Fate to love you (OneShoot)

Standar

Fate to love you (OneShoot)

By:  @Baekkibell

 

Main Cast

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

 

Pairing: Baekyeol//Baeksoo

Genre: Yaoi// Romance//NC21

 

Warning!

Alur maju mundur! (Flashback+masa kini)

Ini ff yaoi dan NC21, yang gak suka baca yaoi yadong gak usah baca!

Baekhyun Chanyeol // Chanbaek// Baekyeol couple!

DON’T BASH!!!

COMMENT PLS !!!

SILENT READERS PLEASE LEMPARIN DIRINYA SENDIRI KE IKAN HIU ^^

 

destiny1 

Prologue

 

Destiny is something we choose to go after…. Fate is something that happens to us, and seemingly takes away our choices, but in fact actually leads us back towards the choice of Destiny we already made before we were born

 

 

**FTLY**

Saat ini kudatang, menghampiri belahan jiwa. Entah mengapa resah hatiku, kau dan aku ada sesuatu. Aku tidak tahu akankah seperti apa reaksimu nanti ketika malam ini, sesaat lagi, aku menampakkan wajahku didepanmu. Kuharap kau tidak akan memarahiku lagi seperti biasa karena tindakan bodohku ini. Meskipun malam ini adalah tindakan terbodoh yang pernah aku lakukan, namun aku bisa mati jika tidak menemuimu. Sincha, Benar-benar bisa mati…

Aku harus menemuimu malam ini…

 

Berbicara mengenai kerasnya keinginanku untuk menemuinya malam ini karena tidak lain dan tidak bukan adalah soal perjodohanku. Semua bermula dari Eomma dan Appa yang sudah memberikan ultimatum kepadaku bahwa bulan depan aku harus menikah dengan namja pilihan mereka, yang memang adalah teman karibku sejak kecil. Namanya Kyungsoo, Do Kyungsoo. Teman karibku yang baru pulang dari Amerika. Sejak kami kecil, eomma-appaku dan eomma-appanya sudah berjanji jari kelingking bahwa aku dan dia akan menikah jika sudah sama-sama dewasa. Dan sekarang, kami berdua sudah tumbuh dewasa meski tidak menjalani masa-masa itu bersama karena sejak umur 10 tahun dia pergi ikut eomma dan appanya ke Amerika.

 

Jujur, dulu kami saling menyukai dan saling menyayangi. Kemanapun aku pergi, selalu ada Kyungsoo disisiku, jika ia menangis aku yang menyeka airmatanya, jika aku jatuh ia yang pertama mengulurkan tangannya padaku. Aku sangat ingat benar, sewaktu di sekolah aku tidak memiliki siapa-siapa selain Kyungsoo, begitu sebaliknya. Teman-temanku yang lain mengejek kami adalah pasangan boneka porselen, yang lemah dan sama-sama rapuh. Sejujurnya, aku sama sekali tidak merasa terhina, tak peduli seberapa banyak yang mengejekku, bagiku selama ada Kyungsoo aku baik-baik saja.

Hingga sampai akhirnya hari perpisahan itu tiba, dimana ia harus pergi ke sebuah tempat yang jauh dari Korea. Aku masih sangat ingat jelas, betapa kami saling menangis memilukan untuk melepas satu sama lain.

 

“Baekki-ah, kau akan merindukanku kan?” tanyanya dengan mata bulatnya.

“Tentu saja, setiap hari pasti aku merindukanmu. Bagaimana denganmu? Kau pasti akan mendapatkan teman baru di Amerika sana dan melupakanku.” Lirihku.

Lalu ia menjawab dengan isakkan tangis yang tidak meledak, namun isakkan tangis yang tertahan, yang kutahu itu sangat sakit rasanya, menangis dengan perasaan tertahan.

“Apa disana ada yang seperti Baekki? Ada yang seperti dirimu? Yang makan ice cream selalu minta dicampur rasa strawberry dan pisang? Yang selalu memakai kaos kaki terbalik? Yang selalu meledekku menggodaku? Yang selalu ingin aku pukul karena begitu nakalnya? Apa ada Baekki-ah?”

Mendengar penuturannya saat itu, hatiku benar-benar mencelos. Kyungsoo-ku, benar-benar memahamiku seperti aku memahami diriku sendiri.

“A-aku…ti-idak tahu..uu apakah ada yang seperti itu disana, namun kau pasti akan menemukan yang lebih baik, Kyungsoo-ah…” kini tangisanku sudah tidak lagi bersuara.

“Shireo, aku hanya ingin Baekhyun-ku…” Ujarnya pelan, ia letakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipiku.

Lalu bibir kami saling bertemu, mengecup lembut.

“Saranghae, jeongmal saranghae…” ujarku.

“Nadoo…” balasnya.

 

Lalu setelah itu, Kyungsoo benar-benar pergi meninggalkan kenangan masa kecil kita berdua. Aku dan ia tidak pernah tumbuh dewasa bersama seperti yang kami impikan sejak kecil. Namun aku selalu berjanji akan sabar menantinya, karena suatu saat ia akan pulang dan cinta kami bisa tumbuh kembali.

 

Hanya saja,

Kata-kata atau janji tidak selamanya bisa terpenuhi.

 

Jarak, waktu, dan perbedaan ruang membuat kami tak bisa saling mencintai seperti dulu lagi. Mulai 7 tahun masa perpisahan kami, sudah tidak ada lagi yang namanya saling memberi kabar. Kyungsoo menghilang begitu saja.

Dan ketika aku mulai tumbuh dewasa, aku juga mulai banyak mengenal orang-orang baru dalam hidupku. Terlebih, ketika usiaku genap 20 tahun, aku menemukan seseorang yang istimewa di hidupku. Seseorang ini bukanlah orang biasa, tetapi seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta dan membuatku sanggup menukar nyawaku untuk bisa bersamanya.

 

Seseorang itulah yang akan aku temui malam ini.

Seseorang yang awalnya sangat aku benci, yang aku pikir telah mampu merengut memori Kyungsoo dalam isi kepalaku. Aku benci harus menerima kenyataan bahwa aku terpesona padanya sejak pandangan pertama. Aku benci harus menerima kenyataan bahwa wajahnya adalah pahatan maha sempurna yang Tuhan pernah ciptakan. Aku benci ia terus-terus mengangguku dengan senyumnya. Aku benci mencium harum nafasnya ketika bicara, yang bagaikan bunga sedang bersemi.

 

Pertemuan dengannya pertama kali ialah di sebuah stasiun kereta api…

 

“Hei! Hei!” seorang namja melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.

Aku sadar namun tidak sadar juga, seperti berada dalam mimpi namun sadar bahwa hanya sedang tertidur. Lalu tiba-tiba saja tubuhku ditarik hingga terpental ke belakang. Aku terjatuh menindih seseorang, kurasa ialah yang menarikku.

“KAU INGIN MATI? 1 METER SAJA KAU AKAN MAJU LAGI, MAKA KEPALAMU SUDAH TERPISAH KARENA KERETA YANG LEWAT!”

“Hah? Apa?” sesaat setelah aku mengucapkan kata itu, semua tiba-tiba gelap dan aku benar-benar tak sadar.

 

Ketika ku membuka mata, semua yang kulihat hanyalah putih. Dinding-dinding putih, dan orang-orang berbaju putih.

“Nah, ia sudah sadar sekarang.”

“Dimana ini?”

“Di rumah sakit pabo namja, pabo gila!”

“Chanyeol-ssi, jangan kasar begitu pada temanmu dia baru saja pulih benar. Sudah ya, saya permisi, selanjutnya tolong tebus obatnya di apotek. Dan Baekhyun-ssi, gips yang ada di tanganmu sudah bisa dibuka seminggu lagi, itu hanya retak ringan tidak perlu khawatir.”

“Ah, nee dok! Kamsahamida.” Balas si namja dengan suara berat.

“Dokter? Apakah ini di rumah sakit?” aku gerak-gerakan kepalaku yang terasa berat. Dan aku juga merasakan tangan sebelah kiriku digips.

“Ya ini di rumah sakit tadi kau nyaris kehilangan nyawamu jika saja aku tidak menarik tubuhmu. Namamu benar Byun Baekhyun?”

 

Ah, aku baru ingat sekarang namja ini yang menarik tubuhku di stasiun tadi. Oh, rupanya aku sempat pingsan dan kini ia membawaku ke rumah sakit.

 

“Mian, tadi sepulang sekolah kepalaku benar-benar berat sepertinya vertigoku kambuh.”

“Ya, dokter itu sudah menjelaskan bahwa kau memiliki penyakit vertigo yang tidak bisa diduga datangnya.”

“Kamsahamida ya sudah menolongku.”

“Karena kau manis maka kutolong.” Jawabnya spontan.

“Ah ne?”

“Pabo! Kau tidak menanyai siapa namaku sih?” sungutnya.

 

Aku tertawa dalam hati melihat kelakuan si penyelawat nyawaku. Ia tampan, memiliki postur yang tinggi, dan memiliki satu lesung pipi.

 

“Memangnya siapa namamu?”

“Mau tahu aja apa mau tahu banget? Serius dong nanyanya!” jawabnya dengan ekspresi yang menjengkelkan.

“Tuan yang terhormat, bolehkah hamba tahu nama Tuan?” aku sudah mulai mengira namja di hadapanku ini namja gila.

“Hahaha! Good! Namaku Park Chanyeol, kau bisa panggil aku Chanyeol saja. Dan ini nomor teleponku.” Ujarnya seraya mulai menulisi sesuatu di gips tanganku, namun aku tidak bisa langsung membaca apa tulisannya. Sampai seminggu setelahnya, aku membuka gipsku dan membaca tulisan yang ditulis namja bernama Chanyeol itu.

 

“No teleponku, awas jika tidak menelponku kuanggap kau namja sok jual mahal yang tak tahu diri sudah ditolong! 083239xxx”

“28 April 2010, di musim semi…pertama kalinya aku dan Baekhyun bertemu. Aku menolongnya dari sebuah kereta api. Mian, tidak memegangi tanganmu sehingga kau harus di gips.”

Ps: Sampai bertemu lagi –PC-

 

 

Begitulah awal pertemuanku dengannya, ia penyelamat jiwaku, namun ia tidak bisa dikatakan malaikat bersayap nan baik hati. Oh big no! Lihat saja omongannya yang cenderung kasar dan urakkan. Tetapi saat itu juga aku langsung menelponnya dan mentraktirnya makan karena kebetulan aku juga sedang ulangtahun.

“HAH? KAU INGIN MENGUNDANGKU MAKAN KARENA ULANGTAHUN?”

“Nee..wae? sekalian ingin mengucapkan terimakasih!” balasku.

“PABO GILA! AKU TIDAK PUNYA SESUATU UNTUK DIJADIKAN KADO UNTUKMU! PAYAH KENAPA MENELPONKU BARU SEKARANG?”

Aaaah, nyaris putus asa rasanya berbicara dengan dia yang selain suka teriak-teriak, juga apa-apa selalu memarahi. Bayangkan saja ia yang meminta ditelpon tetapi setelah aku menelponnya malah dimarahi seperti itu.

 

“YA! Siapa bilang kau harus bawa kado? Kau pikir aku mengundangmu ke pesta ulangtahun anak kecil! Kajja aku tunggu di stasiun tempat kita pertama kali bertemu.”

KREK!

Kuputuskan saja teleponnya secara sepihak, tidak kupedulikan dia mulai berteriak-teriak lagi.

 

 

**

 

Kakiku masih melangkah mengarah ke rumahnya, entah mengapa sangat lambat untuk tiba disana. Selama perjalanan ini terekam kembali memori-memori itu, antara aku, Kyungsoo, dan belahan jiwaku, Park Chanyeol.

 

Takdir memang aku dipertemukan Chanyeol dan menemukan fakta bahwa aku satu kampus dengannya. Hubungan kami pun berlanjut semakin dekat, yang awalnya teman menjadi kekasih. Ya, Chanyeol resmi menyatakan cintanya padaku sejak 5 bulan setelah kejadian di stasiun itu.

Awalnya aku habis-habisan menghindari perhatiannya, karena aku masih memikirkan Kyungsoo di Amerika sana. Terlebih eomma dan appa selalu mengingatkanku untuk tidak berpacaran dengan siapapun karena bagaimanapun aku tetap akan menikah dengan Kyungsoo.

 

Namun, cinta dari Park Chanyeol tidak bisa semudah itu dihindari. Pertama, ia adalah namja paling populer di kampus karena ketampanan dan kejeniusannya bermain gitar. Kedua, ia adalah anak salah seorang pimpinan kampus. Siapa yang tidak tersihir oleh kedua faktor menjanjikan itu? Namun, semua hati pemuja Chanyeol harus patah karena dia telah memilihku, menjadi kekasihnya. Aku bisa apa? Aku Byun Baekhyun yang sejak kecil adalah seseorang yang rapuh, tidak terkenal, penyendiri, mendadak mendapat perhatian dari seorang namja yang bisa dikatakan gila dalam menaklukan hatiku.

 

“Siapa suruh kau manis?” jawabnya enteng suatu ketika saat aku menanyainya mengapa aku harus jadian dengannya.

“YA!! Tetapi aku belum menerima cintamu, bagaimana kau bisa memutuskan itu sendiri?”

“Itu sih terserah kamu, kalau menurutku BAEKHYUN adalah milikku sejak aku menyelematkanmu di stasiun itu.” Ia kembali mengungkit soal kepahlawanannya ketika menyelamatkanku.

“Jika tidak ikhlas kenapa harus menolongku?” rengekku yang sudah kehabisan tenaga dari tadi berdebat dengannya karena pagi-pagi sekali ia menjemputku ke rumah dan memproklamirkan bahwa kita telah jadian dengan eomma dan appa. Untung saja aku mampu membekap mulutnya sehingga eomma dan appa tidak jadi tahu. Bisa mati aku kalau eomma dan appa mengetahui aku berpacaran dengan namja tengik ini.

 

“Husst! Sejak pagi Baekki-ku kenapa berisik ya? Kau sengaja ya ingin semua anak kampus ini tahu bahwa kita telah jadian hari ini?” tanyanya dengan tampang ingin dilempar sepatu.

“ANDWE!! Itu hanya harapanmu! Aku belum memutuskan apa-ap…”

CHU~~

 

Dia…

Dia mencium bibirku.

Bibirnya tepat mendarat di bibirku.

Tidak hanya bersentuhan saja, namun bibir bawahnya memaksa lembut bibir atasku untuk terangkat memberi ruang agar menyesap lebih dalam.

“Ini balasan karena tadi pagi membekap mulutku…” ucapnya di sela-sela ciuman sepihak ini.

 

“AAAAKKKK!!! LIHAT BAEKHYUN DAN CHANYEOL BERCIUMAN DI DALAM KELAS!!!” Teriak beberapa siswa yang melihat mengarah kami.

Aku mencoba melepaskan pertautan bibirnya di bibirku, namun usahaku sia-sia karena tangan kekarnya mendorong pundakku untuk tidak bisa bergerak. Akhirnya terpaksa kuinjak kakinya sekencang-kencangnya, baru ia berhenti.
“ADAWWW!!!” Jeritnya dan aku langsung kabur melarikan diri.

Betapa malunya diriku saat itu, dicium di muka umum seperti itu. Mau jadi apa aku jika semua fans Chanyeol memburuku karena telah mengetahui ini. Aku pun mulai menangis meneriakki nama Kyungsoo secara random, tidak tahu mengapa saat itu aku merasa bersalah kepadanya, karena di dalam hatiku yang paling dalam sebenarnya aku senang Chanyeol menciumku.

“Mianhe Kyungsoo-ah, aku jatuh cinta pada namja lain…” lirihku.

 

**

 

Lambat laun akhirnya aku menerima fakta bahwa aku dan Chanyeol telah resmi berpacaran. Bagaimana bisa aku menolak jika ia memaksa seperti begitu. Kemanapun dia pergi, dia selalu mengajakku, entah itu ke kantin, main band, berenang, atau kemana saja kecuali dia kularang telak untuk bermain ke rumahku.

Aku pun berubah menjadi Baekhyun yang bisa berjalan dengan kepala tidak tertunduk sekarang. Ya, sejak ada Chanyeol yang selalu di sisiku, langkah kakiku selalu ringan melangkah. Langkah kakiku ringan jika berjalan dari kelas menuju kafetaria, itu tak lain tak bukan karena aku menggandeng tangan orang paling sempurna di seantero kampus ini. Semua mata tertuju memandangku iri, namun aku menikmati itu semua, menyenangkan sekali rasanya.

Dan perasaanku yang tertinggal untuk Kyungsoo perlahan telah sirna, dan benar-benar menghilang pada suatu malam. Di sebuah peristiwa besar dalam hidupku yang terjadi. Demi apapun aku tidak akan pernah lupa peristiwa tersebut.

 

Semua bermula ketika Chanyeol tengah merengek kepadaku meminta izin agar ia bisa bermain ke rumahku.

“Jebal, Baekki aku ingin bermain ke rumahmu, ke kamarmu…aku ingin manja-manja denganmu, apa kau tidak akan rindu jika seminggu kedepan aku berlibur ke Hawaii?” rengeknya seperti anak kecil minta permen.

“Andwe, tidak boleh Yeol. Kau kan tahu kita backstreet.”

“Tetapi aku ingin pacaran denganmu sebelum seminggu kita berpisah…” Chanyeol mulai menggigit bahuku gemas.

“Ahh, Yeol…mianhe tidak bisa.”

“Hmm!! Baiklah!” Ujarnya, lalu setelah itu kulihat ia seperti menelpon seseorang dan selesai menelpon ia tersenyum senang ke arahku.

“Antarkan aku berenang yuk Baekki!”

“Sekarang?”

“Iyalah sekarang, kajja!!!” Chanyeol pun menyeretku, mengajakku pergi dengan mobilnya.

Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas karena tempat yang Chanyeol ajak sangatlah jauh rupanya. Dan ketika aku terbangun, aku sudah ada di atas sebuah kasur empuk dengan seprai putih. Di dalam kamar yang tidak aku kenali.

 

“Yeol?? Yeool? Yeolliee? Dimana kau?” teriakku memanggil Chanyeol yang tidak ada dimana-mana.

 

Lalu samar-samar kudengar suara gemericik air dari arah belakang. Ketika aku lihat ternyata di belakang ada sebuah ruangan dengan kolam renang di dalamnya, disitu aku akhirnya menemukan Chanyeol nampak sedang berenang.

 

“Heh? Baekki sudah bangun rupanya.”

“Hm..kau yang menggendongku ya? kita dimana sekarang, Yeol?”

“Iya, tadi aku yang menggendongmu dan karena wajah tidurmu sangat manis aku juga sempat menciumi bibirmu. Saranghae Baekki-ah…” ujarnya santai.

Aku dengan spontan langsung melempar sandal yang kupakai ke arah kepalanya.

 

“Oh ya, ini villaku…villa eomma dan appa sih. Karena Baekki tidak mengizinkan aku ke rumahnya maka kita pacaran disini saja ya?” ucapnya lagi.

Aku tiba-tiba jadi bergidik ngeri sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Chanyeol dengan kata ‘pacaran’?

 

“Baekki, ayo turun disini, berenang bersamaku?”

“Shireo, aku tidak bawa baju ganti!”

“YA!! PABO berenang sepertiku tidak pake baju kan bisa!” sungutnya dalam kolam renang.

“Shireo…”

Lalu tiba-tiba Chanyeol keluar dari kolam renang dan…

DEG!!!

Chanyeol bertelanjang dada…ia hanya mengenakan bawahannya dan itu juga sudah menerawang karena basah merembes air.

Spontan aku menutup kedua mataku dengan tangan melihat, shock pemandangan yang tiba-tiba ini. Ini pertama kalinya aku menyaksikan Chanyeol dengan penampilan seperti itu, harus kuakui memang seksi dan menggoda namun aku tidak cukup kuat melihatnya.

 

Ketika perlahan ku membuka mataku karena tiba-tiba suasana menjadi hening, aku lihat Chanyeol sudah tidak ada di tempatnya. Sepi.

Dan tiba-tiba saja

Grepp

Chanyeol memelukku dari belakang, lengannya melingkar di dadaku.

“Ayo cari siapa?” bisiknya persis di telingaku.

“JANGAN MENGANGGETKANKU YEOL!” jantungku serasa mau copot karena saking kagetnya.

“Berenang bersamaku, ya? Jebal Baekki…”

“Yeol, kau tahu karena kau memelukku, bajuku lama kelamaan akan menjadi basah. Bisa tidak kau pintar sedikit Yeol jadi manusia?”

“Bisa kok…” balasnya.

 

“YA!! KAU MAU APA?” aku berteriak karena Chanyeol sudah mulai membuka kancing-kancing bajuku.

“Ya supaya tidak basah maka harus dibuka kan? PABO!”

 

Aku memberontak ditelanjangi seperti ini, ah tetapi aku bisa apa melawan badan besarnya?

Jadilah kini aku sama-sama dengannya, bertelanjang dada. Aku masih merasa canggung dengan keadaan seperti ini jadi aku langsung menceburkan diriku ke kolam saja supaya Chanyeol berhenti memandangi tubuhku dengan tatapan intensnya.

 

“Yah, pacarku jangan mati bunuh diri dong….” ujarnya dan langsung menyusul menceburkan dirinya.

 

“Aku suka Baekhyun, apa Baekhyun suka aku?” tanyanya.

“Pabo, malas ah jawabnya.”

“Siniiii aku peluk duluuuu…”

Wajah kami berdua saling berhadapan, tangannya memelukku dengan posesifnya. Mungkin karena terhanyut suasana, aku juga membalas pelukannya. Kulingkarkan tanganku dipinggangnya.

“Apa Baekhyun menyesal jadian denganku?”

“Ani…”

“Apa Baekhyun membenciku?”

“Ani…”

“Apa Baekhyun keberatan kita melanjutkan ini di kamar?”

“An…”

“APA!!!??” Aku tersadar ini jebakan dari si namja tengik.

“Kuterima jawabanmu, kita lanjutkan di kamar….”

“Aaaaakk, lepaskan Yeol aku bisa teriak.”

“Teriak saja sesukamu tidak ada yang akan mendengar.”

Chanyeol kini sudah menggendongku, membawaku dari kolam renang menuju ke sebuah ruangan sepertinya kamar tidur, namun kamar yang lebih luas ketimbang kamar yang tadi pertama kali aku terbangun.

 

Di hempaskannya dengan lembut tubuhku di atas sebuah kasur. Tanpa berkata-kata lagi Chanyeol menindih tubuhku dan memandangiku dengan wajah penuh pesonanya.

Damn! Mengapa wajah ini begitu tampan dan membuatku menjadi pasrah saja. Aku mengutukki diriku sendiri karena tidak mampu melarikan diri karena ada rasa enggan.

Chanyeol membelai rambutku, keningku. Mengusap mataku, pipiku, hidungku, dan bibirku.

“Aku menyukai semua yang ada di wajah Baekki…kau manis sekali, kau berhasil membuatku tergila-gila padamu.” Chanyeol mengucapkannya dengan mata penuh kasih sayang, yang aku tahu benar itu hanya buatku seorang.

“Yeol…” aku menyentuh pipinya.

 

CHU~~

 

Chanyeol mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Detik pertama aku diam terpaku, detik kedua Chanyeol membuka mulutku dengan bibirnya. Detik ketiga Chanyeol menghisap pelan bibir atasku. Detik keempat aku membalas menghisap bibir bawah Chanyeol, menandakan aku mengizinkannya berbuat lebih. Dan benar saja, Chanyeol langsung menyambut dengan semakin intens menyiumiku.

Karena posisi kita yang saling menindih, selagi bibir kita saling menyesap, punyaku yang ada di bawah dan punya Chanyeol juga semakin tergesek bersama. Dan itu membuat sensasi tersendiri selain kenikmatan atas ciuman ini.

 

“Aaahh…ah…”

Damn! Mengapa jadi aku yang terlalu berisik memperlihatkan aku terangsang?

Chanyeol pun menyadari bahasa tubuhku yang menjadi menggelinjang seperti ini.

 

“Kekeke~ Baekhyun kecilku ternyata cepat sekali horny?” ujarnya sukses membuatku malu.

 

Kegilaanku semakin menjadi-menjadi tatkala Chanyeol mengigit-gigit leherku, bahuku. Aku balas perlakuan Chanyeol dengan menarik rambutnya, pertanda aku semakin tidak kuasa menerima kenikmatan yang ia berikan. Dan benar-benar seolah terbang ketika Chanyeol turun ke bawahku, menuju juniorku dan melakukan aksinya disana.

 

“AAAAAHHH, NNGHHHHH…Yeol…aku…” raungku.

 

Melalui malam ini bersama, melenguh bersama, dan menggelinjang bersama. Aku benar-benar terpedaya oleh namja ini, aku bersumpah pada diriku sendiri aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Kyungsoo pun benar-benar hilang selamanya dari memoriku, dan hatiku.

 

Selesai mencapai kenikmatan bersama, aku yang kini berada di atas tubuh Chanyeol menghempaskan kepalaku di dadanya. Chanyeol dengan sisa tenaganya mencium pucuk kepalaku sekilas.

“Saranghae, Baekki…”

“Nado saranghae, Yeol…”

“Kubunuh kau Baekki kalau kau mengkhianatiku atau meninggalkanku.” Ancamnya dengan nada bercanda.

“Kubunuh diriku sendiri jika aku begitu.” Balasku.

Lalu kami berpelukan semakin erat, sangat lama…

 

**

 

Sejak malam itu, aku hanya menyerahkan hati dan jiwaku hanya untuk Chanyeol. Aku tidak akan bisa hidup tanpa dirinya, sebaliknya Chanyeol pun begitu. Hingga pada akhirnya tepat dua tahun aku dan Chanyeol menjalin cinta, Kyungsoo pulang dari Amerika.

Ia tumbuh menjadi namja yang tampan, masih terdapat wajah Kyungsoo kecil yang kukenal hingga kini.

Ia bilang padaku bahwa ia hampir mati tidak menghubungiku karena ia malu bahwa sebentar lagi akan menikah denganku.

 

“Aku sengaja membuat kita saling merindu, Baekki…itu berguna juga untuk mengetes apakah cinta kita masih bertahan meski tidak ada komunikasi.” Ujarnya ketika ia sudah ada di Korea.

“Ah nee?”

“Ya! Dan jawabannya adalah…aku masih mencintai Baekki sama seperti dulu! Putusnya komunikasi tidak membuat cintaku luntur. Bagaimana dengan Baekki?” tanyanya, ada sorot mata bahagia ketika ia mengucapkan kalimat cinta padaku.

 

Tuhan, aku harus jawab apa? Apakah aku harus bilang padanya bahwa aku tidak lagi menyimpan rasa yang sama untuknya? Bahwa sudah ada namja lain yang posisinya tertancap kuat di relung hatiku kini. Jika aku berbohong dengan menjawab pura-pura aku masih mencintainya maka itu sama saja dengan menyakiti Chanyeol. Dan aku tidak mau menyakiti orang yang paling aku cintai dengan segenap jiwa dan ragaku itu.

 

“Mianhe Kyungsoo…aku tidak lagi memiliki rasa yang sama…”

Kyungsoo nampak kaget mendengar pernyataanku. Mata besarnya mulai menampakkan kristal-kristal bening yang mulai retak.

“Wae? Mengapa Baekki???”

“Karena…aku mencintai namja lain, dan namja itu juga sangat mencintaiku.”

“Kau benar-benar tega Baekhyun!!!” tangisnya pecah, lalu ia berlari meninggalkanku.

Siapa sangka ternyata Kyungsoo langsung mengadu kepada eommanya akan peristiwa itu. Sontak eommanya juga langsung mengadu kepada eommaku. Habislah riwayatku setelah itu.

Eomma dan appa meminta pernikahan dilaksanakan minggu ini juga. Aku tidak bisa membantah tidak bisa juga mengiyakan.

 

Chanyeol lah orang pertama yang kuberitahu akan rencana pernikahanku. Awalnya ia hanya menanggapiku sebagai bercandaan, baru sampai ketika aku menangis tersedu-sedu barulah ia percaya.

 

**

 

Aku selesaikan lamunan panjangku atas flashback-flashback karena aku kini sudah sampai di tempat yang aku tuju.

 

Dan sekarang aku sudah berdiri di depan rumahnya. Hujan yang turun lumayan deras membasahi sekujur tubuhku.

 

 

“BAEKHYUN?” Kagetnya melihat aku basah kuyup dan dengan muka kuyu.

Kulirik sekilas wajah Chanyeol pun sama halnya denganku, kuyu dan matanya sembap. Ia pastilah menderita mengetahui aku akan menikah dengan orang lain besok hari.

Ya, besok hari…

Seminggu ini eomma dan appa tidak membiarkanku boleh keluar. Pernikahanku sudah ditetapkan besok hari, dan hari ini aku dan Kyungsoo berniat mengambil cincin yang selesai dipesan. Namun, di tengah perjalanan aku nekat melarikan diri, berlari menemui Chanyeol.

 

“YEOOOOLLLL!!!” Teriakku frustasi dan berlari memeluknya. Aku luapkan semua perasaanku kini di dadanya.

“Pabo…mengapa berlari di tengah hujan malam-malam begini. Seorang pengantin tidak boleh kelihatan jelek di depan tamunya…”

PLAKK!!

Tega sekali Chanyeol berucap demikian. Tak tahukah bahwa perih hati ini mendengarnya berbicara seperti itu.

“Tega sekali kamu, Yeol?” aku melepaskan pelukannya.

“Lalu kita mau melakukan apa?” tanya Chanyeol merenung. Wajahnya mengeras menahan gejolak hatinya. Aku merasa bersalah menamparnya, seharusnya aku tahu ia juga sama menderitanya denganku.

“Bawa aku lari, Yeol…” pintaku.

Chanyeol terdiam, namun matanya tak lepas memandangiku seolah ketakutan aku akan menghilang lagi dari edar pandangannya.

“Aku tidak bisa berpikir seminggu ini, Baekki. Sejak kau bilang kau akan menikah dengan namja lain otakku saat itu juga langsung berhenti berpikir.”

“Aku tidak bisa menikah besok dengan orang lain, Yeol…jebal, bawa aku pergi.”

 

Chanyeol akhirnya menggandeng tanganku dan kita berdua masuk ke dalam mobilnya.

“Kita mau kemana Yeol?” tanyaku masih segugukan dalam tangis tak kunjung mereda.

Namun Chanyeol diam saja tidak menjawab pertanyaanku, aku pun hanya pasrah kemanapun Chanyeol membawaku aku tidak mengapa asal bersama dengannya.

Aku hanya memejamkan mata, karena saking lelahnya terus-terusan menangis.

 

30 menit kemudian berlalu…

 

“Yeol? Ini kan rumahku?”

Chanyeol diam tak menjawab.

“Yeol, mau apa ke rumahku?”

Masih tidak ada jawaban.

“PARK CHANYEOL!!! Kau ingin aku menikah besok dengan Kyungsoo?” teriakku.

“Aku akan berbicara dengan orangtuamu.”

“Kau gila!”

 

Chanyeol pun berhasil menyeretku hingga masuk ke dalam rumah. Sesampainya disana eomma dan appa serta ahjussi dan ahjumma juga Kyungsoo sudah menyambut.

 

PLAKKK

Appa menampar pipiku keras, hingga kulihat eomma menangis.

“Aboji, tolong jangan sakiti Baekhyun,” lirih Chanyeol.

Appa yang mendengar Chanyeol angkat suara langsung mengancang-ancang ingin menampar Chanyeol juga.

“APPAA!!!! Mengapa kau tega akan memisahkan kami? Apa salah kami appa padamu?” tangisku sudah kembali tumpah ruah.

“Baekhyun, kau yang tega mencoreng nama appa di depan mereka.” Ucap Appa sembari menunjuk keluarga Kyungsoo.

“Aku mencintai Chanyeol, appa…eomma…lebih dari apapun.”

“Aku juga sangat mencintai Baekhyun, aboji, omoni…”

Gyut    ~

Chanyeol mengambil tanganku dan menggenggamnya kuat-kuat.

“Tapi kau sudah dijodohkan dengan uri Kyungsoo sejak kau kecil, apa kau lupa kenanganmu dengannya?” kini eomma mencoba lembut berbicara kepadaku.

 

Ku menatap Kyungsoo dan ia juga tengah menatapku dengan wajah sedihnya.

 

“Aku tidak akan pernah lupa, atas apa yang terjadi denganku dan Kyungsoo di masa lalu. Itu akan tetap tersimpan rapih di hatiku. Hanya saja, dengan namja yang ada di sebelahku ini, aku tidak hanya memandang ke masa lalu, tetapi dengannya aku melihat masa depanku. Jebal eomma dan appa mengerti,”

 

Hening…

Tidak ada satupun yang berbicara.

Aku benar-benar akan pingsan rasanya karena vertigoku sepertinya datang secara perlahan. Jika tidak ada tangan Chanyeol yang memegangku dengan sepenuh hatinya, mungkin aku tidak bisa berdiri sekuat ini.

 

“Ahjumma, ahjussi…Baekhyun benar…Aku dan ia memang tidak bisa menikah dengan keadaan seperti ini. Ini salahku karena membiarkan Baekhyun tumbuh seorang diri, aku tahu ia masih mencintaiku tepat 2 tahun yang lalu. Ia bahkan tidak membuka hatinya kepada siapa-siapa selain ini karena setia menungguku. Namun, aku tidak kunjung datang…hingga Chanyeol yang hadir terlebih dahulu mengisi hati Baekhyun. Chanyeol sangat mencintai Baekhyun, ahjussi, ahjumma. Bahkan jauh lebih besar ketimbang cintaku.” Kyungsoo akhirnya membuka suara di tengah heningnya suasana.

 

“Kyungsoo?” gumamku.

 

“Nee…aku rasa kita masih bisa menjadi saudara bukan?” Kyungsoo menghampiriku dan memelukku.

 

“Tentu saja, aku saudaramu Kyungsoo-ah…” balasku.

 

“Aku membaca buku harianmu, Baekki. Mianhe, telah membuatmu menunggu…” bisik Kyungsoo.

“Mian…” balasku syahdu.

 

“Eomma, appa…ahjussi, ahjumma…aku menerima ini semua, apa kalian juga? Baekhyun berhak bahagia bersama Chanyeol dengan begitu aku juga akan bahagia.” Kyungsoo nampak meluluhkan hati eomma dan appaku.

 

Lalu semua mengangguk, juga menitikkan airmata, terharu dengan ketegaran hati Kyungsoo.

 

Secara bergantian aku memandangi wajah eomma, appa, dan Kyungsoo.

Namun rasanya kepalaku semakin kencang berputar. Lalu tiba-tiba semua menjadi gelap.

Yang kuingat hanya suara jerit panjang Chanyeol yang kaget tanganku terlepas dari genggaman tangannya.

 

**

 

Perlahan dengan takut-takut aku membuka mata, takut jika guncangan vertigo itu hadir kembali. Namun ketika mataku sempurna terbuka, hal pertama yang aku sadari adalah ada tangan yang menggenggam tanganku.

Chanyeol rupanya, dan ia sedang tertidur di sisi ranjangku.

“Yeol…” lirihku.

“Hhh,,Baekhyun kau sudah sadar?” Chanyeol bangun dari tidurnya.

“Apa ini di rumah sakit lagi?” tanyaku.

“Nee, kau pingsan lagi semalam.”

“Apa kau menangkap tubuhku?” aku lihat kedua tanganku tidak ada yang di gips.

“Iya sayang, aku tidak akan membuatmu terluka lagi.” Balasnya mengecup mataku.

“Gips itu masih kusimpan, Yeol…”

“Itu benda berharga kita ya?”

“Nee…”

 

“Baekki-ah, neomu gomawo…” ucapnya lagi.

“Untuk?”

“Mengizinkanku hadir di hidupmu, aku tidak bisa membayangkan aku kalah cepat 2 tahun dari Kyungsoo. Atau bahkan sama sekali tidak pernah kenal denganmu.” Ucapnya tulus.

“Kau harus percaya takdir, Park Chanyeol. Takdir yang membawaku padamu, dan membawamu padaku.”

 

“Saranghae…” Chanyeol mengecup punggung tanganku dengan lembut.

 

Aku mencintaimu juga Park Chanyeol, dan itulah takdirku…

 

“I believe that two people are connected at the heart, and it doesn’t matter what you do, or who you are or where you live; there are no boundaries or barriers if two people are destined to be together.”

 

THE END      

18 responses »

  1. Aihhh so sweet ^3^
    Awalnya sempet g kebayang klo baeksoo pacaran ^^a
    Haha yang penting chanbaek udah bersatu aja
    Lagian chanyeol nya juga kayanya perhatian banget sama baekhyun
    Jadi wajar klo baekhyun cinta banget sama chanyeol

    D tunggu ff lainnya yah authornim ^^v

  2. AAaaaa #jeburindirikekolam
    oo romantisnyaaa ChanBaek OMG !!!!
    #pelukD.o cup cup naakk jngan nangis dio ank punter n baik g boleh nangiss ,,hahaha
    Kesian Dio ne? kurang cepet, wew sal h sendiri ga kasih kabr *wewmalahmarah* ,Yeol manis bangettt euhhh , co cweet
    ( ̄ε( ̄)
    dduh poko ya Baek just for Baek okayyyyh. (*¯︶¯*)♥♥(*¯︶¯*)
    good job ajja jadi Oneshot ,tapi thor sy paling suka genre ff yg menyayattt,, menurut sy konflik nya gdaaa, sedikit gda graget nyaa,,…
    aaahhhhh

  3. iri >.<
    romantis.. cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan

    doh kapan gue punya pacar kayak Yeol gitu xD

    Kyungsoo-ya jangan sedih aku masih disini♥
    wks xD

  4. Hueeee gue nangis gaje (?) baca ff ini T^T bagus banget…. Terhura ^^,
    Keseluruhan Udah keren banget, cuman gue bingung, D.O sama Baek kan sama2 Uke kenapa mereka dijodohin? O_O *ketahuan fujoshi akut #plakk daebak thor! Bikin lagi ff baekyeol ya…. Tapi jangan ada NC nya ^^ (y) jjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s