bertukar weibo dengannya??? Bahkan denganku dulu aku yang bertanya-tanya apa nama akunmu. Ini tidak adil, Bekki!! Aku kalah dibanding anak baru bermata belo itu.”

“Ckkckk…” aku hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.

“Baekki-ah!!” tiba-tiba Kyungsoo memanggilku seraya berlari menghampiri.

Bisa aku lihat mata Chanyeol bertambah melotot melihat orang yang sedang kita bicarakan tiba-tiba sudah ada di depan kami.

“Baekki-ah, katanya ingin mengajakku melihat-lihat klub di sekolah sini. Aku bingung akan masuk klub mana, bantu aku memilihnya. Kajja!” Kyungsoo berbicara tanpa sedikitpun memandang Chanyeol yang ada disana duduk dengan wajah shocknya.

“Setelah pelajaran selesai saja bagaimana? Jam istirahat akan berakhir sebentar lagi.”

“Arasho, kajja kita masuk kelas!” Ucap Kyungsoo menarik tanganku untuk bangkit dari tempat duduk. Namun, sebelum aku bangkit, Chanyeol sudah lebih dulu bangkit dari tempat duduknya dengan cepat dan dari matanya ia nampak marah.

Masa bodohlah dengan dia, karena ia selalu seperti itu. Memarahiku karena cemburu. Jika sudah begitu, maka aku pun menjadi marah dengannya. Sms dan teleponnya aku abaikan. Padahal sore harinya hujan turun, sedangkan Chanyeol yang biasa membawa payung sudah pulang daritadi karena sms ajakan pulangnya aku abaikan dan hanya aku jawab singkat bahwa aku sudah pulang.

From: Dobbi yeollie

To: Byun Baek honney

Text: Aku heran mengapa jadi kau yang marah? Seharusnya aku yang marah karena Kyungsoo-mu itu. Kau sudah pulang belum? Hujan deras, apa kau bawa payung? Pasti kau tidak bawa payung! Kau dimana? biar aku yang kesana. Aku masih di kelas.

 

From: Byun Baek Honney

To: Dobbi yeollie

Text: Aku sudah pulang kok.

 

Aku berbohong mengatakan sudah pulang, aku menjadi benar-benar malas melihat wajahnya.

Keesokkannya,

Aku menjadi sakit karena kehujanan kemarin, salahku sih untuk menerobos hujan deras tanpa mengenakan jas hujan atau payung. Salahku yang menjadi berbalik marah kepada Chanyeol. Arrghh, namun memang orang itu pantas didiamkan karena kali ini ia sudah kelewat batas. Berbeda denganku yang bisa awet marahnya, lain dengan Chanyeol yang tidak bisa marah kepadaku dalam waktu yang lama, lihat saja sebentar lagi ia pasti menelpon atau datang ke rumah jika tahu aku tidak masuk sekolah karena sakit.

Dan tepat dugaanku! Dia datang ke rumah dengan wajah cemasnya. Aigo, dia rela membolos sekolah demi menjengukku.

“Baekki, kamu kenapa bisa sakit? Aigo, kamu tidak pakai payung ya kemarin? Aish, seharusnya kemarin aku tahu kau berbohong bilang sudah pulang, seharusnya aku memaksa untuk menungguimu di kelas sehingga aku bisa memayungimu sampai rumah dan kamu tidak akan sakit seperti sekarang.” Ujarnya panjang lebar sementara aku diam dan masih bersin-bersin.

“Baekki, mianhe. Kamu marah soal kemarin siang itu kan? Mianhe aku kelewat cemburu lagi. Gara-gara cemburuku kamu jadi kehujanan dan flu. Chanyeol pabo!” kini ia mulai merutukki dirinya sendiri. Jika sudah begitu aku mulai iba dengannya, ia bahkan menyalahi dirinya sendiri atas kelalaian yang aku lakukan.

“Aniya, tidak semua salahmu kok.” Akhirnya aku angkat bicara.

Sepersekian detik setelah aku berbicara seperti itu, matanya yang tadi melas langsung berubah cemerlang kembali.

“Benarkah?”

“Kau tahu, bahkan Kyungsoo itu naksir Jongin. Kau beruntung bukan?”

“Jeongmalyo?”

“Nde…lagian jika dia menaksirku…” aku ragu melanjutkan kalimat yang aku ucapkan.

“Heh? Jika dia menaksirmu bagaimana?”

“Aniyaa…”

“Bagaimanaaaa???” Chanyeol mulai melotot kembali.

“Huh! Kau pikir selama kita jadian, hanya dirimu seorang yang mencintai? Jangan meremehkan orang lain heh Park Dobbi!”

“Arasho…kau sangat menyukaiku bukan?” Chanyeol menggelitik leher belakangku yang mudah gelian.

“Aish!! Hentikan aahh…”

“Jawab dulu, kau sangat menyukaiku kan?”

“NEOMU NEOMU JOHAEEEE!!!” teriakku kesal.

“YA! Baekki kau sedang sakit kenapa berteriak begitu!” Chanyeol nampak merah wajahnya.

“Merooong…”

“Baekki, ini aku bawakan vitamin dan buah-buahan untukmu.”

“Gomawo, Yeol…”

“Kamu mau aku temani atau aku harus balik ke sekolah?” tanyanya polos.

“Menurutmu?”

“Menemani Baekkiiiii ^^”. Ujarnya riang.

“BALIK KE SEKOLAH PABO!”

“Oh, yasudah kalau mau Baekki begitu. Chanyeol pergi dulu ya, Baekki harus cepat sembuh lho.”

Ketika Chanyeol berbalik ingin pergi, spontan tanganku menarik belakang bajunya. Ada perasaan enggan untuk ditinggal pergi olehnya, namun aku terlalu malu mengakui.

“Wae Baekki?” Chanyeol kembali menatapku keheranan.

Aku hanya diam tanpa melepaskan peganganku pada bajunya.

“Baekki ingin Chanyeol disini?” tanyanya kembali.

Aku gelengkan kepalaku lemah. Chanyeol terlihat murung ketika aku menyatakan dengan bahasa tubuh bahwa aku ingin dia berangkat ke sekolah.

Chu~~

“Chanyeol sayang Baekki, mianhe ya telah membuatmu sakit seperti ini.” Tiba-tiba saja ia mendaratkan kecupan bibirnya di pipiku. Membuatku langsung bersemu merah menahan malu dan gembira.

“Jangan cemburu lagi, Yeollie…” lirihku yang langsung disambut anggukan kepalanya dengan gerakan pasti.

Lalu Chanyeol pun pergi ke sekolah. Hatiku merasa bahagia karena kehadirannya walau hanya sebentar.

Jangan cemburu lagi Yeollie, apa yang harus kamu cemburukan jika hatiku sepenuhnya sudah termiliki olehmu?

Aku ambil satu apel yang tadi dibawakan Chanyeol dan memakannya dengan terus tersenyum. Membayangkan bahwa ini apel dari orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus, orang yang terkadang bodoh, orang yang paling ingin aku sembuh jika aku sakit seperti ini.

Gomapta, Chanyeol…

Hari-hari selanjutnya apakah Chanyeol benar-benar berubah dan tidak lagi menjadi pencemburu? Jawabannya adalah tidak! Ia tetaplah Chanyeol yang aku kenal, selalu seenaknya sendiri dan pencemburu. Namun, kini ia lebih berhati-hati jika hujan deras ia tetap menungguiku pulang dengan selamat sampai rumah, tidak dibiarkannya aku terkena setetes air hujan pun.

3. Don’t Go…

Chanyeol terpilih menjadi salah satu atlet basket di sekolah. Daebak menurutku, karena persaingannya sangat ketat untuk bisa masuk ke tim inti sekolah kami yang unggul dalam bidang olahraganya, terutama Basket. Dan aku bangga kepadanya bisa melewati itu semua dengan usaha dan kerja kerasnya, tidak sia-sia aku menyemangatinya dan menemaninya latihan, meski terkadang itu karena Chanyeol yang memaksaku menemaninya latihan.

Namun, ada yang berubah pada dirinya sejak ia resmi bergabung di klub Basket inti. Ia lebih akrab sekarang dengan ketua tim basket, seorang siswa tertampan di sekolah bernama Kris Wu. Kris itu terkenal cool, cuek, dan memilih-milih teman bergaul. Aku pribadi, kurang menyukainya. Dan sejak Chanyeol dekat dengannya, sifat Kris seolah menular kepadanya. Bukan, bukan karena aku cemburu Chanyeol dekat dengan Kris. Aku hanya merasa Chanyeol tidak menjadi dirinya sendiri jika sedang bersama Kris.

Pernah suatu ketika ia sedang bersama Kris dan beberapa teman lainnya, dan kebetulan aku bersama Jongin dan Kyungsoo jalan melewati mereka. Chanyeol melihatku, namun ia tidak menegurku sama sekali! Seolah kami hanyalah orang asing satu sama lain. Sementara aku lihat tatapan Kris yang seolah memandang rendah kepadaku, Jongin, dan Kyungsoo. Ya, memang aku dan temanku jauh sekali dari Kris, mulai dari segi penampilan dan kepopularitasan. Namun, bagaimanapun ia tidak berhak memandang kami seperti memandang sampah seperti itu. Aku sungguh tidak peduli pandangan Kris pada kami, yang aku benci adalah mengapa Chanyeol-ku harus seperti itu juga? Mengabaikanku jika sedang bersama kawan-kawan cool-nya.

“Baekki-ah, bogosohiposo…” ujarnya pada suatu malam ketika ia bermain ke rumahku.

“Wae? Kamu gak nongkrong teman-teman vampire mu itu?” sindirku. Aku, Jongin, dan Kyungsoo sepakat memiliki julukan untuk Kris dan genk-nya dengan sebutan vampire, seseorang yang dingin haus darah hehe.

“Nde? Kris maksudmu?”

“Iya, kau kelihatannya senang sekali bisa menjadi bagian dari mereka, Yeol…” Aku mulai sedih mengingat bahwa akhir-akhir ini memang waktuku bersama Chanyeol menjadi semakin jarang. Mengingat sifatku yang tidak mau kalah ini, aku juga jadi sering berpura-pura sibuk bersama temanku apabila Chanyeol sedang senggang tidak ada aktifitas basketnya dan mengajakku jalan.

“Aku hanya sebatas teman satu klub dengan mereka. Kenapa denganmu Baekki? Kau sedang marah padaku?”

“Aku hanya tidak suka kau bergaul dengan mereka, terutama si Kris itu selalu memandang rendah ke arahku dan kawan-kawanku.”

“Mwo? Hm, kau mau aku kenalkan dengannya? Ya! Akan aku perkenalkan kepada Kris kau siapa, tetapi kau tidak usah bawa-bawa si Kyungsoo dan si Jongin itu. Bagaimana?”

Aku mendelik tajam kepadanya, bahkan dari nada Chanyeol menyebut temanku seperti nada khas nya Kris. Sincha mengapa orang sehangat dia bisa berubah seperti ini.

“Andwe. Tidak perlu, aku juga tidak ingin berkenalan dengan mereka.”

“Lantas mengapa kita bertengkar?”

“Molla!! Kau pikir saja sendiri. Aku mau masuk, mau tidur!” beringsutku meninggalkannya.

Hari demi hari berlalu menjadi semakin lama. Aku bosan jika tidak ada Chanyeol disampingku, namun bukan diriku jika harus merengek-rengek untuk ditemani. Dari kejauhan aku hanya bisa memandang dia yang sedang bermain basket, terkadang tatapan kita bertemu, namun aku buang pandanganku jika Kris sudah menginterupsi dengan merangkul bahunya dengan hangat seperti itu.

“Chanyeol, apa kamu sangat senang sekali ada disisi Kris?” bisikku lirih.

“Sepertinya Kris naksir namjachingu-mu deh?” ujar Kyungsoo tiba-tiba.

“Ah ndee?” spontan aku kaget.

“Aku dengar-dengar dari gosipnya begitu, Kris naksir Chanyeol dan berencana nembak Chanyeol sore ini sehabis pulang latihan.” Bisikkan Kyungsoo seperti petir di telingaku.

“YA!! Pantas bibirmu seperti itu, kau seperti ahjumma biang gosip DO KYUNGSOO!” Aku tak segan-segan mengglepak kepalanya yang asal saja bicara.

“AIIISSSHH, kalau tak percaya kau untit saja mereka sore nanti.” Ucap Kyungsoo lagi.

Aku terdiam berpikir.

Chanyeol dan Kris sedang pulang bersama sehabisnya mereka latihan basket. Sementara itu, Baekhyun yang termakan gosip Kyungsoo pun memutuskan untuk memata-matai mereka. Baekhyun mengendap-endap di belakang Chanyeol dan Kris yang berjalan.

“Kau manis sekali jika tertawa, Chanyeol. Meski lesung pipi mu hanya sebuah, tapi itu sungguh manis.” Ujar Kris tiba-tiba.

“Hahaha, sinchaa?”

“Chanyeol, aku ingin bicara sedikit serius padamu. Bisakah kita duduk di bawah pohon itu?” Kris menunjuk sebuah kursi yang ada di bawah pohon rindang.

“Wae? Ada apa Kris?”

“Aku menyukaimu. Tadinya aku pikir aku hanya sekedar suka sebagai rekan se-tim, namun perasaanku tumbuh semakin besar. Aku menyukaimu, Park Chanyeol!” Ujar Kris seraya menatap mata Chanyeol.

Di tempat persembunyiannya, Baekhyun sempurna mendadak lemas mendengar ucapan Kris samar-samar. Benar bahwa apa yang dikatakan Kyungsoo siang tadi, Kris benar menyukai Chanyeol, Chanyeol-nya…

“Apa maksudmu Kris?” tanya Chanyeol pura-pura tertawa memamerkan sederetan gigi putihnya.

“Bagaimana dengan perasaanmu? Maukah kau menerima perasaanku?”

Baekhyun kini gemetar menanti-nanti  jawaban apa yang akan ia dengar dari mulut Chanyeol.

“Kris, mian…aku sudah memiliki orang yang sangat aku sayangi.” Jawab Chanyeol sama sekali tidak lirih, melainkan dengan suara yang jelas.

DEGG!!

Kris dan Baekhyun sama-sama berdegup.

“Siapa dia? Apa si Byun itu? Salah satu dari kawanan minoritas itu?” tanya Kris dengan nada tidak suka.

“Mengapa kau menyebutnya dengan demikian, Kris? Iya, dia Baekhyun-ku…”

“Baekhyun-ku?” Baekhyun mengulang kata itu, ada kehangatan menjalar di hatinya mendengar Chanyeol menyebutnya seperti itu, sebagai tanda kepemilikan.

“Tetapi, dia tidak terlihat pantas bersanding denganmu. Dia bukan golongan populer, dia kecil, dia amatlah biasa.” Kris mengoceh sementara Chanyeol mengepalkan tangannya seolah geram orang yang ia sayangi disebut dengan demikian.

“Kau tahu Kris? Dia memang kecil, namun dia orang yang pertama kali aku lihat di tengah-tengah kerumunan orang ketika masa ospek pertama kali masuk sekolah ini. Badan kecilnya aku lihat sedang berdiri berbaris sembari menghindari sinar matahari. Kyeopta…” ucap Chanyeol sembari tersenyum.

Baekhyun juga baru pertama kalinya mendengar soal ini dari Chanyeol. Selama ini jika Baekhyun bertanya kapan Chanyeol mulai memerhatikan dirinya, dia tidak pernah menjawab.

“Baekhyun, terlihat seperti seseorang yang rapuh dan aku tiba-tiba menyukainya. Aku mulai suka melihatnya berjalan, berlari, cemberut, tersenyum. Aku benar-benar menyukainya, dia tidak serendah yang kau pikirkan, Kris!”

“Lalu apa alasan tepatnya kau bisa menyukai orang seperti itu? Tidak masuk akal hanya karena melihatnya kau suka padanya.”

“Aku tidak pernah mau memberitahu siapapun apa alasan aku menyukainya, karena jika seseorang lain tahu alasanku, aku takut ada yang menyukai dirinya selain diriku.”

“Kauuuu…tidak masuk akal sekali Park Chanyeol!” Tuding Kris.

“Cinta memang tidak masuk akal, bukan?”

“Kauu…baru saja menolakku hanya karena si pendek kurus itu? Ah, you’re crazy!”

“Berhenti memanggilnya seperti itu!!” Chanyeol berdiri dengan tatapan marah.

“Kalau begitu, kau harus siap-siap hengkang dari tim, Chanyeol! Aku janji, kau akan dikeluarkan dari tim!” Kris bangkit dari duduknya dan mendorong bahu Chanyeol dengan kesal.

“Hah? Kau mengancamku?”

“Itu hukuman menolakku.” Lalu Kris pergi berlalu.

Chanyeol hanya diam mendengar ancaman Kris, sementara Baekhyun menjadi merasa bersalah karena Chanyeol akan dikeluarkan dari klub. Hanya karena Chanyeol mencintai dirinya.

“Chukae Chanyeol~ kau baru saja menerima pernyataan cinta dari seseorang kan? Chukae!” aku sengaja menyindir Chanyeol agar dia bercerita soal Kris kepadaku, karena aku sudah menunggu 3 hari ini namun Chanyeol sama sekali tidak membahas masalah ini sehingga aku kesal dan merasa Chanyeol berniat main rahasia denganku.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Mengapa kau masih menyembunyikannya? Aku sudah tahu kok, soal Kris menembakmu.”

“Oh…” balasnya datar.

“Oh apanya???”

“Ya memang dia menembakku.”

“Kenapa tidak kau terima? Kenapa kau menolaknya?” aku terdengar semakin ngasal berbicara karena emosi.

“Wae? Kenapa pertanyaanmu?!”

“Lihatkan? Kau jadi dikeluarkan dari klub basket, kau jadi tidak bisa bermain basket lagi. Padahal basket adalah hidupmu!”

“Lalu kau maunya seperti apa, Baekki?”

Aku diam seribu bahasa.

“Kau mau aku menerimanya? Menjadi pacarnya? Kau mau diduakan atau ingin diputuskan?” Chanyeol terdengar menantangku. Aku jadi semakin emosi. Aku sebenarnya tidak ingin Chanyeol menerima cinta Kris, namun aku terlalu takut sehingga seperti ini, sehingga aku memanas-manasi  Chanyeol.

“Silahkan, kau lakukan semaumu. Kau lebih pantas bersamanya kok ketimbang aku…” ucapku lirih.

“Memang! Jika itu pandanganmu, aku akan bertemu Kris malam ini juga untuk mengubah jawabanku padanya tempo hari!” Chanyeol marah, ya dia marah. Aku bisa lihat dari kilatan wajahnya, namun keras kepalaku tidak bisa melunak. Aku juga semakin emosi dan memperkeruh keadaan.

Keadaan hening, masing-masing dari kami tidak bicara. Namun, entah setan apa yang merasuki tubuhku sehingga aku mengeluarkan kembali kata-kata yang menyakiti Chanyeol.

“Lihat saja nanti ketika masuk Universitas, aku pasti akan bertemu dengan seseorang yang menyukaiku juga! Kau pikir hanya dirimu yang menyukaiku? Aku juga akan mulai menyukai yang lain!! Aku tidak mau lagi denganmu, Yeol!!!”

Chanyeol terperangah dengan ucapanku.

“Oh, Baekhyun sudah punya rencana seperti itu ya?”

Tubuhnya sengaja ia dorongkan guna menghimpit tubuhku ke dinding. Jadilah posisinya kini aku terjepit antara dinding dan tubuh besarnya.

“Nde!! Waeyo?? Selama ini kau cuma bisa buat aku nangis, marah, dan kesal. Aku tidak mau lagi seperti itu, aku akan menemukan seseorang yang lebih baik darimu!” Mataku mulai berkaca-kaca ketika mengeluarkan kalimat itu. Jauh di lubuk hatiku, aku takut Chanyeol mengiyakan bendera perpisahan yang aku kibarkan.

“Jeongmal?” Kini Chanyeol memicingkan matanya sebelah dan mendekati wajahnya ke arah wajahku. Tatapan matanya tak lepas sedetikpun menatap mataku yang nampaknya mulai akan menangis lagi.

“NDE!!!!!” teriakku.

“Kau akan menyukai yang lain? Kau marah karena Kris menyatakan cintanya padaku bukan? Kau pikir jika ada seseorang yang menyukaiku aku otomatis juga menyukainya? Apa ini juga salah satu list kebencianmu padaku?”

“NDEEE!!! Aku benci itu, maka dari itu aku ingin berhenti…”

“Kau tidak akan bisa menyukai seseorang selain diriku, Baekki…” ucapnya tepat di telingaku.

“Hanya pikiranmu yang berkata seperti itu! Dan…”, belum sempat aku membantah kembali, bibirnya yang tebal itu mendarat di bibirku. Melumat bibirku yang hanya terbeku diam karena ketiba-tiba-an ini.

Chanyeol menciumku dibawah rintiknya hujan malam itu. Aku tidak bisa menolaknya, bukan hanya karena tenaganya yang kuat dan mengintimidasiku melainkan hasratku berkata aku senang dicium olehnya. Setelah sekian waktu kami selalu bertengkar, ciuman ini bagaikan embun di kegersangan ladang tandus. Aku tidak membalas ciuman lembut darinya, aku hanya terdiam.

Setelah ia melepaskan ciumannya, gantian kini ia memelukku dengan kedua tangannya. Satu tangannya terlingkar di tengkuk leherku, membenamkan kepalaku di dadanya.

“Baekhyun dengar, meski aku selalu membuatmu kesal, seringkali bertindak seenaknya, mencemburuimu sepanjang waktu, memarahimu terus, dan kini ada namja lain menyukaiku. Tetapi, satu-satunya orang yang aku cintai di dunia ini hanya satu.”

“Dan, aku satu-satunya yang bisa memelukmu seperti ini, aku satu-satunya yang akan terus menggenggam tanganmu.” Bisiknya kembali.

Aku cerna kalimatnya dengan perasaan yang sudah tercampur aduk sehingga akhirnya airmataku mulai tumpah.

“Kenapa diam Baekki? Peluk aku juga seperti ini.” Ia membimbing kedua tanganku untuk membalas pelukannya. Dan kini tanganku sudah melingkar pasrah di pinggangnya.

“Sekarang bicaralah, apa yang mau kau katakan?” kedua telapak tangannya merengkuh kedua sisi pipiku.

“Aku membencimu, Park Chanyeol!!” kataku pelan.

“Hehehe…” Chanyeol mulai melepaskan pelukannya.

“Kau tahu benar, aku benci karena aku tergila-gila padamu. Hanya orang sinting yang mampu mencintai namja pabo sepertimu. Dan aku benci menerima kenyataan akulah orang sinting itu.” Isakku tak tertahan lagi.

“Arasho…” Senyum mengembang dari sudut bibir namja pabo kesayanganku ini.

“Aku tidak benar menyuruhmu menerima Kris…aku hanya marah pada diriku sendiri. Mianhe…” akhirnya aku mengakui.

“Arasho…kau hanya shock karena selama 3 tahun ini aku yang terus mencemburuimu, namun kini kau yang harus cemburu, kau marah karena itu kan?”

“Nde kau benar…”

“Jebal  jangan pernah lagi bilang kau akan menyukai yang lain, Baekki! Apa tadi itu serius?”

Aku jawab pertanyaannya dengan mencium bibirnya, walau aku harus berjinjit untuk bisa mencapai bibirnya.

Dan kami kembali berciuman, sesekali tertawa.

Being born in the same country
Talking in the same language
We’re so lucky, it’s such a relief
Nothing is for certain in this world…

Daripada harus mengatakan aku membencinya, alangkah lebih baik aku bilang bahwa aku beruntung memilikinya. Park Chanyeol, hanya dia dan cuma dia. Seseorang yang selalu memayungi aku ketika hujan, seseorang yang bersedia memakan masakan percobaanku yang sering asin, seseorang yang rela mendengar keluhanku, mengikat tali sepatuku, seseorang yang tidak bisa marah padaku dalam waktu kurang dari 24jam. Dan yang terpenting, ia adalah seseorang yang hanya melihat ke arahku.

I have a new dream, it’s to be one a better man
Because your eyes that look at me make me run once again more than anything else…

 

Aku juga akan berusaha menjadi keberuntungan untuknya, dengan caraku sendiri pastinya. Kata orang, jika kita telah menemukan belahan jiwa kita, kita akan merasa selalu beruntung dekat dengannya. Tidak ada sesuatu yang ingin kita ubah dari dirinya, kerena kita akan menerima dia apa adanya. Chanyeol-ku, meski banyak sekali yang aku benci dari dirinya namun tidak satupun yang ingin aku ubah, kecuali jika ia ingin berubah menjadi yang lebih baik atas keinginannya sendiri.

Laki-laki ini, pastilah pemilik belahan dari hatiku. Aku yakin itu, sejak pertama kali aku bertemu dengannya, sejak ia menarik tanganku dan membawaku berlari…


So lucky, my love
So lucky to have you
So lucky to be your love, I am…(Lucky- EXO).

Kisah kami tidak berakhir malam itu, di hari-hari selanjutnya masih sama. Ada cemburu, kesal, marah, tawa, bahagia, namun jika hal-hal buruk terjadi aku selalu segera mengingat bahwa aku beruntung memilikinya, dan Chanyeol beruntung memilikiku. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar aku selalu bisa bersamanya sampai kapanpun, bahkan sampai di kehidupan selanjutnya, aku hanya ingin melihat dia…

BTfE__TCcAEVDMP

-END-


Author’s note:

Aku kembali memuat FF Baekyeol kembali hehe…semoga yang membaca ff ini tidak ada yang siders huhu.

Gomawooooo🙂🙂🙂

13 responses »

  1. annyeong thor, naneun Ina imnida, new reader *bow
    ffnya bagus thor, aku suka.🙂
    kapan-kapan bikin ff ChanBaek yang brothership yy thor😉

    semangat terus author, fighting!!🙂

  2. o.m.g thor knpa ini manis bngt c ,, nangis terharu bcanya ,, cemburu cemburuannya baekyeol manis bgt , gemes bcanya sampe gregetan pngen nyium baekhyun , hehe .. suka bgt sma kta2 kmu di awal yg tentang mitos kuno soulmate itu , dpt drmn tu thor ?? hee ..
    btw suka bnget sma ff mu yg beautiful creature ,lanjutannya kpn thor ditunggu loh, ku bca ff itu di exo fanfiction, nemu blog ni jg dr situ , and aku dh folow twiter mu loh thor, minta folbacknya yah , hehe
    and salam kenal …🙂

  3. Ahh nih orang bikin gw nangis malem2,, dan alasan nangisnya “bekyeol” aaakkkkk >< cwo kyk cenyol cuma ada dicerita lo kan boo? Cuma ada di dunia exo planet,, cwo kyk cenyol ga ada bo disini yg romantis, yg seberapapun di dorong maka akan smakin kuat dia datang :"( berasa ketapel :3

  4. kyyyaaaaa daebak jeongmal daebak thor ..ff nya nyentuh banget ..feelnya kerasa banget …baekyeol banget deh pokoknya … ..
    GOOD JOB thor (y)

    keep writing ne … fighting😉

  5. PROOK PROOK PROOK *tepuktangancerita’egituXD*

    DAEBAK DAEBAK DAEBAK!!!! SUKA BANGET BANGET BANGET SAMA EPEP’E ;_________; thanks banget author udah buat epep chanbaek seperti ini. Saya terharu sunggu T^T❤ *pelukciumauthor/ditimpukauthormaenciumaja* khkhkhkh

    paporit pake banget ni yah, part yg "don't go" itu🙂 td sempat tebawa juga suasana konflik'e… khkhkh tapi untung aja ye chanbaek kga putus~

    ok deh authornim btw salam kenal ne, baru nemu wp ini ^^ trus trus sering" yah buat epep chanbaek yg kek begini ^.<

    ok see u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s