IF I COULD CHOOSE

Standar

If I Could Choose

(Chapter 1)

By Baekkibell (@baekkibell)

Main Cast

Park Chanyeol

Kris Wu

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Genre: Romance

Ost: Different – Taeyeon feat Kim Bum Soo

Untitled-2

Prolog

 

Ketika aku memutuskan menjadi seorang dokter, aku hanya ingin menyembuhkan semua orang dengan tanganku. Aku ingin hilangkan rasa sakitmu, dengan begitu aku menjadi berarti.

Kau tahu, kenapa Tuhan memberikan rasa sakit kepada seseorang? Itu agar seseorang lainnya harus kuat untuk menjaga. Dengan begitu jika Tuhan memberi kita kekuatan lebih, kita diciptakan untuk menjaga mereka yang lebih lemah dari kita.

 

Jika aku dan kau yang sama-sama kuat ini bersatu, lalu siapa yang menjaganya? Tidak hanya satu hati yang terluka, tetapi dua hati sekaligus…

I’m sorry, so sorry, I seek her

Things I couldn’t do for her deafen me

I fear that if the memories are lost

I will be lost, too, so I say I’m sorry

Love, love hurts

Love, separation speaks to me

Love, even if I am alone again

A man speaks, saying I’m sorry, I apologize…

(Different – Taeyeon feat Kim Bum Soo).

***IICC***

Seorang namja cantik keluar dari mobil mewahnya yang baru saja ia parkirkan di sebuah halaman parkir rumah sakit ternamaan di bilangan Seoul. Penampilan namja itu benar-benar siapapun yang melihatnya pasti akan meluangkan sepersekian detik  hanya untuk berdecak mengaggumi keindahannya. Siang itu ia mengenakan kacamata hitam sebagai pelindung matanya, menambah kesan fashionable dalam dirinya.

“Siang calon dokter Byun!” sapa seseorang yang baru saja datang ke halaman parkir.

“Hei, Jongdae! Kau baru datang juga?” jawab namja cantik itu sembari membuka kacamata hitamnya.

“Jangan gila, Baekhyun! Kau pikir sekarang jam berapa? Jelas saja aku sudah mau pulang. Ckckck.” Jawab namja yang masih megenakan medical white coat, ia geleng-gelengkan kepalanya pertanda ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi bersikap.

“Jeongmal? Kekeke! Mian, aku tadi kesiangan dan harus ke kampus dulu mengambil laporanku.” Jawab Baekhyun cengengesan.

“Kau ini calon dokter tapi hobi kesiangan, aku sih prihatin kepada yang menjadi pasienmu.”

“Jangan begitulah Jongdae, aku juga sudah berusaha. Lagipula pasienku, satu-satunya pasien yang aku tangani itu sangat jinak, kasusku terlalu mudah.” Jawab Baekhyun santai.

“Apa kau tidak malu, disaat semua mahasiswa seperti kita menangani minimal 3 orang pasien, kau hanya diberikan tanggung jawab hanya menangani 1 orang pasien saja. Itu adalah sindiran atas kelalaianmu bukan hak eksklusif.” Terang Jongdae serius.

“Arasho…arasho…akan aku coba menambah 1 pasien. Tapi, yang hanya penyakit muntaber saja hahaha.”

“Gila! Aku pulang dulu kalau begitu, selamat kena semprot lagi oleh Suho sunbae!” Jongdae menepuk-nepuk pundak Baekhyun sebelum pergi.

“What! Si Suho perfeksionis itu sekarang yang piket?” raung Baekhyun yang hanya disambut cengiran lebar khas Kim Jongdae, sahabat karibnya itu.

Bukan Byun Baekhyun namanya jika ia harus ketar-ketir mendengar dari sahabatnya bahwa di dalam rumah sakit itu sudah menunggu seorang dokter muda bernama Suho yang mungkin saja kali ini akan memakan hidup-hidup dirinya karena hari ini terlambat lagi. Alih-alih ketakutan, dengan santainya Baekhyun berjalan menuju ke dalam rumah sakit sembari mengunyah permen karet, sangat khasnya ia sekali. Tidak lupa ia mengenakan medical coat miliknya, menambah pesonanya menjadi beratus-ratus kali lipat. Lihat saja suster-suster yang melihatnya langsung meleleh dan saling berbisik memuji satu sama lain. Ya, Baekhyun memang sudah sangat populer di kalangan namja maupun yeoja karena wajah super baby face-nya tersebut. Belum lagi sifatnya yang hangat, selalu tebar pesona, dan ramah kepada siapapun membuat siapapun akan bertekut lutut memujanya.

“Kau, calon dokter Byun Baekhyun! Ini sudah yang kedelapan kali kau telat datang ke rumah sakit. Apa maumu sekarang?” Ucap Suho yang sudah menyilangkan tangannya di depan dada. Baekhyun di depannya hanya tersenyum manis, sangat manis.

“Hyung, aku diare semalam sehingga baru tidur shubuh sehingga aku kesiangan bangun. Perlu kau tahu hyung, siapapun bisa mengemukakan alasan yang tidak masuk akal dan berbohong bilang lalu lintas macetlah atau menyalahkan keadaan. Aku tidak hyung, dengan segenap hati aku menyalahkan diriku sendiri karena keterlambatan ini, maka dari itu aku mau kebaikan hatimu memaafkanku.” Baekhyun mengemukakan penjelasannya dengan mimik yang penuh penyesalan.

“Kau akan diskors jika terlambat sekali lagi, sehingga kau tidak dapat izin praktek tahun ini juga. Arasho?”

“Baik hyung, kau boleh pegang janjiku.” Ujar Baekhyun senang dan ia kembali tersenyum.

“YA!!! JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU, KAU PIKIR AKU BISA TERGODA!” Suho nampaknya kesal sendiri karena memang sebenarnya ia tidak kuat disenyumi seperti itu oleh Baekhyun.

“Husst Hyung! Ini rumah sakit mengapa kau hobi sekali berteriak sih?” Baekhyun meletakkan jari telunjuknya di bibir sehingga sangat aegyo sekali.

“YA!!! Byun Baekhyun aegyo-mu itu tolong perlihatkan saja pada yang lain. Aku tiba-tiba pusing, kau pergilah sana!” Suho nampaknya sudah tidak kuasa berhadapan dengan makhluk imut sekelas Baekhyun.

“Baiklah, kekeke…bye Hyung! Bbuing bbuing^^” Baekhyun sengaja sekali meledek Suho sehingga tanpa sungkan-sungkan Suho melemparkan pena-nya tepat sasaran di kepala Baekhyun yang langsung ngacir pergi.

“Anak itu!!!” Suho mendumel.

 

 

“Anak itu manis…dia hoobae-mu?” ujar suara seorang namja tiba-tiba.

“Heh? Ne…Dokter Park, dia hoobae saya. Dia memang manis, namun kelakuannya membuat saya naik darah.” Jawab Suho reflek.

“Kekeke…masa sih anak semanis itu bisa bikin naik darah?”

“Iya dokter, entah apa yang ada dipikirannya ia masih senang bermain-main.”

“Siapa namanya aku lupa?”

“Byun Baekhyun dok…”

“Hmm…” angguk dokter muda yang sedang bersama Suho itu. Dokter Park, atau lebih lengkapnya bernama Park Chanyeol adalah dokter spesialis penyakit dalam, khusus Cancer di rumah sakit dimana Baekhyun juga praktek. Umurnya sebenarnya sama dengan Suho, hanya saja ia masuk kelas akselerasi yang membuatnya lebih cepat menjadi seorang dokter. Ia cerdas, tampan, postur tubuhnya tinggi, dan memiliki lesung pipi yang menambah kesan manis di wajahnya. Banyak dokter wanita yang berusaha mendapatkan perhatiannya, hanya saja Chanyeol terkenal dingin dan tidak banyak bicara.

 

Kembali ke Baekhyun,

Kali ini ia terlihat sedang seksama melakukan pemeriksaan rutin kepada pasien yang ia tangani. Sebenarnya jika ia sedang bekerja, ia akan terlihat serius dan teliti berbeda sekali dengan tingkah lakunya sehari-hari. Dengan telaten ia memeriksa perkembangan pasiennya, mencatat segala kemajuan yang signifikan, tidak lupa sembari menyemangati si pasien dengan kata-katanya.

“Hasil chemotherapy yang lusa dijalani hingga kini tidak berdampak negatif, saya rasa obatnya kini sedang bekerja di seluruh tubuhnya. Jadi jangan khawatir kalau ada rasa mual atau pusing karena itu hal yang wajar.”

“Apa saya bisa sembuh, dok?” tanya yeoja yang masih sangat belia tersebut.

“Tentu saja, Ahreum-ssi. Kanker yang ada pada tubuhmu itu sudah berkenalan denganku, katanya sih dia akan segera pergi, mungkin dia menyesal telah mampir ke tubuh kecilmu.” Ujar Baekhyun sembari tersenyum, senyumnya sangat menghangatkan hati gadis kecil itu. Orangtua sang gadis pun ikut tersenyum mendengar penuturan Baekhyun.

“Aku berarti salah satu gadis yang sial yah dok? Dihinggapi penyakit seperti ini.” Lirih si gadis.

“Ahreum salah jika berpikir begitu. Dokter sehat, orangtuamu juga, suster-suster disini sehat, lebih banyak mana orang yang terkena kanker atau yang tidak?” Baekhyun balik bertanya.

“Lebih banyak yang tidak terkena kanker!” jawab Ahreum.

“Nah, dengan begitu siapapun yang terkena kanker maka dia adalah orang pilihan Tuhan. Dengan kata lain dia spesial…Tuhan mungkin lebih tahu, bahwa Ahreum memiliki hati yang kuat ketimbang dokter atau orang sehat lainnya, jadi Tuhan memberikan ujian penyakit ini kepadamu. Sehingga itu Tuhan pada dasarnya tahu bahwa Ahreum tidak akan menyerah, dan terus berjuang melawan sakit ini. Ingat, hal-hal yang luar biasa hanya terjadi pada orang-orang yang luar biasa pula. Ahreum mengerti?”

“Arasho, aku senang menjadi orang spesial…berarti Tuhan memerhatikanku lebih ya dok?”

“Tentu saja. Juga orang tua Ahreum, dokter, dan suster-suster semua memerhatikanmu dan sayang padamu. Jadilah orang yang kuat, arachi?”

“Nee…”

“Dokter pamit ya…”

“Dokterrr…Ahreum suka sekali pada dokter Baekhyun!” ujar gadis itu ceria.

“Dokter Baekhyun juga menyukai Ahreum, neomu-neomu johae.” Sekali lagi Baekhyun tersenyum dan mengerlipkan matanya. Seketika itu juga para penjaga dan suster yang melihatnya merasakan lemas persendiannya.

**IICC**

 

 

Hobinya adalah melukis. Beruntung sekali ia memiliki hobi seperti ini untuk dijalankan di sela-sela rutinitasnya berobat. Menjadi salah satu

pasien tetap pastilah hal yang membosankan, ketika orang-orang yang seusianya sedang gigihnya meraih cita-cita, ia hanya bisa mengakrabkan dirinya dengan rumah sakit, obat-obatan, dan penyakitnya. Namanya Kris, seorang namja tampan dengan postur tubuh yang tinggi namun ringkih. Pada usianya yang ke 20 tahun, ia divonis menderita kanker paru-paru stadium awal. Meskipun masih stadium awal, tidak membuat kankernya dipandang sebelah mata. Beruntung keluarganya segera menyadari penyakit yang diderita Kris dan langsung menanganinya dengan baik. Hingga kini ia rutin melakukan check up dan rawat inap. Namun, akhir-akhir ini kondisinya sering tidak stabil, batuk-batuknya semakin sering, juga nafasnya yang menjadi pendek-pendek. Maka dari itu, beberapa hari sudah ia tinggal di rumah sakit agar lebih mudah di kontrol.

“Kris, ayo masuk hari semakin senja, sebentar lagi malam dan anginnya tidak baik untuk tubuhmu. Masuk ya, nak?” seru seorang wanita separuh baya yang di wajahnya nampak guratan-guratan kelelahan terlihat.

Kris terlihat masih asyik melukis di atas bangku taman yang dekat dengan kamarnya. Ia tidak hiraukan panggilan dari wanita paruh baya itu, hingga wanita itu berinisiatif menghampirinya.

“Kris…” sapa wanita itu lembut seraya menepuk pundak Kris.

“Ah, eomma belum pulang?” Kris baru menyadari sedari tadi eommanya ada disitu.

“Eomma barusan dari menebus obat, kau ingin eomma pulang atau eomma menginap malam ini?”

“Eomma pulang saja, kasihan appa di rumah tidak ada yang menemani.” Balas Kris

“Ya sudah, eomma antar masuk yah? Sudah mau malam, diteruskan lagi saja besok melukisnya.”

“Ne…”

Lalu Kris dan eommanya beranjak dari taman menuju ruang penginapan Kris. Tidak jauh dari situ Baekhyun sedang baru keluar dari kantin menenteng se-cup kopi dingin kesukaannya. Ia hempaskan tubuhnya duduk di salah satu bangku taman disitu.

“Eh? Cat air? Milik pasien itu kah?” Baekhyun tidak sengaja melihat di sebelahnya ada cat air yang tidak sengaja tertinggal oleh Kris tadi.

“Kris? Oh, mungkin nama pasien tadi Kris, baiklah nanti akan kukembalikan cat air ini.” Baekhyun membaca sebuah nama yang ada pada cat air tersebut yang sekiranya adalah nama pemiliknya, lau Baekhyun masukkan cat air itu di dalam kantong jasnya, matanya tertuju kepada Kris dan Eommanya yang barusan masuk ke dalam kamar bernomor 407.

“Baek!!! Baekhyun!!” Panggil seseorang namja.

“Hoi, Luhan!”

“Kau sedang apa disini sendirian? Sudah tidak ada tugas?” sapa namja yang juga cantik seperti Baekhyun.

“Aku sedang minum kopi ini, kau mau?”

“Ani, kau tahu kan aku tidak suka kopi.”

“Sehun mana? Hari ini aku tidak lihat batang hidungnya.”

“Sehun tidak sedang ada piket hari ini. Maka dari itu, aku ingin nebeng pulang sama kau ya!”

“YA!! Makanya bawa kendaraan sendiri, masa mau jadi dokter masih ketergantungan sama pacarnya.”

“Aku belum dapat SIM, jadi belum berani bawa kendaraan sendiri. Kau pelit sekali sih, Byun!”

“Siapa yang tidak mengizinkan sih, baiklah nanti pulang barengku. Tapi, aku turunkan di lampu merah ya? Selanjutnya tunggu ada yang mengangkutmu, dengan wajah cantikmu pasti tidak ada yang tidak tergoda hahaha…”

Plakk!!

“Hobimu itu selalu bercanda.”

“Yaaaaa!! Masih untung aku beri tumpangan malah memukul.”

“Kajja kita pulang!” Tarik Luhan.

“Tunggu dulu, aku ada urusan sebentar. Kau duluan lah ke parkiran depan, tunggu 5 menit aku akan menyusul.

“Kau mau kemana memang?”

Baekhyun hanya membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.

 

 

Tok Tok..

Tok..

“Permisi, annyeong hasaeyo!” Baekhyun masuk ke kamar nomor 407 dan memberi salam. Di dalam Kris nampak sedang rebahan di tempat tidur sembari menonton televisi.

“Ah, annyeong. Dokter? Bukankah tadi sore aku sudah diperiksa ya?” Nampak Kris kaget karena kehadiran Baekhyun.

“Oh, bukan aku bukan bermaksud ingin memeriksamu. Hm, aku hanya ingin mengembalikan ini…” Baekhyun mengeluar cat air yang ada di kantong jasnya.

“Cat air milikku? Oh, kenapa bisa ada pada dokter? Aku memang tadi kehilangannya, aku pikir aku lupa menaruhnya.”

“Iya, kau ceroboh sekali meninggalkannya di bangku taman.” Ujar Baekhyun sembari menyerahkan cat itu kepada Kris.

“Kamshamida, dok…”

“Sama-sama, Kris.”

“Heh? Dokter tahu namaku?” Kris nampak kaget.

 

Seketika itu Kris baru sadar benar bahwa wajah dokter yang sedang berbicara dengannya itu benar-benar manis sekali. Dalam hati Kris, belum pernah ia bertemu dengan namja yang memesonakan seperti itu.

Hana…

 

Dul…

 

Set…

 

Kris POV

Kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Aku sebelumnya tidak percaya. Selain dikarenakan aku jarang sekali bertemu dengan orang, aku juga merasa mustahil bagaimana bisa orang jatuh cinta hanya dengan pandangan pertama saja. Namun, ketidakpercayaanku kini seakan luruh. Sungguh sangat terlambat terdengarnya, namja seusiaku yakni 23 tahun baru merasakan detakan yang aneh, yang kata orang-orang dan buku-buku adalah detakan jatuh cinta. 23 tahun hidupku, yang sering sakit-sakitan, dan 3 tahun menjalani status sebagai pasien pengidap kanker paru-paru, membuatku lupa untuk memenuhi takdir jatuh cinta. Dan, detik ini, demi apapun juga ketika aku melihat wajahnya, aku merasa paru-paru ku benar-benar kosong, tiada oksigen. Aku mengerjap sekali, berupaya mengambil nafas, mencari udara. Dan ketika aku buka kelopak mataku kembali, dan wajah itu yang pertama kali terlihat, seketika oksigen kembali ke paru-paruku. Aku bisa bernafas lega kembali.

“Aku tahu namamu, dari cat air tersebut. Dan di tempat tidur ini juga ada papan identitasmu, nama, usia, dan hmm…status penyakitmu.” Ujar Dokter mungil ini, cara dia berbicara saja sanggup membuatku terpesona.

Byun Baekhyun, aku sekilas membaca tanda pengenal yang tersemat di dada bagian kirinya. Nama yang indah sesuai dengan parasnya.

“Anda dokter disini juga? Aku baru pertama kali melihat anda, hmm…maksudku selama menjadi pasien di rumah sakit ini selama 3 tahun aku belum mengenali wajah Dokter…” Dan kenapa bahasaku menjadi aneh dan berantakan.

“Aku belum menjadi dokter tetap di rumah sakit ini, karena aku sebenarnya masih mahasiswa. Istilahnya aku magang disini, untuk mengambil izin praktekku.” Jelasnya.

Pantas, wajahnya masih sangat muda ternyata dia masih mahasiswa.

“Oh, sekali lagi terimakasih telah mengembalikan cat air milikku. Warna hijau dan biru ini adalah warna penting, akan sangat berabe jika hilang.”

“Wah, kau pintar menggambar ya?” Ujarnya sembari melihat buku sketsa milikku yang tergeletak di kasur dekat dengan letak kepalaku.

“Anii…hanya senang, sebatas hobi.”

“Tapi lukisan-lukisanmu bagus lho.”

“Kamshamida…tapi aku hanya biasa melukis pemandangan,”

“Wae? Tidak pernah melukis objek makhluk hidup?” tanyanya seperti menunjukkan antusiasme.

“Belum pernah mencoba…”

“Hmm, kau harus mencobanya. Menggambar pemandangan memang indah, namun mereka tidak hidup, tidak bernafas, berbeda dengan manusia yang setiap harinya wajahnya akan berubah sesuai suasana hatinya. Dan pasti membutuhkan tantangan tersendiri bukan?” Ucapannya memang benar sekali, dari dulu aku juga ingin mencoba melukis wajah seseorang. Namun belum ada yang cocok dan aku sukai.

“Nee, kapan-kapan aku ingin mencobanya.”

“Bagaimana melukis wajahku? Wajahku cukup mudah sepertinya untuk dilukis. Kekeke…Baiklah, Kris-ssi saya pamit dulu. Selamat beristirahat ya…” Dokter itu pamit kepadaku, aku pun mengangguk memberi salam.

Lalu ia berjalan menuju pintu, ada rasa enggan menyudahi perkenalan dengannya begitu saja.

“Dokter Baekhyun!” lidahku seolah bergerak sendiri memanggil namanya.

“Ah, ne?”

“Maukah dokter besok menjengukku lagi besok? Itu, kalau dokter tidak sibuk…” Apa-apaan aku ini. Memintanya menjengukku? Siapa aku?

“Tentu saja! Besok aku akan kesini lagi, pasienku hanya seorang dan aku sangat senang jika menambahnya satu lagi.”

Ia kembali tersenyum dan lalu pergi. Bahkan aku tidak sempat membalas senyumannya karena terlalu groginya.

Aku mencoba tertidur, namun mataku masih terpaku menatap langit-langit kamar.

Eomma, sepertinya aku jatuh cinta…” lirihku.

Kris pov end.

**IICC**

Sinar matahari masuk menembus jendela ruang kerja Park Chanyeol. Di mejanya, ia sedang memeriksa berkas-berkas kesehatan beberapa pasien yang ia tangani. Setelah cukup lama berkutat memeriksa lembaran-lembaran kertas yang bertumpuk, ia beranjak dari kursinya. Mencoba sedikit menghilangkan jenuh dan beranjak mendekati jendela kaca yang cukup besar.

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.00 sore. Sekilas Chanyeol melirik jam tersebut, lalu ia pun mulai melihat ke arah luar jendela. Rupanya dari jendela ruang kerja Chanyeol, terdapat akses langsung pemandangan ke taman.

“Biasanya sore seperti ini, dirinya pasti sedang membeli se-cup kopi dan sebentar lagi akan duduk di taman, ya di bangku itu persis.” Chanyeol nampak bergumam sendiri.

Dan tak selang beberapa saat kemudian, nampak di taman sesosok namja sedang menenteng kopi dan duduk di taman itu. Namja itu adalah Baekhyun.

Rupanya dugaan Chanyeol sangat tepat, dugaan itu mengarah kepada kebiasaan Baekhyun.

Sudah beberapa minggu ini memang perhatian Chanyeol terusik dengan kehadiran mahasiswa sekaligus calon dokter yang memiliki senyum manis itu. Ya, Byun Baekhyun sanggup mencuri perhatian Park Chanyeol, dokter muda yang cukup disegani dan dikagumi. Semua berawal dari kejadian kurang lebih tiga bulan lalu, ketika Baekhyun dan beberapa temannya yang mahasiswa kedokteran mencoba melamar untuk praktek kerja lapangan di Central Hospital Seoul ini. Untuk bisa praktek kerja di rumah sakit yang sudah terkenal namanya ini adalah bukan perkara mudah, karena terdapat tahap seleksi adiministarasi.

Kebetulan saat itu Chanyeol ditugaskan untuk menyeleksi dari beberapa mahasiswa yang melamar, memilih sepuluh diantaranya. Rumah sakit ini memang cukup melihat nilai akademik, prestasi di kampus, program studi yang sesuai atau tidak dengan kebutuhan departemen rumah sakit.

Dan di antara tumpukkan curriculum vitae dan biodata diri, sepasang mata Chanyeol menangkap sebuah nama salah seorang pelamar.

‘Byun Baekhyun’

Bukan namanya yang menarik perhatian Chanyeol, bukan juga pas photo yang menampilkan wajah manis dan menyenangkannya.

Melainkan sebuah referensi hidup dan sebuah quotes yang ada di dalam biodatanya.

 

Nama saya Byun Baekhyun. Saya adalah anak ketiga dari 3 bersaudara, kakak pertama saya seorang perempuan, dan kakak pertama saya adalah seorang laki-laki. Saya hanya tinggal dengan Ayah saya, sedangkan Ibu saya telah meninggal sejak saya kecil.

Jika mencari jawaban atas pertanyaan mengapa saja memilih untuk menjadi dokter? Saya akan menjawabnya; karena saya membencinya.

Tetapi saya memiliki alasan kuat untuk jawaban saya.

Pertama. Ibu saya meninggal akibat pendarahan kuat saat keguguran ketika mengandung calon adik saya, saat itu dokter tidak bisa menolongnya. Saya pun kehilangan ibu saya untuk selamanya.

Kedua, kakak perempuan saya. Ia keracunan karena suatu alasan tertentu, saat itu dokter juga tidak bisa menolong nyawa kakak saya, sehingga saya pun kehilangan dia untuk selamanya.

Ketiga, Kakak laki-laki saya. Akibat banyak goncangan dalam hidupnya, ia mengalami gangguan kejiwaan yang cukup serius. Ia melupakan siapa keluarganya, bahkan siapa dirinya. Lagi-lagi dokter tidak bisa menolongnya.

Untuk ketiga alasan itu memang cukup egois untuk saya menjadi membenci dokter, karena saya yang masih remaja harus mentah-mentah menerima itu semua. Namun, ayah saya, orang yang satu-satunya masih saya punyai malah menyuruh saya untuk menjadi seorang dokter. Menjadi seorang yang paling saya benci. Kebencian inilah yang mengantar saya hingga sampai pada tahap sekarang, dimana saya tidak ingin menjadi dokter yang tidak mampu menolong nyawa orang lain. Ketika aku memutuskan menjadi seorang dokter, aku hanya ingin menyembuhkan semua orang dengan tanganku. Aku tidak ingin ada anak yang membenci dokter seperti diriku dahulu, maka dari itu aku selalu berusaha.

“Segala sesuatu di dunia ini selalu tersedia banyak pilihan, jangan pernah menjadi seseorang yang hidup dengan tanpa pilihan…”

 

 

Kalimat terakhir itu adalah sebuah quotes milik Baekhyun, yang ia tulis persis di bawah referensi hidupnya. Setelah membacanya, Park Chanyeol sempat tertegun dan mengaggumi kebesaran hati dan pilihan Baekhyun. Seseorang yang memilih sebuah profesi dengan alasan yang unik dan tidak biasa.

“Tentu saja seseorang ini pastilah seseorang yang unik, dan berkarakter.” Gumam Chanyeol. Lalu menaruh berkas milik Byun Baekhyun ke dalam map bagian “Approve” alias diterima sebagai calon dokter dari Central Seoul Hospital.

Sejak saat itulah Chanyeol menaruh perhatian lebih kepada Baekhyun, secara diam-diam. Dan inilah rutinitas baru Chanyeol setiap senja. Berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya, memandangi Baekhyun dari atas. Ia tidak paham mengapa rutinitas ini menjadi salah satu favoritnya. Yang Chanyeol tahu, memerhatikan Baekhyun memberikan sensasi tersendiri dimana jantungnya akan berdetak lebih cepat dan otot mulutnya secara otomatis tertarik ke atas membentuk lengkungan senyum.

Apa bisa ini dikatakan jatuh cinta?

Wajar adanya jika seseorang jatuh cinta, terlebih kepada namja manis seperti Baekhyun.

 

Akan tetapi…

Tetapi,

 

Tidak wajar jika jatuh cinta kepada seseorang lain, sementara…

 

Sementara…

 

Chanyeol mengeluarkan tangan kirinya dari kantong jasnya. Ia perhatikan jari jemarinya, ada sebuah benda yang menyilaukan matanya ketika benda itu tertimpa sinar mentari. Benda yang melingkar indah di jari manisnya, berkilauan.

 

Sebuah cincin.

 

 

 

Chanyeol menghela nafas panjang.

 

 

 

TBC

Author’s note:

Jangan lupa meninggalkan jejak dengan berkomentar! Tolong untuk bisa sedikit lebih mengapresiasikan karya orang lain dengan tidak menjadi silent readers. Apa susahnya berkomentar yang tidak memakan waktu berjam-jam, sedangkan author membuat ini, mengetik ini memakan waktu yang tdk singkat. Yaa walau hasilnya juga acak adul tapi kan udah usaha ><

Jadi mohon bagi kalian yang msh mau blog ini hidup, komentar yaa *kecup satusatu

Bicara soal pair, ini ff sudah ada kerangkanya, jadi tebak aja sendiri ini ff KrisBaek atau Chanbaek/ Baekyeol?😉

Gomawo! ^^

9 responses »

  1. Ya ampun tumben kris jadi orang yang putus asa dan emmm ringkih, biasanyakan dia jd yang tipe-tipe flowerboy…

    Huaaa suka-suka, ada chanbaek sama krisbaek, hhmmm aku tebak tunangna chanyeol kyungsoo bukan? Abis di cast ada kyungnya,,,, *sok-sokkan,,,
    Kira-kira siapa yang bakalan disukai sama baekhyun ya, trus maslah apa yang bakalan muncul nanti, lanjut thor-nim

  2. wuahahahahahahaha /apaan seh/ eum maaf kenalkan anna disini reader baru lg nyari krisbaek ff dan menclok disini, salam kenal mohon bantuannya #bows

    kris jago ngelukis? /mikir keras/ inget gambar ular berkaki dia pfffftt~ tp sian kena kanker, cepet sembuh kakek /plak/

    penasaran chap 2 gimana hehe hwaiting^^9

  3. Lah g biasanya kris jadi penyakitan haha
    Itu kris seriusan sakitnya ampe selama 23th O.O

    Ih ih mau deh klo dokternya baekhyun haha
    Tapi baekhyun jadi dokter lucu juga
    Dokternya tengil haha
    Biasanya kan dokter kalem ini malah kebalikannya😄

    Kayanya cinta segitiga yah
    Tapi….. itu chanyeol udah nikah?
    Haduh klo udah nikah jangan ganjen chanyeol ckckck
    Tapi emang susah yah pesona baekhyun terlalu bersinar *lah ahaha
    Seru ff nya authornim ^^9

  4. Hii, new readers here ^^
    Sudah ada lanjutannya kah?
    ChanBaek or KrisBaek, ah penasaran..
    Maaf ga bisa review cerita, hanya ninggalin jejak :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s